Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Senin, 27 April 2026: Hujan Ringan hingga Petir Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Kronologis, Motif, dan Pelaku Penembakan Gedung Putih Semarak Hari Nelayan Nasional ke-66, Pesisir Senggarang Dipenuhi Antusiasme Masyarakat Ruang Asa Project Hadirkan Topi Harapan, Bangkitkan Semangat Anak YKAKI Riau Plt Dirut BRK Syariah Dampingi Plt Gubri Lepas JCH Riau di Batam Penggerebekan Sabu 13 Gram di Jalan Joyo Talang Muandau, Dua Pelaku Positif Amfetamin Diamankan

Ragam

Yohanis (1935 – 2012): “Fotocopy” Gus Dur” dari Benai

badge-check


					Yohanis (berkopiah) bersama istrinya Norma dan anak-anaknya. Perbesar

Yohanis (berkopiah) bersama istrinya Norma dan anak-anaknya.

GENERASI 1970 s.d 1990-an mungkin banyak yang kenal dua kakak adik bintang film dan komedian air Yohazar yang akrab disapa Otong Lenon dan Fakhri Semekot. Sebab, kedua komedian kondang tanah air itu sering muncul di layar televisi, film dan di atas panggung.

Yang jadi pertanyaan adalah siapakah guru komedi (lawak) kedua komedian tanah air tersebut. Apakah mereka belajar otodidak atau belajar kepada komedian senior yang duluan merintis karier dari mereka?

Jawabannya bisa ya dan tidak. Namun guru mereka yang sesungguhnya adalah orang tua kandung mereka sendiri yakni Yohanis. Akrab disapa “Pak Guru Yanis” atau “Ongku Yanis.”

Yohanis dengan joke-joke humornya yang segar mampu membuat suasana menjadi riang gembira dan tak terduga. Yohanis dengan bakat alaminya mampu mampu menjadi guru yang patut digugu, ditiru, dan tidak mengurui.

Pengakuan jujur itu disampaikan oleh anak keempat pasangan Yohanis dan Nurma, Marwan. “Joke-joke humor Bapak mengalir bagaikan air tiada henti. Bapak itu orang tua, sahabat, dan guru kami,” ujar Marwan yang memilih dunia politik ketimbang dunia komedi yang digeluti kedua abangya.

Menurut Marwan jika bapaknya sudah kumpul dan mengeluarkan joke-joke humornya semua yang mendengarkannya akan tertawa lepas. Namun bapaknya terkesan biasa-biasa saja – seakan tidak ada masalah dengan apa yang disampaikannya.

“Orang bilang bapak kami seperti Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang menjabat sebagai presiden RI keempat (1999-2001). Kalau sudah pada ngumpul, joke-joke humor bapak selalu ditunggu. Ketika orang ketawa, bapak santai saja,” ujar Marwan lagi-lagi tersenyum.

Pengakuan jujur senada juga disampaikan ponakan Yohanis, Gumpita. “Mak (paman) kami Yohanis lucunya tidak ketulungan. Orang bilang Bang Otong dan Fakhri lucu. Itu baru kulit luarnya saja. Yang lebih lucu itu justru bapaknya (Yohanis),” ujar politisi Golkar Riau ini.

Bakat komedian pamannya itu kata Gumpita memang turun kepada kedua anaknya Otong dan Fakhri. Tapi sesungguhnya yang paling lucu, jahil, dan sering melakukan prangk itu justru anak keempatnya Marwan.

Marwan sempat menekuni dunia keartisan selama mengikuti abangnya di Jakarta. Namun ia lebih memilih terjun ke dunia politik. Oleh rekan-rekan seprofesinya di dunia politik, Marwan justru disebut “komedian” politik.

“Yang saya sampaikan ini realita, lho….,” ujar Gumpita meyakinkan.

“Bang Marwan tak hanya membuat suasana lucu tapi juga menyebalkan dengan pranknya yang tidak terduga,” tambah Gumpita lagi.

Prank adalah sebuah trik nakal yang dimainkan terhadap seseorang, yang umumnya menyebabkan seseorang tersebut kaget, merasa malu, tidak nyaman, atau keheranan. Prank adalah tindakan yang dilakukan untuk mengundang tawa, namun pada penerapannya hal ini sering kali malah mengundang kontroversi.

Kendati lucu, Yohanis tak mau disebut komedian. Dia lebih senang dipanggil “Pak Guru Yohanis.” Guru adalah profesi yang dicintainya. Katanya hanya ada dua profesi di atas dunia ini yakni guru dan bukan guru. Kalaupun ada profesi lain di luar guru semua profesi pun lahir karena peran guru.

“Itulah Mak Yanis, seorang guru yang layak digugu dan ditiru dan guru. Guru yang tak pernah mengurui,” ujar Gumpita.

YOHANIS dilahirkan di Benai 31 Desember 1935 dari pasangan pasangan Syarif dan Nusiah. Ia menekuni profesi sebagai pendidik (guru). Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di selesaiknya di Benai. Sementara Pendidikan Sekolah Guru Bawah (SGB) di Telukkuantan.

Pekerjaannya dimulai dari guru hingga jadi Kepala di SD 002 Benai. Kemudian pensiun sebagai Penilik Sekolah di Kecamatan Kuantan Hilir.

