Menu

Mode Gelap
Prakiraan BMKG Jumat: Tanjungpinang hingga Natuna Didominasi Berawan dan Hujan Ringan Dari Sembako hingga Tabungan: BRK Syariah Buka Akses Keuangan bagi Disabilitas Pemkab Siak Bayar THR ASN 100%, TPP Disesuaikan Kemampuan APBD PT TIMAH Gandeng Kantor Pelayanan Pajak Pratama, Sosialiasi Pengisian SPT Tahunan Melalui Coretax Polda Kepri Gelar Bazar Berkah Ramadhan dan Buka Puasa Bersama, Pererat Silaturahmi di HUT ke-21 Air Kaleng: Gelembung Nostalgia dan Simbol Marwah

Minda

Marwah yang Terpecah: Mengenang Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau

badge-check


					H. Huzrin Hood Perbesar

H. Huzrin Hood

Oleh : H. Huzrin Hood

Ketua Umum Yayasan BP3KR

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan rahmat dan izin-Nya, hari ini kita kembali diberi kesempatan untuk berkumpul dalam suasana kebersamaan, mengenang kembali satu peristiwa besar dalam sejarah daerah kita: Hari Marwah, tonggak perjuangan rakyat Kepulauan Riau dalam membentuk provinsi sendiri.
Hari ini, saya mengajak kita semua untuk merenung. Bukan sekadar mengenang, tapi juga menggali kembali makna terdalam dari apa yang telah kita perjuangkan — dan yang mungkin kini mulai terlupakan.

Mari kita bersama merajut kembali semangat marwah — bukan sekadar memuji keberhasilan masa lalu, melainkan menatap jujur pada kenyataan hari ini: bahwa sesuatu yang dulu kita banggakan, kini mulai retak, bahkan mulai terpecah. Inilah yang harus kita renungi pada Hari Marwah ini: Marwah yang Terpecah.”

Mengapa Marwah itu terpecah?
Saat ini, di antara kita ada yang telah melakukan pergerakan nyata, ada yang bersuara samar, dan ada pula yang mulai bersiap untuk keluar dari satu rumah yang sama — rumah Provinsi Kepulauan Riau, rumah marwah yang dulu kita dirikan dengan susah payah.

Sebagai niat di alam demokrasi ini hal ini adalah hal biasa dan patut kita menghormatinya. Namun perlu kita bertanya pula mengapa fenomena ini terjadi, apakah ada yang salah dari rumah Propinsi yang kita dirikan? Sehingga ada merasa tidak nyaman lagi dalam satu payung Marwah yang pernah kita banggakan.

Maka patut kita bertanya: Mengapa ini bisa terjadi? Apakah rumah besar yang kita dirikan dulu kini tak lagi memberikan rasa nyaman? Apakah marwah yang dulu menjadi payung bersama, kini terasa sempit dan tak menaungi semua?

Hari ini kita perlu jujur: marwah yang dulu kita perjuangkan bersama, kini mulai retak — bahkan terpecah. Apakah penyebabnya retak mencari belah itu?
Mungkin peyebab retak karena adanya ketimpangan. Terpecah mungkin karena adanya kepentingan. Retak mungkin disebabkan janji yang sengaja dilupakan. Atau terpecah karena amanah semakin punah.

Saudaraku,
Jagalah Marwah. Jangan sampai Marwah itu terpecah. Karena bila Marwah terpecah, kitapun akan terbelah, rakyat pula yang menjadi susah.
Karena bagi orang Melayu, marwah adalah nyawa yang tak kasat mata.

Ia hidup dalam tutur kata, dalam gerak tubuh, dalam budi pekerti, dalam sikap terhadap sesama, dan dalam cara kita memperjuangkan hak dan kebenaran. Marwah bukan harta, bukan gelar, bukan jabatan. Tapi jika ia diganggu, dipermalukan, atau diinjak-injak, maka orang Melayu akan bangkit — bukan karena sombong, tetapi karena tak sudi hidup dalam kehinaan. “Kalau tidak kerana marwah, takkan sanggup menanggung susah. Kalau tidak kerana harga diri, takkan bersabung nyawa di bumi.”

Saudaraku,
Sejak berdirinya Provinsi Kepulauan Riau yang sama-sama kita perjuangkan, dapat dipastikan rakyat masih mengeluhkan berbagai ketimpangan: jalan rusak, sekolah jauh, listrik belum merata, dan pelayanan yang lambat.

Sementara itu, kita juga melihat kelompok-kelompok elit yang hidup senang-lenang — berpesta di atas keringat para pejuang dan penderitaan rakyat.

Bila ini terjadi, maka layak Marwah terpecah. Maka kini marwah yang layak kita bincangkan bukan hanya marwah simbolik, tapi marwah yang menghadirkan rasa keadilan.

Lalu, sempena hari Marwah ini, adalah hak kita untuk bertanya:
Di mana keadilan itu? Di mana marwah kita sebagai bagian dari masyarakat Kepulauan Riau?

Dulu, ketika marwah itu tergores, semangat rakyat bangkit dari dasar hati. Dari obrolan warung kopi di pelantar, dari masjid dan musholla, dari kampus hingga ke rumah-rumah, muncul satu suara yang menggema:
“Kita ingin berdiri sendiri. Kita ingin punya provinsi sendiri. Kita ingin menjadi tuan di negeri sendiri.”
Tapi kita tahu, jalan menuju itu tidak mudah.

