Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri, Senin 27 Juli 2026: Tanjungpinang hingga Anambas Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Edarkan Sabu, Pria Berinisial MR Diamankan Satresnarkoba Polres Bengkalis Reses di Letung, Ismeth Abdullah Tampung Aspirasi Warga Jemaja soal Listrik, Kesehatan, dan Infrastruktur Kenduri dan Festival Durian Bintan 2026, Perkuat Identitas Pariwisata dan Budaya Tarik 650 Peserta Lokal dan Mancanegara, Bintan Trekking 2026 Dongkrak Pariwisata dan UMKM Bhabinkamtibmas Desa Alahair Cek Peternakan Kambing Warga Dukung Ketahanan Pangan

Riau

Demam Togak Luan, Dari Sungai Kuantan ke Jagat Maya

badge-check

Mendunia Togak Luan pada pacu jalur Kuansing. Perbesar

Mendunia Togak Luan pada pacu jalur Kuansing.

RiauKepri.com, PEKANBARU– Gerakan lincah seorang anak di haluan perahu kecil di Sungai Kuantan kini menjelma jadi fenomena global. Dunia tengah demam “aura farming” ala Togak Luan.

Di tengah riuh arus Sungai Kuantan yang membelah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, puluhan jalur, perahu panjang tradisional Melayu, melaju kencang dalam lomba tahunan Pacu Jalur. Namun, perhatian jutaan mata tak hanya tertuju pada kecepatan jalur. Ada satu sosok kecil yang jadi pusat sorotan, anak di ujung jalur yang menari di atas perahu.

Ia dikenal sebagai Togak Luan. Mengenakan tanjak Melayu dan busana adat, baju kurung, anak itu berdiri di haluan, tubuhnya bergoyang lincah mengikuti irama dayung. Bukan sekadar aksi atraktif, gerakan itu kini viral hingga ke berbagai penjuru dunia.

Di media sosial, tarian Togak Luan jadi tren global. Klub sepak bola besar seperti Paris Saint-Germain dan AC Milan pun ikut menirukan gerakannya di akun resmi mereka. Nama tarian itu, aura farming, istilah yang sedang hangat di jagat maya.

Dari Sungai Kuantan ke Dunia

Togak Luan bukan sekadar maskot. Ia bagian penting dari tradisi Pacu Jalur yang telah mengakar lebih dari seabad. Dalam satu perahu, biasanya ada dua anak, satu di depan sebagai Togak Luan, dan satu lagi di belakang sebagai tukang onjai, penggoyang perahu.

“Anak yang di depan itu menari ketika jalurnya sedang unggul. Tarian itu jadi penanda visual kepada penonton bahwa perahunya memimpin,” ujar Mahviyen Trikon Putra, tokoh Pacu Jalur yang kini menjabat Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kuansing. Mahviyen tahu betul peran ini, karena ia sendiri pernah menjadi Togak Luan saat berusia 8 tahun.

Menurut Mahviyen, gerakan tari itu tidak diajarkan secara formal, melainkan murni dari naluri anak. “Tidak ada koreografi. Yang penting dia bisa menjaga keseimbangan. Kalau jalurnya kalah, dia duduk saja. Tapi kalau berdiri dan menari padahal jalurnya tertinggal, itu informasi yang salah,” kata Mahviyen sambil tertawa kecil.

Ada kalanya, kata Mahviyen, Togak Luan tiba-tiba melompat ke sungai. Ini bukan atraksi, tapi manuver teknis. “Kalau haluan terasa berat, dia loncat untuk mengurangi beban, supaya perahu bisa sedikit terangkat dan lebih cepat,” ungkapnya.

Menari di Atas Air

Pacu Jalur bukan perlombaan biasa. Digelar tiap Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, ajang ini adalah pesta rakyat terbesar di atas air di Bumi Melayu Riau. Jalur-jalur yang panjangnya bisa mencapai 25 meter dilayari oleh puluhan pendayung, dengan ritme yang ditentukan komando dari belakang.

Di sinilah si Togak Luan tampil sebagai ikon visual. Meski tubuhnya kecil, ia berdiri kokoh di ujung perahu yang meliuk di air, di hadapan ribuan pasang mata penonton di tepian sungai. Tidak sembarang anak bisa menjadi Togak Luan.

“Syarat utamanya harus pandai berenang, punya mental kuat, dan mampu menjaga keseimbangan,” tegas Mahviyen. Usia idealnya berkisar 8 sampai 13 tahun. Jika sudah terlalu besar, anak akan diganti karena bobot tubuh bisa memperlambat laju perahu.

Dulu, bagian belakang jalur diisi orang dewasa. Tapi karena berat badan memengaruhi kecepatan, kini posisi tukang onjai juga dipercayakan pada anak-anak.

Mendunia Lewat Tarian

Ketenaran Togak Luan kini jauh melampaui Sungai Kuantan. Lewat unggahan viral di TikTok dan Instagram, tarian kecil di atas perahu itu menembus batas geografis. Di berbagai negara, warganet ikut menirukan gerakan khas Togak Luan. Ini jadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kuansing.

“Selaku masyarakat Kuantan Singingi, kami bangga sekali. Inilah impian kami, Pacu Jalur mendunia,” kata Mahviyen.

Ia berharap viralnya tradisi ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan membuka peluang untuk mendatangkan wisatawan dalam dan luar negeri. Bahkan, ia punya mimpi besar, Pacu Jalur antarnegara.

“Semoga suatu hari nanti diadakan Pacu Jalur kelas internasional di Kuansing,” ujarnya penuh harap.

Pacu Jalur 2025 sendiri sudah masuk kalender pariwisata nasional, dan dijadwalkan berlangsung pada 20–25 Agustus 2025 mendatang. Ribuan mata akan kembali tertuju ke Sungai Kuantan, menanti liukan jalur dan lambaian tarian Togak Luan di ujungnya.

Dari kampung halaman kecil di Riau, seorang anak menari di atas perahu. Kini, tariannya menggema ke penjuru dunia. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sayang Bini

26 Juli 2026 - 09:55 WIB

Siak Masuk Daftar Daerah Terbaik untuk Investasi Versi Fortune Indonesia

26 Juli 2026 - 07:37 WIB

Kelemahan Melayu

25 Juli 2026 - 06:32 WIB

Bupati Afni dan Menkeu Purbaya Bertemu, Suasana Reuni Warnai Silaturahmi

24 Juli 2026 - 22:34 WIB

Dukung Program Unggulan Kapolda Riau, Ditpolairud dan Polres Rohil Gelar Aksi ‘JALUR’ di Panipahan

24 Juli 2026 - 21:36 WIB

Trending di Riau