Kemudian dari pernikahannya dengan Nurma tahun 1955, Yohanis punya sembilan orang anak. Yakni Yohazar alias Otong Lenon, Darwin, Fakhri, Marwan, Mardayanti, Hamdan, Ismagusmita, Apnita, dan Sri Nismala Dewi. Sedangkan dari pernikahan keduanya dengan Yulidar, Yohanis punya anak Yarti Ningsih.

Masa-masa terberat bagi Yohanis adalah ketika satu persatu anak-anaknya sudah harus bersekolah. Kalau hanya mengandalkan gaji guru, apalagi guru SD, jangankan membiayai sekolah anak-anaknya, untuk menafkahi sehari-hari saja sangat berat. Tapi dia bukanlah tifikal kepala keluarga yang lambek.

Yohanis adalah pekerja keras, penuh tanggungjawab, dan juga kreatif. Baginya tidak ada waktu yang terbuang percuma. Setiap pagi hingga siang, hari-harinya tersita untuk memenuhi kewajiban mengajar di sekolah. Sepulang sekolah, ia mencari penghasilan tambahan dengan bertani. Selain sawah, dia memiliki ladang cabe dan ketimun yang ketika panen hasilnya dijual.

Istrinya, Nurma, ikut menopang perekonomian keluarga dengan berjualan di pondok-pondok darurat di sekolah tempat suaminya mengajar. Bermacam jenis penganan yang dijual dan sangat disukai murid-murid SD.

Aneka jenis makanan nulai dari lontong, kue talam, lupis hingga kerupuk ada di kedai itu. Kerja keras dan keuletan pasangan suami istri ini membuat mereka bisa memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Meski tergolong “keluarga besar,” tidak pernah sekalipun mereka sampai tidak makan karena kekurangan atau ketiadaan beras untuk dimasak. “Alhamdulillah, kami tidak pernah sampai tidak makan walau saat itu kondisi ekonomi keluarga sangat berat,” ujar anak keempatnya Marwan.

Namun diwaktu kecil menurut pengakuan Marwan, mereka pernah merasakan makan nasi dari beras bulgur. Beras bulgur itu kalau dimasak nasinya seperti bubur yang bikin pipi kita kembang kempis saat memakannya.

Dan, orang tuanya ujar Marwan punya cara tersendiri supaya makanan yang dimasak setiap hari mencukupi bagi seluruh anak-anaknya. Caranya, tidak seorang pun yang boleh makan lebih dulu atau makan sendiri-sendiri karena itu bisa mengurangi “jatah” yang lainnya.

“Kami makan secara bersama-sama sehingga seluruhnya kebagian secara merata. Biasanya kami sering melakukan pada saat makan malam,” ujar Marwan mengenang masa lalunya.

Yohanis selalu mengingatkan anak-anaknya sudah berada di rumah sebelum senja tiba. Selain dimaksudkan untuk membiasakan mereka salat Magrib berjamaah. Makan malam bersama merupakan saat-saat yang tepat bagi Yohanis untuk memperkuat ikatan tali persaudaraan antara anak-anaknya.

Terkadang usai makan malam Yohanis juga menjadikan pertemuan di ruang makan itu sebagai ajang untuk berdiskusi, membahas persoalan-persoalan harian anak-anaknya, serta menyampaikan petuah-petuah hidup sebagai bekal pengalaman anak-anaknya kelak.

Meski begitu keluarga ini tidak selamanya dapat berkumpul bersama-sama untuk menikmati makan malam. Terlebih ketika empat anak-anak laki-laki Yohanis mulai beranjak remaja. Karena terbatasnya kamar tidur, Marwan bersama tiga abangnya, Yohazar, Darwin, dan Fakhri harus memilih tidur di rumah tetangga. Kebetulan saat itu tetangga mereka, Anwar Abbas punya rumah di sebidang tanah di Dusun Rantau Talau.

Kelak di kemudian hari anak-anaknya berhasil mentas dengan kemandiriannya masing-masing. Sebagian besar anaknya menjadi PNS. Hanya Marwan sendiri yang terjun ke dunia politik.

Yohanis meninggal dunia di RS Harapan Kita, Jakarta pada 12 Oktober 2012. Dia meninggal dunia bertepatan pada HUT ke 13 Kabupatena Kuantan Singingi. Di kebumikan di pemakaman suku Kenegerian Benai di Desa Koto Benai, Kecamatan Benai, Kuantan Singingi.

Kepergian Yohanis menimbulkan kenangan bagi anak-anak dan saudaranya. “Kami rindu dengan humor bapak,” ujar Marwan.

Bagi murid-muridnya Yohanis yamg akrab disapa Pak Guru Yanis atau Ongku Yanis. Sedangkan bagi ponakannya disapa Mak Yanis.

Namun kata pujangga Inggris William Shakespeare, What’s In a Bame (apalah arti sebuah nama). Toh, dinamakan apapun harumnya Mawar tetap mewangi jika dicium.

Itulah Yohanis, jasadnya memang sudah di kalang tanah. Namun nama baiknya abadi sepanjang masa.

Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gubernur Budaya

23 April 2026 - 07:54 WIB

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Trending di Kuansing