Menu

Mode Gelap
Pemkab Siak Kukuhkan SOTK Baru, Terjadi Mutasi Demi Kelancaran Pembayaran Gaji ASN Ikuti Seminar Peningkatan Mutu Akademik, Puluhan Mahasiswa Unilak Muntah 3 Rumah di Dusun Nadi Bangka Tengah Terseret Arus Banjir, PT TIMAH Tbk Salurkan 300 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Sepuluh Kepala Daerah dan Tiga Wartawan Raih Trofi Abyakta di HPN 2026 Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 13 Januari 2026: Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada Kecelakaan Tunggal di Pelalawan, Sepasang Karyawan Bank Tewas

Ragam

Fatimah Hadi (1927 – 2007): Perempuan dan Pergerakan Pendidikan Riau dari Kuantan Singingi

badge-check


					Fatimah Hadi bersama suami Ma'rifat Mardjani Perbesar

Fatimah Hadi bersama suami Ma'rifat Mardjani

KITA mengenal pahlawan perempuan. Sebut saja dari Aceh Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia dan Laksamana Malahayati. Kemudian Martha Christina Tiahahu dari Maluku, RA Kartini dan Nyi Ageng Serang (Jawa Tengah). Ada juga Dewi Sartika (Jawa Barat), Andi Depu Maraddia Balanipa (Sulawesi Barat), Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara), Siti Manggopoh dan HR. Rasuna Said (Sumatra Barat), dan Fatmawati (Bengkulu).

Tanpa bermaksud membandingkan dengan pejuang nasional tersebut, Riau punya pejuang perempuan yang layak diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional. Kiprah dan eksistensinya dalam memperjuangkan emansipasi wanita dalam perjalanan bangsa ini patut diperhitungkan.

Di awal kemerdekaan, Fatimah Hadi ikut berjuang mengusir penjajahan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Di era Pemerintah Orde Baru, ia menjadi akademisi/dosen di Universitas Lancang Kuning (Unilak) dan Akademi Koperasi (Akop) Riau. Ia juga mendirikan Pondok Pesantren Darunnajah di kampung halamannya Sungai Ala, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Tokoh yang dimaksud adalah Fatimah Hadi anak tunggal dari pasangan Syech Muhammad Hadi dan Hj. Maryam. Ia lahir di Makkatul Mukaramah (Saudi Arabia) pada 15 Agustus 1927. Suaminya adalah Ma’rifat Mardjani.

Perjuangan

Datuk Muhammad Hadi adalah tokoh dan ulama besar di Sumatra. Ia ikut andil mengembangkan agama Islam di daerah ini. Keilmuannya diperoleh bukan saja dari pondok pondok pesantren di Sumatera dan Jawa. Ia bahkan lama bermukim di Makkah dan Madinah. Setelah pulang ke tanah air, ia menjadi “Mukti” Kerajaan Indragiri sebelum Indonesia merdeka.

Sementara Ma’rifat Mardjani adalah tokoh pertama pencetus dan pendiri Provinsi Riau. Saat jadi anggota parleman RI (sekarang DPR RI) di Jakarta. Ia yang meminta Provinsi Riau berdiri sendiri terpisah dari Sumatra Tengah yang berpusat di Bukittinggi.

Di masa pejuangan, Fatimah Hadi menjadi anggota dapur umum dan anggota Palang Merah Indonesia Pemerintahan Darurat Riau Selatan yang berbasis terakhir Desa Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan. Dia membantu suaminya Ma’rifat Mardjani dan pejuang lainnya di garda terdepan melawan Belada dalam menyiapkan makanan.

Fatimah Hadi berjuang dalam masa pemulihan keamanan setelah Indonesia merdeka yaitu sekitar tahun 1946-1949 pada masa Agresi Militer Belanda II. Dan, keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang menempatkannya menjadi anggota Veteran RI untuk wilayah Riau. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Korps Wanita Veteran RI Wilayah Riau.

Bhakti Fatimah Hadi semasa hidup di dunia pendidikan ibarat air mengalir tiada henti. Ia mengembangkan pendidikan dan memberi pendidikan gratis kepada anak-anak yang tidak mampu.

