Menu

Mode Gelap
Ustadz Darmawansyah Putra : Hablum Minannas Harus Dibangun Sejak Usia Dini Program SEHATI 2026 Bantu UMKM Kepri Urus Sertifikasi Halal, Pedagang Kuliner Tanjungpinang Rasakan Manfaatnya Polisi Ungkap Sindikat Curanmor Batam, Motor Korban Mulai Dikembalikan ke Pemilik Dentuman Meriam Buluh Meriahkan Ramadan di Siak, Puluhan Peserta Ramaikan Lomba 18 KUB Desa Gemuruh Dapat Bantuan Sembako Dari PT Timbak TBK Jelang Lebaran Idul Fitri 1447 H, Lurah Bersama RT RW Pasang Lampu Elektrik dan Pelite di Sepanjang Jalan

Riau

Sudah Waktunya Melayu Bangkit, Bukan Hanya Sebagai Kenangan Sejarah

badge-check


					Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Melayu adalah sebuah peradaban yang kaya dengan warisan budaya, nilai, dan sejarah yang panjang. Dari era Kesultanan Melaka hingga jejak-jejak kebudayaan di berbagai penjuru Nusantara, Melayu telah memainkan peran penting dalam perkembangan sosial, politik, dan ekonomi. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, muncul pertanyaan besar: apakah kebangkitan Melayu hanya akan menjadi nostalgia kejayaan masa lalu, atau dapat diwujudkan kembali dengan pendekatan yang lebih relevan dengan zaman?

Dilihat dari sudut pandang sejarah dan sosial politik, ada kecenderungan bahwa orang Melayu lebih memilih jalan damai dalam menghadapi konflik, bahkan ketika itu berkaitan dengan kepemimpinan di tanah mereka sendiri. Di satu sisi, ini bisa dianggap sebagai sikap yang mengedepankan harmoni dan stabilitas. Namun, di sisi lain, kalau terlalu menghindari konflik, justru bisa berujung pada lunturnya posisi Melayu dalam kepemimpinan, baik di kawasan politik, ekonomi, maupun budaya.

Fenomena ini terlihat di beberapa wilayah Melayu, di mana kelompok lain lebih agresif dalam mengambil peluang, sementara orang Melayu cenderung “menunggu giliran” atau merasa cukup dengan keadaan. Sikap ini sering dikaitkan dengan konsep “adat” dan “budi”, yang menekankan tata krama dan penghormatan terhadap status quo.

Di satu sisi, menjaga keharmonisan adalah nilai luhur yang telah menjadi identitas orang Melayu selama berabad-abad. Di sisi lain, jika sikap ini justru membuat mereka kehilangan kendali atas tanah dan kepemimpinan, apakah masih relevan untuk terus bertahan dengan cara lama?

Zaman sekarang menuntut keseimbangan antara diplomasi dan ketegasan. Kalau hanya menjaga harmoni tanpa keberanian mengambil sikap, maka orang lain yang lebih agresif akan menguasai ruang-ruang strategis. Sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa yang tidak berani bersaing atau hanya mengandalkan warisan budaya tanpa inovasi, pada akhirnya akan terpinggirkan.

Jadi, mungkin sudah saatnya orang Melayu mengembangkan harmoni yang aktif, bukan sekadar pasif. Artinya, orang Melayu tetap bisa mempertahankan nilai-nilai sopan santun dan musyawarah, tapi tanpa mengorbankan kepentingan sendiri. Kalau ada pihak luar yang mengambil alih daerah orang Melayu, maka bukan waktunya hanya diam, melainkan bergerak dengan strategi yang cerdas, bukan sekadar reaktif, tapi juga proaktif dalam membangun kekuatan ekonomi, politik, dan budaya.

Salah satu kunci utama untuk menghidupkan kembali kejayaan Melayu adalah melalui pendidikan. Pendidikan bukan sekadar alat untuk meningkatkan taraf hidup individu, tetapi juga menjadi senjata untuk mempertahankan identitas dan kedaulatan budaya. Sayangnya, banyak masyarakat Melayu yang masih terjebak dalam pola pikir lama bahwa pendidikan hanyalah formalitas, bukan sebagai alat perjuangan untuk meraih posisi strategis dalam berbagai bidang.

