Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Kamis, 11 Juni 2026: Tanjungpinang dan Batam Berpotensi Hujan Ringan, Wilayah Kepulauan Dominan Cerah Berawan LAMR: Jangan Diamkan Pelanggaran HAM Kepada Masyarakat Adat Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai Rawit Dukung Ketahanan Pangan Bina Desa Mahasiswa PBM FIB Unilak Dalami Adat Pernikahan Mempura Siak LAMR Sambut Kehadiran BPK Riau, Perkuat Pelestarian Adat dan Budaya Melayu DPRD Batam Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Pemko Pertahankan WTP ke-14

Meranti

Anak Setatah Beranak Parah, Desa Permai Menampi Benyai

badge-check


					Abrasi di Kepulauan Meranti. F: Dana Asmara Perbesar

Abrasi di Kepulauan Meranti. F: Dana Asmara

SEANDAINYA Desember tidak ada dalam kelender Kabupaten Kepulauan Meranti, jelas tidak dihantui abrasi. Sebab, di bulan ini mulut Selat Melaka menganga seiring dengan datangnya angin yang tidak hanya datang sebagai tamu namun juga melumat bibir pantai.

Hikayat abrasi di Kepulauan Meranti adalah cerita panjang melebihi seribu satu malam, ia tidak hanya berkisah tentang ikan yang pugat (lari), tidak hanya bercerita tentang kenangan terbunuh, tapi juga bersyair tentang wajah bumi pertiwi ini karena kabupaten terbungsu di Provinsi Riau ini adalah wajah terdepan bangsa yang bernama Indonesia. Jangan biarkan abrasi di Desa Anak Setatah beranak pinak semakin parah, dan jangan pulak Desa Permai menampi benyai (tidak berkembang).

Di sini, di Kecamatan Rangsang Barat, Kepulauan Meranti, laut menyimpan banyak hal, hasil tangkapan nelayan, gelombang kenangan, juga tanah kehidupan. Di dua desa paling ujung di Kabupaten Kepulauan Meranti, Desa Anak Setatah dan Desa Permai, laut telah menjadi pemangsa menakutkan. Setiap tahun mengunyah daratan sejauh 7 hingga 20 meter. Dalam kondisinya ini, kedua belah tangan warga terkepai mengayun pelan, mata hanya bisa menatap pasrah, sambil mundur selangkah demi selangkah, meninggalkan kenangan yang tak bisa mereka selamatkan.

Zulhaidi, Kepala Desa Anak Setatah, tak bisa menyembunyikan nada perih dalam suaranya, dan dada yang dihujam sebak. “Lapangan bola tempat kami berebut bola tanpa sepatu, sudah menjadi laut,” katanya. Kini, di usia tuanya, ia kehilangan kesempatan untuk mengenang masa kecil bersama cucu, karena tempat-tempat itu sudah tenggelam.

Kenangan Direnggut Laut

Abrasi di Desa Anak Setatah bukan cerita baru. Menurut Zulhaidi, proses pengikisan tanah oleh gelombang laut itu telah terjadi sejak 1960. Namun laju kehancurannya semakin menjadi-jadi. Tanah kuburan, masjid lama, halaman rumah, hingga lapangan bola, semuanya raib ditelan laut. “Saya tak bisa lagi berziarah. Di antara kuburan itu, ada makam keluarga saya yang ikut hanyut,” ujar Zulhaidi lirih.

Kini, masjid baru telah dibangun. Tapi tak semua bisa diganti. Sedikitnya 20 rumah telah menjadi laut. Warga yang terdampak harus mencari tanah tumpangan, pindah ke daerah lain, atau hidup berdesakan di lahan sempit. “Abrasi sudah menelan lebih dari 500 hektare kebun karet, kelapa, rumbia,” ungkap Zulhaidi. Seraya perlahan mengatakan, ini bukan hanya soal tanah kelahirannya, tapi juga soal sumber hidup.

Desa yang Menyusut

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Permai. Azman, Kepala Desa Permai, menunjukkan dengan jari telunjuk tangan kanannya ke arah pantai. “Dulu, jalan poros desa berjarak 1 kilometer dari bibir pantai. Sekarang, hanya tersisa 60-70 meter,” katanya.

Dengan nada khawatir, Azman menyebutkan fasilitas vital yang berdiri di sekitar jalan poros itu, SD, MDA, RA, Kantor Desa, Posyandu, dan sarana ibadah.