Perjuangan dimulai dari bawah. Tidak semua orang sepakat. Banyak yang meragukan. Tak sedikit yang mencibir dan menuduh sebagai pemecah belah. Tapi para pejuang kita tidak gentar.

Mereka bukan orang kaya. Mereka bukan elit politik. Tapi mereka punya sesuatu yang mahal: keyakinan dan keberanian — yang berakar dari tonggak kekuatan marwah.

“Kalau Melayu melawan, bukan kerana ingin menang.
Tapi kerana marwah sudah ditikam.”
Para pejuang kita berdialog dengan pemerintah pusat. Mereka menulis, bersuara, menggalang dukungan. Bahkan ketika harus tidur di emperan gedung dewan, mereka tetap bertahan. Mereka tahu: perjuangan ini bukan demi pribadi, tapi demi masa depan anak cucu negeri Kepulauan Riau ini.

Dan akhirnya, perjuangan itu membuahkan hasil.
Hari itu, bukan sekadar lahirnya sebuah provinsi baru —
Hari itu adalah hari kemenangan marwah.
“Marwah, kalau tidak ditegakkan, akan dilupakan.
Kalau tidak diperjuangkan, akan dipermainkan.”

Saudaraku,
Hari ini, dua puluh tahun lebih telah berlalu. Kita sudah punya pemimpin sendiri. Kita sudah punya anggaran sendiri. Kita sudah punya masa depan yang bisa kita rancang sendiri.
Tapi pertanyaannya:
Sudahkah kita menjaga marwah itu?
Ataukah marwah kita mulai pudar karena merasa “sudah cukup”?

Mari kita jujur. Di balik kemajuan yang nampak, nampak pula masih banyak pulau-pulau kita yang tertinggal. Anak-anak masih menyeberang jauh untuk sekolah. Nelayan masih berjuang tanpa perlindungan. Pemuda masih mencari arah. Dan korupsi — masih juga terjadi.

Kadang, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan rakyat.
“Marwah bukan untuk dipajang di dinding, tapi untuk dijunjung dalam tindakan. Marwah bukan untuk dikenang di atas panggung, tapi untuk ditegakkan dalam keadilan dan keberpihakan.”

Saudaraku,
Hari ini kita tak lagi berjuang di jalanan.
Perjuangan kita sekarang ada di ruang-ruang kebijakan.
Kita tak lagi menggugat Jakarta, tapi berkaca pada diri sendiri:
Sudahkah kita adil kepada rakyat kita sendiri?

Marwah itu hidup dalam cara kita memimpin.
Marwah itu hidup dalam cara kita mendidik.
Marwah itu hidup dalam cara kita mendengar keluhan rakyat.
Marwah itu hidup dalam cara kita menjaga laut dan pulau.
Marwah itu hidup dalam bagaimana kita merawat kehormatan Provinsi Kepulauan Riau yang kita cintai.

Maka, mari kita tanamkan kembali benih-benih marwah —
benih yang akan menghidupi rakyat Kepulauan Riau dengan cita-cita besar: keadilan dan kesejahteraan.
“Kalau asal benih yang baik, jatuh ke laut jadi pulau.
Kalau asal bangsa yang bermarwah, meski kecil tetap bermartabat.”

Oleh karena itu,
Saya mengajak seluruh generasi muda, para pemimpin daerah, tokoh masyarakat, dan segenap rakyat Kepulauan Riau:
Mari kita rawat marwah ini bersama.
Jika benar marwah kita telah terpecah, maka inilah saatnya kita kembali ke akar. Kita rangkai serpihannya. Kita satukan kembali tekad dan harapan. Bukan untuk nostalgia, tetapi untuk memperbaiki dan melanjutkan cita-cita luhur yang belum tuntas.

Jangan sampai Marwah yang terpecah lahir karena ketimpangan, kini terpecah pula karena kelalaian kita sendiri lagi, tidak mau bersatu kembali.
Kita bukan provinsi yang besar karena banyaknya pulau.

Kita menjadi besar karena marwah kita kuat. Teruslah kita saling menghormati, mencintai rakyat, dan setia pada kebenaran.

Akhir kata,
Marilah kita lanjutkan perjuangan ini dengan keteladanan hidup.
Jadilah pemimpin yang adil.
Jadilah pejabat yang amanah.
Jadilah rakyat yang peduli.
Dan jadilah generasi yang siap mewarisi marwah.

Marwah boleh terluka, tapi jangan sampai binasa. Marwah boleh tergoyah, tapi jangan sampai hancur oleh tangan kita sendiri. Marwah tak boleh dibiarkan terpecah — dan jika kini telah pecah, maka kitalah yang wajib memulihkannya bersama, dengan janji cinta kita pada negeri Kepri dan kejujuran pada sejarah yang pernah kita buat bersama.

Salam marwah, salam perjuangan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tanjungpinang, 14 Mei 2025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Air Kaleng: Gelembung Nostalgia dan Simbol Marwah

12 Maret 2026 - 06:05 WIB

Menentukan Arah BUMD Migas: Profesionalisme, Regulasi, dan Tanggung Jawab Publik

9 Maret 2026 - 10:46 WIB

Patut

8 Maret 2026 - 06:43 WIB

Malu Melayu

7 Maret 2026 - 10:16 WIB

Chokepoint Dunia: Selat Hormuz dan Ancaman Krisis Energi Global

2 Maret 2026 - 10:27 WIB

Trending di Minda