Bermodalkan tanah warisan dari orang tuanya Datuk Muhammad Hadi, Fatimah Hadi mendirikan Pondok Pesantren Darunnajah tahun 2000 di kampung halamannya Sungai Alah. Pondok ini bernaung dibawah Yayasan Riau Bulletin yang didirikan suaminya Ma’ rifat Mardjani. Yayasan ini berkerjasama dengan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Namun di sisi management dan administrasi pondok ini berdiri sendiri.

Sampai saat ini Pondok ini masih berjalan dengan baik dengan fasilitas pendidikan mulai tingkat TK, MDA, dan MTs. Secara operasional kepala sekolah/ kepala madrasah ditunjuk oleh yayasan. Sedangkan pengawasan dilakukan oleh anak-anaknya yang berada dalam kepengurusan yayasan. Kini alumninya tersebar di berbagai daerah dengan jenis pekerjaan yang beragam.

Penghargaan

REUNI akbar dan Musyawarah Wilayah pengurus Ikatan Keluarga Diniyah Putri Padang Panjang–Riau memberikan penghargaan kepada enam tokoh perempuan dan penggerak pendidikan di Riau. Masing-masing Fatimah Hadi (Kuantan Singingi), Roslaini (Rokan Hulu), Maimanah Umar (Kampar), Chadijah Ali, Syamsidar Yahya (Pekanbaru), dan Tengku Agong Syarifah Latifah (Siak).

Penghargaan diberikan langsung kepada ahli waris oleh Gubernur Riau melalui Kepala Biro Kesra Provinsi Riau, Zulkifli Syukur di Menara Dang Merdu Pekanbaru, 23 Oktober 2022. Yang jadi dasar penghargaan itu adalah pengamatan dan penilaian pengurus terhadap dedikasi dan kepedulian para tokoh perempuan dalam meningkatkan harkat perempuan Riau dan pendidikan di Riau.

Hafny Ma’rifat mewakili keluaga besar Fatimah Hadi mengucapkan terima kasih atas penghargaan kepada sang ibunda dan berharap bahwa apa yang telah dicontohkah oleh para generasi sebelumnya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda saat ini.

Sosok Panutan

DI MATA keluarga Fatimah Hadi yang dipanggil Ummi adalah sosok panutan dalam hidup, tempat belajar, pejuang, dan pendidik yang tidak mengenal lelah, dan mencintai keluarga. Sosok yang layak digugu, ditiru, dan tak pernah menggurui.

“Bagi kami anak- anaknya, Ummi adalah panutan dalam hidup. Kami belajar memaknai hidup dari Ummi. Bagaimana seorang ibu berjuang keras mendidik anak-anaknya hingga mampu mengantarkan kami sebelas anaknya ke jenjang pendidikan perguruan tinggi,” ujar Nariman Hadi.

Menurut Nariman, pada masa itu tidak semua orang tua berpikir ke depan dalam pendidikan anak-anaknya. Dan Ummi mencontohkannya. Ummi memperoleh gelar sarjananya dari IAIN kini UIN Sustan Syarif Qasim, Pekanbaru di kala usianya telah melebihi 50 tahun.

Setelah suaminya Ma’rifat Mardjani menyelesaikan tugasnya sebagai Anggota Parlemen RI, kembali ke Riau. Tepatnya di Kota Pekanbaru. Di Pekanbaru, Fatimah Hadi mengembangkan minat dan bakatnya di dunia pendidikan dengan mengajar di berbagai tempat: Akademi Koperasi Riau, Universitas Lancang Kuning, dan guru di Sekolah Pendidikan Guru.

Dilanjutkan Anak

DUNIA pendidikan yang dulu digeluti Fatimah Hadi sekarang dilanjutkan anak-anaknya: Nelly Nailatie. Sebelum ajal menjemput, ia menjadi dosen Marketing pada Universitas Bina Nusantara dan London School Jakarta.