“Kami takut lima tahun ke depan, semuanya lenyap jika tidak dibangun batu pemecah ombak,” ungkap Azman. Apalagi jika mendedahkan angka abrasi di desanya bahkan lebih buruk dibandingkan Desa Anak Setatah, 15 hingga 20 meter per tahun. Dari luas awal 45 km², kini tersisa hanya sekitar 20 km².

Harapan Kian Menipis

Kedua kepala desa sama-sama sepakat, penanganan abrasi memerlukan langkah besar dan terintegrasi. Butuh kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, juga pendanaan yang tak sedikit, diperkirakan mencapai Rp10–15 miliar. Tahun ini, Provinsi Riau sudah membangun batu pemecah ombak sepanjang 500 meter. Tapi proyek lanjutan sepanjang 3,5 km yang dibutuhkan tak bisa dilanjutkan karena defisit anggaran 2025.

Sementara itu, masyarakat yang mayoritas nelayan dan buruh tani, hidup semakin terjepit.

Hilangnya daratan mengurangi luas kebun, permukiman, hingga tempat mencari ikan. Kemiskinan meningkat, ekosistem hutan pesisir rusak, dan keseimbangan lingkungan laut terganggu.

Mangrove dan Harapan

Selain batu pemecah ombak, reboisasi pantai lewat penanaman mangrove adalah opsi yang mulai dilirik. Tapi waktu terus berjalan, sementara ombak tak menunggu waktu. Mangrove baru tumbuh dan besar hingga mampu jadi penyangga dalam hitungan tahun. “Kalau tidak segera ditangani, anak cucu kami tak akan tahu kampung ini pernah ada,” ucap Zulhaidi.

Di tanah desa yang terus menghilang ini, Zulhaidi dan Azman bersama masyarakat desa, mereka bertarung bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk mempertahankan ingatan dan mimpi buruk.

Bercermin dari Panama

Pemerintah Panama tak mau menangung resiko sehingga masyarakat adat Guna yang tinggal di pulau kecil Gardi Sugdub, kelompok masyarakat pertama di Panama, direlokasi karena perubahan iklim, naiknya permukaan air laut yang kemungkinan besar pulau Gardi Sugdub tak dapat lagi dihuni pada 2050.

Nasib tenggelamnya pulau Gardi Sugdub yang ditempati masyarakat adat Guna, tampaknya juga bakal mendera sejumlah daerah di Provinsi Riau, terutama mereka yang tinggal di daerah pesisir. Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti, misalnya. Pulau dengan penduduk asli Melayu ini akan tenggelam karena ancaman datang dari darat dan laut. Dari laut abrasi terus saja mengikis pulau dengan luas sekitar 652,72 km² itu, sedangkan dari darat ”dipelasah” konsesi hutan. Sehingga warganya seperti menjadi tamu di negeri sendiri.

Hasil penelitian Steve Paton, Ilmuwan dari Smithsonian Tropical Research Institute membeberkan bahwa akan terjadi perubahan iklim yang membuat bumi kian memanas, permukaan air laut naik seiring gletser dan salju mencair, serta air laut memuai saat menghangat. Para ilmuwan memperingatkan bahwa ratusan juta orang yang tinggal di wilayah pesisir di seluruh dunia terancam pada akhir abad ini.

Maka bercerminlah dari peristiwa Panama jika tidak gelombang akan menjadi pewaris desa yang dulunya disebut Permai. Atau, ”Pulau Itu Pasti Tenggelam” seperti dalam Cerpen Karya Taufik Ikram Jamil. Menelik sebuah imajinasi yang lahir pada tahun sekitar 80-an ini, bercerita tentang pulau-pulau kecil yang ada di bumi lancang kuning tenggelam baik diakibatkan pengerukan pasir laut ataupun abrasi. (dana asmara)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai Rawit Dukung Ketahanan Pangan

10 Juni 2026 - 19:54 WIB

Panen Jagung Kuartal II di Teluksamak Hasilkan 1,3 Ton, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

10 Juni 2026 - 09:49 WIB

Di Meranti, Seorang Pria Ditemukan Meninggal Dunia di Hotel

7 Juni 2026 - 18:54 WIB

Bhabinkamtibmas Cek Pertanian Labu dan Cabai Rawit Warga, Dukung Ketahanan Pangan di Tebing Tinggi

5 Juni 2026 - 09:41 WIB

Bupati Asmar Pimpin Apel Siaga Karhutla 2026, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Iklim Ekstrem

4 Juni 2026 - 19:16 WIB

Trending di Meranti