RiauKepri.com, PEKANBARU– Jumat sore (27/6/2025), di Balai Pauh Janggi, Gubernuran, di hadapan Gubernur Riau Abdul Wahid, sebanyak 34 orang dengan mengenakan pakaian putih hitam dan bermasker tampak bersahaja, mereka bukan hendak menerima SK sebagai pagawai namun mantan anggota kelompok Anshor Daulah (AD) itu berdiri mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lepas baiat.
Usai berikrar kembali ke tanah pertiwi, mereka memberi hormat dan mencium bendera merah putih, lalu pecahlah senyum. Seperti terlahir kembali, dulu wajah-wajah itu bila berpas-pasan, menatap dengan mata tajam dan sulit untuk berlesing (berbual) dengan mereka. Kini, tatapan itu lembut, penuh bersahabat, terpancar bagaikan rindu sekampung, bahkan di antaranya berani membuka masker dan berselfie ria dengan Gubernur Riau Abdul Wahid.
“Ini bukan akhir, ini baru permulaan,” ujar Gubernur Riau Abdul Wahid di hadapan mereka yang pernah bersumpah setia pada ideologi kekerasan, kini memilih jalan kembali.
Lepas baiat bukan sekadar seremoni. Ini adalah pembebasan dari sumpah lama yang dahulu mencengkram, kepada pemimpin bayangan, kepada khilafah, kepada mimpi yang dijalin dalam kekeliruan. Sebagian dari mereka pernah menjalani latihan militer di Pulau Rupat, atau ikut dalam jaringan yang dibangun dari grup Telegram oleh sosok Abu Yusha di Jawa Tengah. Ada pula yang terkait dengan “Pak Ngah”, pelaku serangan ke Markas Polda Riau 2018 lalu yang tewas dalam baku tembak.
“Jangan dikucilkan. Mereka juga bagian dari kehidupan kita,” pinta Gubernur Wahid.
Di Balik Kembali
Dari catatan Detasemen Khusus 88 Antiteror, para eks anggota AD ini bukan sekadar simpatisan. Mereka bagian dari struktur yang terorganisasi, ikut dalam pelatihan Idad, merancang tanzim, dan punya peta jalan menuju jihad bersenjata. Dumai sebagai titik rawan. Pada September 2022, delapan orang ditangkap di kota pelabuhan itu. Sebagian besar nama yang kini lepas baiat berasal dari lingkaran yang sama.
Tapi dalam diri mereka, kata Brigjen I Made Astawa, Wakil Kepala Densus 88, juga tumbuh harapan. “Ini proses transformasi. Terorisme bukan cuma soal senjata, tapi soal cara berpikir,” ujarnya.
Made menyebut ikrar sebagai langkah pemulihan ideologi, membongkar narasi kebencian dan membangun kembali kepercayaan terhadap negara.
Menerima atau Menjauh?
Yang jadi tantangan bukan hanya pelepasan baiat itu sendiri. Tapi bagaimana masyarakat menanggapi mereka.
Polda Riau dan aparat terkait disebut telah mulai melakukan sosialisasi ke lingkungan tempat para eks AD ini akan pulang. Namun dalam banyak kasus serupa di masa lalu, pemulihan itu berjalan lambat dan penuh tantangan.
“Ini bukan hal mudah. Butuh usaha dan ikhtiar luar biasa untuk melepaskan akar yang sudah tertancap dalam diri seseorang,” kata Gubri Wahid.
Balik Bayang-bayang
Kelompok Anshor Daulah sendiri, meski tak sepopuler JAD atau JI, telah menyumbang cukup banyak nama dalam daftar terduga teroris yang ditangkap Densus. Pada 2020, 12 anggotanya ditangkap; pada 2021, jumlahnya melonjak menjadi 129.
Sumber-sumber di lapangan menyebut bahwa AD kerap membentuk jaringan sunyi, menyusup lewat forum-forum online dan mendekati para pemuda pinggiran. Nama-nama seperti RP, Amir AD di Dumai, disebut sebagai figur sentral. Kini, mereka juga berada dalam kelompok 34 orang yang kembali.
Tak semua keluarga mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi selama ini. Sebagian hanya tahu anak atau saudaranya “berubah” dan jadi tertutup. Baru setelah Densus datang dan menjemput, kenyataan itu mencuat.
Kini, setelah ikrar itu terucap, pintu rumah harus dibuka lagi. Mereka tak berharap disambut dengan pelukan, mungkin hanya cukup dengan tidak ditatap curiga.
“Mereka sudah memilih untuk kembali berdiri di atas tanah ini, dengan nama dan identitas baru, Warga Negara Indonesia,” ucap Made Astawa. (RK1)
Editor: Dana Asmara







