“SITUASI malam itu betul-betul mencekam. Ada segerombolan orang tak dikenal tiba-tiba masuk ke halaman rumah kami tanpa permisi. Ayah yang lagi istirahat tentu terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang tersebut.
Dari rumah berdinding papan beratap daun rumbia itulah ayah samar-samar melihat ada orang tak dikenal berupaya mengancam kesalamatan dirinya. Ayah terdiam sejenak. Pikirannya berkecamuk. Melakukan perlawanan tak mungkin. Bertahan sama saja dengan bunuh diri karena lawan tak seimbang.
Melihat situasi yang tak menguntungkan itu Ayah secepat kilat mencoba menyelamatkan diri melalui pintu berukuran kecil ke belakang rumah. Lari ke hutan tak jauh dari rumah meninggalkan anak-anaknya yang masih terlelap tidur.
Dalam situasi yang gelap, orang tak dikenal itu tak menemukan jejak ayah. Ayah kabur menyelamatkan diri tanpa sempat meninggalkan pesan kepada anak-anaknya yang masih kecil dan sedang tertidur pulas.
Orang tak dikenal itu tentu kesal karena target yang mereka cari tak berhasil ditangkap. Mereka pulang dengan tangan hampa. Esok harinya orang tak dikenal itu kembali datang mencari Ayah ke rumah. Yang dicari tentu tak kunjung dapat karena sudah melarikan diri ke hutan belantara.
Untuk melampiskan rasa kesal, mereka menembaki buah kelapa yang terletak di halaman rumah. Buah kelapa berjatuhan dari tandannya. Airnya lalu mereka minum sebagai pelepas dahaga dengan rakusnya. Setelah itu mereka pergi tanpa pamit dan tak pernah datang lagi.
Ketika angkatan udara pusat memborbardir Lubuk Jambi tahun 1958, ibu dan empat anaknya yang masih kecil: Yunilas, Sayuti, Maimun, dan Akmal ikut melarikan diri ke hutan. Bersama masyarakat ibu melarikan diri sampai ke hutan di kawasan Desa Sungai Manau masih di Kecamatan Kuantan Mudik.
Akibat pelarian itu Kak Maimun kena getah jelatang dan membekas di kulitnya. Semasa hidup Kak Maimun selalu bercerita tentang kisah pelarian itu, termasuk kisah tentang getah jelatang. Dan, cerita Kak Maimun itu melekat pada diri kami adik-adiknya termasuk pada anak, cucu dan cicitnya.
Lama Ayah menghilang tanpa kabar. Barulah ketika pasukan PRRI kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Ayah bergabung bersama keluarga tercinta. Ayah ikut bersama pasukan PRRI menyerahkan diri ke tentara Pusat di SD Lubuk Jambi tahun 1960.
Penyerahan yang disaksikan Camat Kuantan Mudik, Intan Hoesin itu dikawal pasukan RPKAD. Pasukan ini merupakan Pasukan Khusus TNI AD sebelum menjadi Kopasus dan Batalyon Diponegoro yang bertugas di Lubuk Jambi.
PERISTIWA penculikan yang mencekam itu diceritakan kembali oleh Nur Badra – anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Sulaiman Khatib dan Intan Zahra. Peristiwa penculikan itu diperkirakan bersamaan waktunya dengan penculikan terhadap Ketua Pertama Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi, Ibad Amin tahun 1958.
Pada peristiwa nahas itu Sulaiman Khatib berhasil melarikan diri. Rekannya Ibad Amin hilang tanpa jejak. Penculik adalah tentara Pusat yang menumpas pasukan PRRI di Lubuk Jambi dan sekitarnya yang melakukan Operasi 17 Agustus.
Operasi penumpasan perlawanan PRRI di Sumatra Tengah yang meliputi Riau, Jambi, dan Sumatra Barat ini dipimpin Kolonel Ahmad Yani. Sedang di Lubuk Jambi sendiri, operasi ini dipimpin Kapten Fadillah.
Kapten Fadillah merupakan putra Lubuk Jambi yang ikut merintis pendirian BKR dan TKR yang menjadi cikal bakal TNI di Riau. Namanya kini diabadikan sebagai nama tugu yang terletak di pasar Lubuk Jambi berdekatan dengan SD 001 Lubuk Jambi.
Kendati hanya dapat cerita dari kakak-kakaknya Yunilas, Sayuti, dan Maimun, namun Nur Badra masih mengingat dengan jelas jalan cerita itu. “Saat kejadian mencekam itu saya belum lahir,” ujar Nur Badra yang lahir Desa Kinali, Kecamatan Kuantan Mudik pada 12 Maret 1960.
