Oleh Hang Kafrawi
“Jangan sebab tak nampak peluhnya, orang kita dikata tak bekerja. Jangan kerana bersongkok dan bersarung, disangka tak mampu berfikir.”
Dalam banyak lidah kolonial dan pewaris kuasa pusat, ada satu racun yang selalu tumpah kepada orang Melayu: “pemalas.” Seolah-olah sejak dalam kandungan, anak Melayu sudah ditakdirkan duduk bersila sambil minum kopi di beranda rumah panggung. Pandangan ini hidup bukan dari fakta, tapi dari wacana yang dibentang penguasa untuk menidurkan harga diri satu bangsa.
Kalau orang Melayu tak sibuk berteriak atau merapat ke lobi kekuasaan, bukan berarti ia tak peduli. Kalau orang Melayu memilih sabar, bukan berarti ia rela diinjak. Itulah budi yang dijadikan tapak, diam yang disangka kalah, padahal itu strategi budaya yang dipelajari dari nenek moyang: bertingkah jangan macam anak kerbau baru lahir; diam-diam bisa menyiku.
Teun A. van Dijk menyebut bahwa wacana dicipta untuk membentuk opini dan mengatur persepsi. Orang Melayu bukan hanya diberi stigma, tapi diajar untuk percaya bahwa dirinya memang lemah, pemalas, dan tak berdaya. Ini bukan soal salah paham, tapi proyek yang sistemik, disusun dalam teks buku sejarah, tayangan media, dan bahkan dalam cara negara membagi anggaran pembangunan.
Celakanya, banyak pula orang Melayu yang telah menganggap stigma ini sebagai darah dagingnya sendiri. Ia tak hanya disematkan dari luar, tapi diwariskan ke dalam. Dari bisik ke bisik, dari bapak ke anak, dari gurauan ke keyakinan. Inilah racun paling halus: ketika suatu bangsa percaya bahwa kelemahan itu kodratnya, maka ia akan hidup dalam bayang-bayang, bukan di panggung utama. Ini tak bisa dibiarkan. Diam atas fitnah yang dijadikan kepercayaan turun-temurun, adalah bentuk pengkhianatan terhadap leluhur dan masa depan bangsa sendiri.
Jika orang Melayu disebut pemalas, kenapa selama ratusan tahun mereka menebas belukar, mengurus perahu, menyabung lidah dalam pantun, dan menjaga laut, sungai, serta rimba? Mereka tak berpeluh di kantor, tapi berbasah di kebun. Tak berjubah di forum, tapi menabur ilmu di surau.
Orang Melayu percaya, bekerja itu bukan soal riuh. “Biar lambat asal selamat”, “bagai menarik rambut dalam tepung”, adalah cara berpikir yang menimbang risiko dan harga diri. Bukan tak mau cepat, tapi tak rela melanggar adat dan melompati sesama. Ketika pusat bicara produktivitas, orang Melayu bicara keseimbangan: antara dunia dan akhirat, antara kerja dan ibadah, antara rezeki dan marwah.
Budaya Melayu tak memuja bising. Ia menjunjung tata, tertib, dan taat. Jangan heran, ketika yang dicari penguasa adalah angka dan target, orang Melayu justru sibuk menanam nilai, menjaga tutur, dan menyulam makna.
Sudah saatnya stigma “pemalas” dipatahkan dengan tindakan dan narasi balik. Ini bukan soal membalas dendam wacana, tapi mengembalikan marwah bangsa. Mahasiswa Melayu harus kembali menulis tentang sejarah kebijaksanaan leluhurnya. Seniman Melayu harus mencipta teater, puisi, dan film yang menggugat mitos-mitos busuk yang selama ini dilestarikan kekuasaan. “Bangsa yang tak menulis tentang dirinya, akan ditulis orang lain dengan tinta fitnah.”
Orang Melayu harus berdiri di panggung narasi, bukan jadi figuran dalam cerita bangsa. Harus menyusun agenda sendiri, bukan menumpang pada peta orang lain. Tak perlu meratap di kaki birokrasi, tapi bersuara dengan adat, ilmu, dan karya. Birokrasi akan menyatu ketika kita dapat memperlihatkan wujud yang kuat, akan menjadi jalan yang mudah mengibarkan bendera identitas diri.
Orang berbudi, kita berbahasa. Orang mencaci, kita berhikmah. Tapi jika marwah diinjak, tiada lagi ruang bertangguh.
Orang Melayu bukan pemalas. Ia cuma tak suka membesarkan diri. Jangan salah, jika dipaksa bangkit, ia bisa jadi ombak yang menelan batu, bisa jadi semangat yang membakar ladang dusta. Berhentilah menyemat fitnah, sebab Melayu yang sejati bukan lemah, tapi sedang bersiap menuliskan babak barunya sendiri dengan tinta dari hutan, sungai, dan sejarah yang tak pernah padam.
Bangkitlah orang Melayu. Bersatulah orang Melayu, jangan mau dipecahbelah oleh kepentingan sesaat, oleh hitungan angka-angka. Tanah ini menunggu sentuhan kearifan yang dimiliki orang Melayu. Orang Melayu berjuang bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi kemaslahatan orang banyak. Kita mendurhaka ada tempat seperti Hang Jebat, kita bersetia penuh hikmah seperti Hang Tuah. Buang rasa iri dan dengki, bersama kita bisa!
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK







