Menu

Mode Gelap
Sekda Ronny Kartika Paparkan Indeks Profesionalitas ASN pada Latsar CPNS Bintan Angkatan XXI Pencarian Korban Lompat dari Kapal Dumai Line Dihentikan? Pengembangan Kasus, Polsek Bukit Batu Ringkus Dua Pengedar Sabu di Dumai Kemnaker Gandeng TikTok, Perkuat Talenta Ekonomi Digital dan Buka Peluang Kerja Baru Komitmen Tanpa Kompromi: Polres Bengkalis Gencarkan Perang Narkoba, Desa Jangkang Jadi Pelopor Kampung Bersih dari Narkoba Bupati Siak Buka Pelatihan Guru RA, Tekankan Pendidikan Berbasis Cinta

Pekanbaru

Wamenperin: Sejak Zaman Soekarno Riau Menjadi Provinsi Istimewa

badge-check


					Abdul Wahid, Gubernur Riau. F: Ist Perbesar

Abdul Wahid, Gubernur Riau. F: Ist

RiauKepri.com PEKANBARU- Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza mengenal Provinsi Riau bukan saat ini, namun jauh hari dia sudah tau bumi Melayu Lancang ini adalah sebuah provinsi yang kaya, bahkan sejak negara ini dipimpin Soekarno menjadikan Riau sebagai provinsi yang cukup istimewa. Terutama untuk industri pengolahan atau manufaktur.

Terkait keistimawaan Riau itu, Wamenperin Faisol Riza ingin Kementrian Perindustrian dan Riau bekerja sama untuk kembali mengangkat Riau jadi kawasan unggulan industri pengolahan di tanah air ini. Hal ini dikatakannya menyusul kunjungan kerja Gubernur Riau (Gubri), Abdul Wahid, Rabu pagi (7/5/2025), di Jakarta yang meminta dukungan penuh agar Kementerian Perindustrian mendorong hilirisasi industri di Riau, khususnya sektor sawit dan migas yang menjadi andalan daerah.

Dijelaskan Wamenperin Faisol Riza, bahwa Kemenperin RI berkomitmen untuk menindaklanjuti berbagai usulan yang disampaikan Gubernur Wahid. Pembahasan ini, katanya, akan terus berlanjut antara Pemprov Riau bersama para Dirjen Kemenperin RI.

“Semua pokok pikiran yang disampaikan sudah dicatat, tentunya semua ini demi kepentingan kemajuan daerah, pastinya akan kami dukung dan kedepan akan selalu kita komunikasikam dengan Dirjen di Kementerian Perindustrian. Kita juga akan fasilitasi secepat mungkin,” janji Wamenperin Faisol Riza.

Akselerasi
Dalam pwertemuan dengan Wamenperin Faisol Riza, Gubri Wahid sempat menyampaikan mengakselerasi nilai tambah produk unggulan daerah. Apalagi Riau berada di kawasan strategis interland perdagangan dunia dan menjadi sentra ekonomi Sumatera, namun belum menikmati manfaat maksimal dari potensi geografis tersebut.

Aktivitas perdagangan di Selat Malaka, kata Gubri Wahid, lebih banyak menguntungkan Singapura dan Malaysia, sementara Indonesia khususnya Riau masih kurang dilirik.

Sementara SDA Riau melimpah, seperti migas dan perkebunan. Terdapat juga kelapa sawit yang mencapai 4 juta hektare namun hanya 1,2 juta hektare yang memiliki izin resmi. Selebihnya, perkebunan ilegal ini tidak memberikan kontribusi bagi daerah.

Kelapa
Menurut Gubri Wahid, sektor kelapa dalam juga dinilai strategis dengan sentra utama di Inhil, Pelalawan, dan Kepulauan Meranti. Industrinya sudah ada di Pualau Sambu, Inhil, namun saat ini sedang kesulitan bahan baku, biasanya harga kelapa tidak dapat menutup kebutuhan masyarakat, hari ini harganya sudah naik, mahal.

“Saat ini masyarakat mengeluhkan, jika harga murah pemerintah tidak hadir, saat harga mahal hadir, bahkan ada isu mengurangi ekspor kelapa, jadi hal ini kami mohon untuk diperhatikan,” pinta Gubri Wahid.

Pinang dan Kehutanan
Pada kesempatan itu Gubri Wahid juga menyebutkan potensi komoditas lain seperti pinang dan sagu yang belum diolah maksimal di Riau, bahkan sagu masih dikirim keluar daerah seperti Cirebon tanpa proses hilirisasi di Meranti. Karenaya diharapkan adanya perhatian kementerian untuk membangun industri pengolahan sagu dan komoditas lokal lainnya di Riau.

Gubri Wahid juga menjelaskan sektor kehutanan yang saat ini baru sampai tahap produksi rayon, sementara produk akhir seperti tekstil belum dikembangkan. Ia menilai integrasi rantai industri dari hulu ke hilir akan memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi daerah.

“Oleh karena itu, jika bisa Kementerian Industri mendorong mendekatkan industri dengan bahan baku, maka akan mejadi suatu yang lebih besar lagi,” ucapnya.

Migas Lesu

Saat ini, kata Gubri Wahid, bahwa industri migas di Provinsi Riau mengalami kelesuan karena penurunan produksi, sehingga hilirisasi sektor lain seperti sawit harus menjadi prioritas untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Riau memproduksi 10 juta ton CPO per tahun, namun sebagian besar hilirisasinya masih dilakukan di luar daerah.

“Maka kami perlu dorongan untuk hilirisasi CPO sampai end produck agar perkembanagan ekonomi lebih baik lagi. Kami sedang mempersiapkan kawasan industri kuala enok untuk hilirisasi kelapa sawit,” katanya. (RK1)

 

Editor: Dana Asmara

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Haru dan Penuh Makna, BRK Syariah Lepas 12 Pegawai Menuju Tanah Suci

16 April 2026 - 11:19 WIB

Milad ke-33 Dapen Bankriaukepri, Bukti Konsistensi dan Kepercayaan yang Terjaga

15 April 2026 - 18:00 WIB

Hikayat Kerendahan Hati dan Jejak Seorang Pemimpin: Kisah Saleh Djasit dari Mata Para Tokoh

15 April 2026 - 11:36 WIB

LAMR Luncurkan Autobiografi Saleh Djasit: Jalan Hidup Anak Pujud

15 April 2026 - 09:49 WIB

Evaluasi Menyeluruh Panipahan, Kapolda Riau Lakukan Rotasi Besar dan Perkuat Perang Melawan Narkoba

15 April 2026 - 07:29 WIB

Trending di Pekanbaru