Nurbadra menceritakan dirinya lahir bertepatan dengan 14 Ramadhan. Namanya punya arti tersendiri. Nur = Cahaya, Badra = Bulan Cahaya atau Bulan Purnama. Nur Badra artinya “Cahaya Bulan Penuh.” “Itu cerita ibu saya,” tambahnya.
Nur Badra kini pulang kampung ke Desa Kinali bersama suami tercinta Nasirman Ali setelah pensiun sebagai Guru SMP 2 Tembilahan, Indragiri Hilir pada 1 Januari 2021. Sedangkan sang suami tercinta asal Desa Paboun pensiun sebagai Kepala SD Muhammadiyah di Tembilahan.
Menurut Nur Badra, ayahnya dicari karena dicurigai Pemerintah Pusat pro dengan pemberontak PRRI seperti halnya tokoh-tokoh Muhammadiyah di Lubuk Jambi. “Ayah kami selamat, sementara teman seperjuangannya banyak yang hilang tanpa jejak. Satu di antaranya Ibad Amin,” ujarnya.
Jika Ibad Amin disebut sebagai Pembuka Dakwah Muhammadiyah, Sulaiman Khatib adalah orang yang menjemput Muhammadiyah di Padang Panjang untuk dikembangkan Lubuk Jambi. Ia membawa Muhammadiyah ke Lubuk Jambi karena kegelisahannya sebagai tokoh muda dan terpelajar.
Bersama kawan-kawan yang sebagian besar pernah belajar di Perguruan Thawalib Padang Panjang seperti Saad Manan, Raja Ramli, dan Arsyad Sulaiman sepakat mendirikan persyarikatan Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi.
Mereka tertarik karena ide pembaharuan yang dikembangkan Muhammadiyah sesuai dengan situasi dan pikiran mereka sebagai kaum muda terpelajar. Yakni membersihkan agama dari karat-karat adat dan tradisi yang terbukti membuat umat Islam terbelakang dan tertinggal dari umat-umat lain.
Pada tahun 1933, Sulaiman Khatib bersama Dasin Jamal menemui Konsul Muhammadiyah Minangkabau, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang akrab dipanggil dengan AR Sutan Mansur di Padang Panjang. Disepakati bahwa AR Sutan Mansur akan mengutus Ibad Amin mempersiapkan pendirian Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada September 1933, Ibad Amin menerima mandat dari AR Sutan Mansur mendirikan ranting Muhammadiyah di Lubuk Jambi. Bergegas Ibad Amin pulang menjumpai Sulaiman Khatib dan Dasin Jamal untuk mempersiapkan pengukuhan pengurus Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi.
Setelah selesai mengurus segala sesuatu yang menyangkut dengan perizinan kepada Pemerintah, Penghulu, dan Orang Godang, Ibad Amin mengadakan rapat persiapan. Rapat persiapan itu dilaksanakan di Surau Godang, Pasar Lubuk Jambi.
Lalu pada 9 September 1933, terbentuklah kepengurusan Muhammadiyah ranting Lubuk Jambi. Semua tokoh yang mengambil inisiatif dan jadi pengurus pertama ranting Muhammadiyah adalah putra Lubuk Jambi sendiri.
Akhirnya Ibad Amin ditunjuk sebagai Penasehat dan Ketua, Mudasin (Wakil Ketua), Sulaiman Khatib (Sekretaris), Raja Ibrahim (Keuangan), Sa’ad Manan dan Arsyad (Pembantu). Kepengurusan ini berhubungan lansung dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta yang pimpin oleh KH Hisyam (1934-1937).
Sulaiman Khatib punya peran penting dalam perjalanan tumbuh kembang Muhammadiyah di Lubuk Jambi. Apalagi sesaat setelah kepengurusan Muhammadiyah terbentuk langsung mendapatkan pertentangan dari ninik mamak dan kaum adat.
Kaum adat dan ninik mamak menganggap kehadiran Muhammadiyah memberantas dan menentang kebiasaan yang telah mendarah daging dalam kehidupan mereka. Walaupun mereka sendiri sadar kebiasaan itu merusak dan bertentangan dengan ajaran Islam yang berdasarkan al-Qur‘an dan Hadits.
Tindak tanduk Muhammadiyah mereka anggap merusak tatanan kehidupan yang telah mapan. Muhammadiyah dinilai menjatuhkan kewibawaan ninik mamak dan kaum adat di tengah masyarakat.
Maka dilancarkan fitnah terhadap para tokoh Muhammadiyah agar masyarakat membenci dan mengucilkan serta menjauhi dan selalu berusaha menghalangi pertumbuhan dan perkembangannya.