Selanjutnya Hafny Ma’rifat pernah jadi Dosen Bahasa Inggris pada UIN Susqa, Pekanbaru, Nariman Hadi (Dosen Pertanian di Universitas Islam Kuantan Singingi Telukkuantan, dan Devi Fauziah Ma’rifat, (Dosen Luar Biasa Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

Fatimah Hadi meninggal dunia tahun 2007 dalam usia 70 tahun. Dimakamkan di kampung halamannya Desa Sungai Ala yang terletak 35 km dari pusat kota Taluk Kuantan atau 200 Km dari Provinsi Riau menuju perbatasan Sumbar-Riau. Makamnya berdampingan dengan orang tuanya Datuk Muhammad Hadi dan suaminya Ma’rifat Mardjani.

Kendati sudah meninggal dunia. Namun jasa dan perjuangannya tidak akan pernah dilupakan. Fatima Hadi adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo (Di Depan Memberi Contoh), Ing Madyo Mangun Karso (Di Tengah Memberi Semangat), Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberi Dorongan).

Fatimah Hadi memang telah tiada. Namun semangat juang perlu diwariskan generasi muda, utamanya kaum perempuan. Selamat jalan Ummi.

Riwayat Hidup
Nama : FATIMAH HADI
Tempat Lahir Makkatul Mukaramah, 15 Agustus 1927 M / 3 Safar 1346 H
Ayah : Dt. H. Muhammad Hadi
Ibu : Sitti Maryam
Suami: Ma’rifat Mardjani
Anak : Nelly Nailatie Ma’arif, Muhammad Hasby, Niwana, Achmad Zahedi, Hafny Ma’rifat, Zahratil Hilal, Nizma Hanum, Suzanna Hadi, Nariman Hadi, Nurul Uyuni, dan Devi Fauziah
Wafat: Pekanbaru, 27 Januari 2007 di makamkan di Desa Sei Alah, Hulu Kuantan, Kuantan Singingi.

PENDIDIKAN:
1. Bustanul Banat di Makkatul Mukaramah tahun 1938
2. Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Bengkawas, Bukitinggi tahun 1945
3. Kuliyatul Mualimin di Bukit Tinggi tahun 1945
4. KPU-B satu tahun di Rengat tahun 1953
5. Kursus Kostum Charman di Jakarta tahun 1959
6. Sarjana Muda Syariah, IAIN Susqa di Pekanbaru tahun 1976
7. Sarjana Lengkap Tarbiyah, IAIN Susqa di Pekanbaru tahun 1982

PENGABDIAN:
1. Guru Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Bukitinggi (1 Januari 1944 s.d 1 Oktober 1945).
2. Guru Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Taluk Kuantan (1 November 1945 s.d 30 Desember 1947)
3. Guru Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Taluk Kuantan (1 November 1945 s.d 30 Desember 1947)
4. Anggota Dapur Umum dan Pemerintah Darurat Riau Selatan di basis terakhir clash ke-II di Lubuk Ambacang (1 Januari 1948 s.d Pemulihan Keamanan tahun 1949).
5. Guru pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Rengat (1 Januari 1950 s.d 1 Juni 1956).

PENGALAMAN KERJA
1. Guru SD Negeri 3 Air Molek, Kecamatan Pasir Penyu
Indragiri Hulu (1 Agustus 1965 s.d 1 Juni 1967).
2. Guru Madrasah Raudatul Muta’alimindi Pekanbaru (1 Juli 1967 s.d 30 Desember 1972).
3. Guru SD Darul Amal (1 Januari 1973 s.d 30 Juni 1976).
4. Pegawai Pengadilan Agama Pekanbaru (1 Juni 1976 s.d 30 Desember 1982).
5. Dosen Unilak, di Pekaanbaru (1 Agustus 1982 s.d 30 Juni 1987)
6. Guru SPG Negeri Pekanbaru (1 Januari 1983 s.d 30 Agustus 1987).
7. Dosen Akademi Manajemen Koperasi Riau di Pekanbaru (1 September 1987 s.d 1990).

 

Penulis: Sahabat Jang Itam 03-08-2025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

BRK Syariah Resmikan Kantor Baru di Baserah, Perkuat Layanan Perbankan Syariah Enam Kecamatan di Kuansing

22 Desember 2025 - 15:00 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Instan Kurir Pulau Sambu Hadir Siap Melayani Masyarakat Desa Air Tawar dan Sekitarnya

28 November 2025 - 06:48 WIB

Trending di Ragam