Diperlukan transformasi dalam cara berpikir dan cara mendidik generasi muda Melayu. Sistem pendidikan harus mengajarkan tidak hanya keterampilan teknis dan akademik, tetapi juga kesadaran historis, kepemimpinan, dan keberanian berpikir kritis. Kurikulum harus lebih banyak memasukkan kajian budaya Melayu dalam konteks global, sehingga generasi muda memahami warisan mereka tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu.

Budaya Melayu memiliki banyak aspek yang patut dibanggakan, dari sastra, seni, adat istiadat, hingga nilai-nilai sosial yang menjunjung tinggi kehormatan dan kesopanan. Dalam artian, melestarikan budaya tidak berarti hanya mempertahankan tradisi secara statis. Budaya harus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dan tidak sekadar menjadi simbol yang dikenang.

Sebagai contoh, seni sastra dan pertunjukan Melayu dapat diperkenalkan dalam bentuk digital dan modern, seperti melalui film, media sosial, dan platform streaming. Musik dan tari tradisional bisa dikombinasikan dengan unsur-unsur kontemporer agar menarik bagi generasi muda. Begitu juga dengan bahasa Melayu yang harus diperkuat penggunaannya dalam kawasan ilmiah, teknologi, dan bisnis agar tidak sekadar menjadi bahasa seremonial.

Salah satu tantangan terbesar dalam membangkitkan kembali kejayaan Melayu adalah kecenderungan untuk terlalu fokus pada harmoni pasif, menghindari konflik dan mempertahankan status quo tanpa adanya tindakan nyata. Di era modern ini, Melayu harus menerapkan konsep harmoni aktif, yaitu keseimbangan antara menjaga nilai-nilai luhur sambil tetap berani bertindak dan bersaing secara sehat dalam berbagai sektor.

Harmoni aktif dalam pendidikan berarti mendorong generasi muda untuk berani berinovasi dan bersaing, bukan hanya menjadi pengikut. Dalam budaya, harmoni aktif berarti tetap menghormati tradisi sambil mengembangkannya dalam bentuk yang lebih dinamis. Dalam ekonomi dan politik, harmoni aktif berarti membangun komunitas yang kuat dan mandiri tanpa takut menghadapi tantangan global.

Kebangkitan Melayu bukanlah sekadar mengulang kejayaan masa lalu, tetapi membangun masa depan yang lebih kuat berdasarkan ilmu dan kreativitas. Pendidikan harus menjadi fondasi utama untuk mencetak generasi yang sadar akan identitasnya sekaligus siap menghadapi tantangan dunia modern. Budaya harus dilestarikan bukan hanya dalam bentuk warisan, tetapi juga dalam inovasi yang dapat menjangkau masyarakat luas. Dengan menerapkan harmoni aktif, Melayu tidak hanya akan bertahan, tetapi juga kembali menjadi kekuatan yang berpengaruh di kancah global.

Sudah waktunya Melayu bangkit, bukan hanya sebagai kenangan sejarah, tetapi sebagai identitas yang terus berkembang dan berdaya saing dalam dunia yang terus berubah. Hal ini sejalan dengan ucapan yang selalu didengungkan oleh orang Melayau, “takkan Melayu hilang di bumi”. Tinggal orang Melayu mau memilih; terjungkang di tanah sendiri atau berdiri sebagai pemilik tanah ini. Kan gitu?…

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hujan Emas

15 Maret 2026 - 06:16 WIB

Senyum Anak Yatim Warnai Belanja Lebaran Bersama Bupati Afni di Kandis

14 Maret 2026 - 15:03 WIB

Kompang Aib

14 Maret 2026 - 05:50 WIB

PT Bumi Siak Pusako Bagikan Dividen Interim dari Kinerja Tahun Buku 2025

11 Maret 2026 - 13:42 WIB

Rompi Oranye dan Tangan Diborgol di Pagi Pekanbaru, Kepulangan Abdul Wahid Menuju Meja Hijau

11 Maret 2026 - 11:40 WIB

Trending di Pekanbaru