Menu

Mode Gelap
Usai Limbah, SPR MoU dengan Koperasi Bidik Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dan Komuditi Pengan Keren, MoU Terkait Pengelolaan Limbah dengan PT. TMC, SPR dapat 20 Persen Keuntungan untuk PAD Riau Hafizha Rahmadhani Pastikan Pembangunan Sarana Sanitasi dan Air Minum Tepat Sasaran Hotspot Karhutla di Bengkalis Menurun, Terpantau Satu Titik Kategori Medium ASN Muda Ramai Tinggalkan Birokrasi Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 4 Agustus 2026: Tanjungpinang hingga Batam Didominasi Berawan, Natuna dan Anambas Berpotensi Diguyur Hujan

Riau

Cukup! Kini Saatnya Rakyat Bersuara!

badge-check

Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Puisi Hang Kafrawi

Dulu mereka datang membawa senyum
di jalan-jalan desa yang berdebu
menjabat tangan petani tua
mengelus kepala bocah yang kurus dan malu.

Mereka berjanji seperti nabi
akan membawa sejahtera
akan menurunkan harga
akan membangun sekolah di atas tanah yang lama terlupa.

Rakyat percaya…
Karena apa lagi yang bisa dipegang
selain harapan yang dijanjikan
oleh lidah yang lihai memutar fakta menjadi cinta?

Tapi waktu berjalan
dan kamera pun pergi
tersisa hanya lumpur di kehidupan
dan anak-anak tetap belajar dari papan lapuk
di kelas yang dindingnya tembuk olah keserakahan

Sementara mereka duduk di singgasana kaca
di bawah langit ruangan berpendingin
dengan setumpuk berkas proyek
dan daftar konsesi yang tak pernah menyebut nama rakyat

“Kenapa sekolahku tak pernah selesai dibangun, Pak?”
tanya seorang anak kecil yang kini sudah jadi pemuda
yang menganggur dan kehilangan arah
karena ijazahnya tak mampu membeli mimpi

“Kenapa beras makin mahal, Bu?”
teriak seorang ibu di pasar pagi
yang dulu menyumbang suara
tapi kini tak mampu beli sekilo beras

Kita muak!
Muak pada tawa-tawa di ruang rapat
pada pernyataan pers yang terlalu manis
dan pada pidato yang mengutip Pancasila
tapi menindas maknanya

Kita muak!
Pada proyek mercusuar yang tak menyentuh derita rakyat
pada hutan yang ditebang atas nama investasi
dan pada suara rakyat yang diubah jadi data statistik
tanpa pernah benar-benar didengar

Kita bukan boneka demokrasi
Kita bukan angka survei
Kita adalah darah dan daging
yang terinjak oleh sepatu kekuasaan yang licin

Kita tak akan diam
tersebab diam adalah dosa
di tengah derita yang dibiarkan tumbuh seperti jamur

Kita bersuara karena kita cinta.
Cinta pada negeri yang pernah dijanjikan
akan jadi rumah semua bukan hanya istana para raja baru

Di akhir bait ini
izinkan kami menulis sejarah baru
bukan dengan tinta
tapi dengan luka yang jadi bara
dan suara yang akhirnya tak bisa dibungkam lagi

Cukup! Kini saatnya rakyat bersuara!

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Siak Terima Revitalisasi Sekolah Rp61 Miliar Lebih, Bupati Afni: Jangan Ada Fee dan Pungli!

3 Agustus 2026 - 19:35 WIB

Surbekti: Mandat Agrinas Representasi Keputusan Negara, Penguasaan Lahan Eks PT SSS Tak Bisa Ditolak

3 Agustus 2026 - 19:28 WIB

Bupati Afni Hadiri Pelantikan IDI, TPP Dokter Siak Masih yang Tertinggi

2 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Belah Rumah

2 Agustus 2026 - 05:47 WIB

Sabut Batu

1 Agustus 2026 - 07:55 WIB

Trending di Minda