Namun demikian, betapapun hebatnya tantangan yang dihadapi, para pendirinya tak pernah surut langkah. Semakin dihalangi, Muhammadiyah ranting Lubuk Jambi yang dipelopori kaum muda intelektual malah makin berkembang.
Kenapa?
Salah seorang cucu Sulaiman Khatib, Jon Finaldi ninik mamak dan kaum adat akhirnya takluk dengan kegigihan kalangan muda Muhammadiyah.
“Ninik mamak yang dari awalnya menentang akhirnya bersimpati. Mereka mendukung pergerakan Muhammadiyah,” ujar anak Nur Badra ini
Nah, akhirnya pada masa kepemimpinan Hasan Arifin (1935-1940) Muhammadiyah ranting Lubuk Jambi menjadi tiga ranting. Yaitu Kinali (1937), Sungai Pinang (1938), Pebaun dan Cengar (1938). Setelah itu menyusul ranting lainnya seperti Telukkuantan, Sentajo, Beserah, Peranap hingga Indragiri.
Dan seiring dengan perkembangan, ranting Muhammadiyah Lubuk Jambi berkembang menjadi cabang. Dan, Muhamamdiyah Cabang Lubuk Jambi merupakan cabang Muhammadiyah pertama di Riau.
Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), perjalanan Muhammadiyah mengalami hambatan. Namun bukan berarti mereka mati. Kendati banyak sekolah tutup, namun masih ada yang tetap berjalan.
Di Lubuk Jambi Sekolah Muhammadiyah Madrasah Mua’llimin Muhammadiyah (MMM) tetap berjalan. Di Desa Kinali Madrasah Wajib Belajar (MWB) juga tetap jalan. Kini kedua sekolah binaan Muhammadiyah masih berdiri walau sudah berganti nama.
MMM kini berganti nama menjadi Madrasah Tsanawiyah Muhamamdiyah Lubuk Jambi. Sementara MWB pernah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Muhamamdiyah (MIM). Seiring perjalanan waktu MIM kini menjadi Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) untuk anak-anak belajar agama.
SEBAGAI tokoh Muhammadiyah, Sulaiman Khatib menjadikan Surau Duku di Desa Kinali sebagai pusat dakwahnya. Konon penamaan surau itu karena di lokasi surau itu berdiri banyak pohon duku.
Surau itu semula didirikan ayah Sulaiman Khatib bernama Luhid. Ayahnya dikenal sebagai ulama dan guru agama terkenal di Desa Kinali. Luhid punya enam orang anak yakni: Mohammad Yusuf, Mohammad Saleh, Sulaiman Khatib, Zainab, Malian Khatib, dan Adam Khatib.
Surau Duku itu kini masih dipakai sebagai tempat pengajian dan pertemuan anak, cucu, dan cicit Luhid. Setiap tahun pertengahan puasa Ramadhan keluarga besar Luhid buka bersama. Usai lebaran keluarga ini melaksanan halal bihalal di situ.
Menurut Nur Badra, perkumpulan Datuk Luhid itu kini dipimpin oleh Hasmi Adam yang merupakan anak dari Adam Khatib. “Sekarang yang kumpul sudah generasi ke-lima dari keturunan Datuk Luhid. Dan perkumpulan Datuk Luhid merupakan salah satu perkumpulan tertua yang masih bertahan hingga kini,” tambah Nur Badra.
Surau Duku ini punya sejarah panjang dalam sejarah tumbuh kembang dakwah Muhammadiyah di Kuantan Mudik. Di surau ini tokoh Muhammadiyah dan politik Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA) pernah tidur ketika melaksanakan misi dakwah dan politik di Kuantan.
Kuantan jadi halaman belakang rumah HAMKA. Banyak murid ayahnya Syekh Karim Amarullah dan abang iparnya AR. Sutan Mansur yang berasal dari Kuantan.
HAMKA punya banyak kawan di Kuantan yang mengembankan Muhammadiyah di kampung halamannya masing-masing. Sebagian ada pula yang ikut HAMKA bergabung di Partai Masyumi.
SULAIMAN Khatib lahir di Desa Kinali, Kuantan Mudik tahun 1913. Ia punya dua istri: Fatimah dan Intan Zahra. Dari Fatimah, ia punya seorang anak bernama Jusniwati. Sedangkan dari Intan Zahra, ia punya tujuh orang. Yakni Yunilas lahir 1950, Sayuti (1952), Maimun (1954), Akmal (1957), Nur Badra (1960), Asmara (1962), dan Masrul (1965).
Sulaiman Khatib yang pernah bekerja sebagai PNS Dinas Sosial meninggal dunia tahun 1988. Ia dimakamkan di Desa Aur Duri, Kuantan Mudik.*)
Penulis: Sahabat Jang Itam







