RiauKepri.com, TANJUNGPINANG – Di sebuah ruang sidang yang penuh dengan tatapan serius dan lembaran dokumen tebal, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad melangkah ke podium. Jumat sore itu, 22 Agustus 2025, Tanjungpinang bukan sekadar menjadi pusat pemerintahan, melainkan panggung harapan bagi jutaan warga di tujuh kabupaten/kota yang tersebar di gugusan pulau-pulau.
Ansar tak sekadar membacakan nota keuangan. Ia menyulam narasi pembangunan Kepri dengan satu benang merah: “Optimalisasi Potensi Sumber Daya Alam Secara Berkelanjutan dalam Akselerasi Peningkatan Ekonomi Kerakyatan.” Sebuah kalimat panjang yang, bila diurai, sebenarnya sederhana: bagaimana Kepri bisa sejahtera tanpa kehilangan jati diri maritimnya.
Pertumbuhan yang Menggembirakan
Di tengah tantangan global yang penuh ketidakpastian, Kepri justru mencatatkan capaian manis. Ekonomi tumbuh 7,14 persen (year on year) pada Triwulan II 2025. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi denyut nadi geliat UMKM, aktivitas pelabuhan, hingga geliat pariwisata yang kembali hidup setelah badai pandemi.
Bahkan, sumbangan Kepri terhadap PDRB Pulau Sumatera mencapai 7,18 persen. Sebuah pencapaian besar bagi provinsi kepulauan yang luas lautnya 96 persen lebih besar dibanding daratannya.
Wajah Kemiskinan yang Mulai Memudar
Lebih membahagiakan lagi, angka kemiskinan di Kepri terus menurun. Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin tercatat 117,28 ribu orang atau 4,44 persen. Angka ini menurun dari 4,78 persen pada September tahun sebelumnya. Penurunan tipis, mungkin, tetapi di baliknya ada kisah tentang program bantuan pangan, peningkatan akses pendidikan, hingga pemberdayaan nelayan dan pedagang kecil yang mulai menuai hasil.
Tingkat pengangguran terbuka pun ikut menyusut, meski perlahan, menjadi 6,89 persen. Angka itu masih pekerjaan rumah besar, tetapi bagi Ansar, tren penurunan ini adalah pijakan optimisme.
Menjaga Laut, Membangun Darat
Kepri bukan Jakarta, bukan pula Medan. Sumber dayanya ada di laut, di tambang bauksit, di energi baru terbarukan, dan di potensi pariwisata bahari yang menunggu disentuh lebih dalam. Karena itu, pembangunan yang ditawarkan Ansar bukan sekadar jalan raya atau gedung beton, melainkan infrastruktur konektivitas antar-pulau, digitalisasi layanan publik, hingga pengembangan SDM yang siap bersaing di era industri maritim global.
“Prioritas pembangunan kita diarahkan pada optimalisasi perekonomian daerah, pembangunan infrastruktur wilayah, serta pembangunan manusia yang berkualitas dan berbudaya,” tegasnya.
Ekonomi Kerakyatan di Tengah Globalisasi
Di balik semua angka dan target, ada pesan yang ingin ditegaskan Ansar: pembangunan Kepri tak boleh hanya dinikmati investor besar atau korporasi multinasional. Nelayan di Lingga, petani di Bintan, pedagang di Karimun, hingga anak muda kreatif di Batam harus menjadi bagian dari cerita besar ini.
Optimalisasi sumber daya alam tak boleh jadi jargon belaka. Ia harus berwajah kerakyatan, bernafas keberlanjutan, dan bertumbuh dari kearifan lokal masyarakat pulau.
Sebuah Catatan Harapan
Pidato Ansar di ruang paripurna mungkin terdengar formal, penuh istilah teknokratis. Namun, bila dicermati, ada satu pesan sederhana yang ingin ia sampaikan: Kepri sedang bergerak. Tidak cepat, mungkin juga tidak sempurna. Tetapi angka pertumbuhan, penurunan kemiskinan, dan geliat pembangunan menunjukkan bahwa kapal besar bernama Kepri sedang menambang harapan di tengah lautan potensi.
Dan seperti kata orang bijak di kampung nelayan: “Laut itu luas, tapi rezeki akan datang pada siapa yang berani berlayar.” (RK9)







