Oleh Hang Kafrawi
Angin pagi menggoyang pelan daun-daun jambu gajus di halaman Kedai Kopi Nah Meun. Aroma kopi menyebar luas ditiup sepoi angin dan asap rokok bercampur jadi satu. Di sudut kedai yang agak gelap, duduk seorang lelaki berusia 40 tahun dengan baju lengan panjang digulung sampai siku, mengenakan topi pandan, dan matanya seperti kehilangan arah.
Itulah Tamam. Dulu dia Ketua Lembaga Mandiri di kampung ini . Suaranya nyaring, langkahnya tegas, dan tangannya tak pernah henti menandatangani proposal pembangunan ini-itu. Itu dulu. Hari ini, ia duduk sendiri. Segelas kopi tak disentuh, dan tatapannya kosong menembus daun-daun jambu gajus.
Di meja depan, terdengar tawa ramai mantan anggotanya. Mereka kini duduk mengelilingi ketua baru, anak muda, necis, dan baru balik studi dari ibu kota. Wajah mereka bahagia, namun tak pernah memandang ke arah Tamam. Mereka seakan tidak pernah kenal siapa Tamam itu. Padahal, sebagian besar dari mereka dulu ikut dalam tim kerja Tamam; makan dari proyek-proyek yang Tamam usahakan.
Dari pintu masuk kedai Nah Meun, Atah Roy muncul. Atah Roy menyapu pandangan ke semua ruangan kedai itu, dan ia pun ternampak Taman yang sedang duduk berseorangan diri. dengan langkah santai Atah Roy mengarahkan kakinya ke Tamam. Lalu, tanpa ragu, Atah Roy duduk di kursi kosong di sebelah Taman.
“Hallo Pak Ketue, masih hitam kopinye, Pak Ketue?” sapa Atah Roy dengan suara lantang yang dibuat-buat. Hal ini dilakukan Atah Roy untuk menganggu mantan anggota Tamam yang duduk di depan.
Taman menoleh. Ada sisa senyum yang gugup. Tamam salah tingkah dengan panggilan Atah Roy, dan dengan menekan rasa agak malu Tamam menjawab panggilan Atah Roy. “Masih, Tah, tapi rasanya hambar, Tah., atau lidah aku yang sudah mati rase, Tah.”
Atah Roy tertawa kecil. Atah Roy menyalakan rokoknya, menarik asap dalam-dalam, lalu menatap ke arah meja yang penuh tawa itu. “Kau lihat, Mam? Dunia memang macam begitu. Selagi kite punye harte dan kuase, semue orang akan menatap ke arah kite, mendengar tiap kate kite. Namun ketike semue itu hilang, kite dah tak jadi ketue lagi, tak ade orang mempedulikan kite lagi, Mam. Kite dianggap sampah, Mam. Itulah dunie.”
“Aku tak mintak dikenang, Tah. Tapi paling tidak, ditegur saje pun sudah cukup. Dulu, aku bantu mereke bangun rumah, cari sekolah anak, cari modal usaha. Tapi sekarang, mereke lewat saja, macam tak pernah kenal,” ucap Tamam agak kecewa.
“Kau tahu, Mam,” kata Atah Roy pelan tapi dalam, “hormat di dunie ini bukan karene siape kite sebenarnye, tapi karene ape yang kite punye. Begitu jabatan dan duit hilang, semue mate akan berpaling. Begitulah wajah dunie hari ini, Mam, murah senyum saat engkau punye, lesap dalam sekejap saat engkau tak lagi punye kuase dan harte,” kata Atah Roy sambil menganggukan kepalanya.
Taman terdiam. Matanya sedikit berkaca, tapi ia cepat mengelap air mata sebelum membanjiri pipinya. Ada rasa malu dalam diri Tamam. Apa yang dikatakan Atah Roy menusuk relung hati Tamam, namun Tamam tak mampu berbuat apa-apa. Melihat Tamam sedih, Atah Roy cepat-cepat menenagkan Taman.
“Tak usah dikau masuk hati, Mam, yang penting, waktu engkau jadi ketua dulu, engkau kau tak zalim. Engkau tak ambik hak orang. Engkau tak jadi pengkhianat. Itu saje cukup. Sekarang, waktunye engkau hidup sebagai orang biase, dan percayelah, jadi orang biase yang tak pernah khianat lebih mulie dari pemimpin yang dielu-elukan tapi hatinya busuk,” ucap Atah Roy membesarkan hati Tamam.
“Atah selalu tahu care menampo aku pakai kate-kate, Tah. Terime kasih, Tah, sampai saat ini Atah menesehati aku, walaupun aku dah tak jadi ketua lagi,” ujar Tamam tersenyum kecil.
“Tampo tu pakai tangan, Mam, kalau kate-kate, itu cara aku sayang dan sekaligus mengingatkan engkau agar tetap waras dalam dunie yang makin gile ini. Mam,” ucap Atah Roy sambil tertawa,
Di meja depan, tempat mantan anggota Tamam dan ketua baru duduk, gelak tawa masih ramai. Namun sedikit pun tidak menganggu Atah Roy dan Tamam. Atah Roy dan Tamam bercakap seperti dua orang yang sedang membangun kembali jembatan di dalam diri mereka, menyatu dalam kebersamaan. Mereka sudah lame tidak bebual seperti ini. Atah Roy punye pegangan hidup, bekawan yang hebat tu adalah ketika orang tidak punya jabatan lagi. Atah Roy sadar betul sebagai orang Melayu, tak pandai menyorong-nyorong diri. Sesuai dengan pepatah, hidung tak mancung, pipi disorong-sorong.
“Terime kasih, Tah. Kadang yang kite perlukan bukan ramainye orang, tapi satu kawan yang tak berubah dalam senang mau pun susah, dan Atah selalu hadir ketike aku susah,” ucap Tamam dengan suara bergetar menahan sebak, agar air mata tak tercurah ke pipi.
“Sudahlah, Mam, dunie ini hanye senda gurau belaka, tak ada yang abadi. Dan aku tak perlu jabatan untuk duduk di samping orang yang pernah berbuat baik terhadap kampung ini,” ujar Atah Roy sambil menepuk-tepuk bahu Tamam yang tak mampu menahan air matanya lagi. Tamam langsung memeluk Atah Roy dengan air mata berjujai.
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak.







