Menu

Mode Gelap
Sambut Ramadhan 1447 H, PKK dan Kader Posyandu Isi Tausiyah dan Salurkan Paket Sembako Dua Pria Nekat Garap Hutan Lindung TWA Sungai Dumai Jadi Kebun Sawit Polsek Rangsang Bantu Korban Kebakaran Rumah Hanya Tiga Perusahaan Resmi Tambang Pasir di Bintan, Selain Itu Illegal Jemput Bola ke Pulau-Pulau, Imigrasi Selatpanjang Luncurkan Program Limau 1500 Paket Habis Terjual dalam Pasar Murah AMT di Meranti

Ragam

Hasan Basri JS (1935 -1981): Tokoh Mahasiswa di Balik Pembentukan Provinsi Riau dari Kuantan Singingi

badge-check


					Hasan Basri tokoh pembentukan Provinsi Riau Perbesar

Hasan Basri tokoh pembentukan Provinsi Riau

PERJUANGAN pemuda pelajar mahasiswa sebelum dan pasca terbentuknya Provinsi Riau tidak bisa dilepaskan dari sosok pria yang satu ini. Tokoh dan aktifis ini punya andil besar dalam Pembentukan Provinsi Riau yang kita cintai ini.

Namanya memang nyaris dilupakan atau bisa jadi dilupakan. Tapi sejarah sudah mencatatnya. Dan, saksi sejarah bisa menceritakan kisah heroik perjuangan “Anak Jake” sebagai tokoh pemuda pelajar mahasiswa dalam Pembentukan Provinsi Riau.

Sosok yang dimaksud adalah Hasan Basri Djohasan yang lebih dikenal dengan Hasan Basri JS. Lahir di Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantan Singingi, Riau pada 5 November 1935. Ayahnya Johasan dan ibunya Timah Risun.

Masa kecil Hasan Basri – tumbuh di tengah perubahan besar, melewati tiga zaman: Penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang, dan masa kemerdekaan Indonesia. Dia terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara. Saudaranya kandungnya yang lain adalah Hasan Noesi JS, Ida Rosni JS, Djaliusni JS, Asni JS, dan Akmal JS.

Orang tua Hasan Basri, Djohasan berasal Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi. Semasa hidup Djohasan pernah menjadi “induak somang gotah” dan “wali nogori” di Jake tahun 1960-an. Sedangkan ibunya, yang dilahirkan di Segambut, Malaysia asal Simandolak semasa hidup pernah bekerja sebagai pedagang barang harian dan keliling.

Pendidikan dasar dilalui Hasan Basri di SR Jake tamat 1947. Kemudian melanjutkan ke SMP di Taluk Kuantan lulus 1950. Setelah lulus lanjut ke SMA Negeri 1 Padang. Sibuk berorganiasi dia sempat tinggal setahun waktu sekolah di SMA. Selulus SMA pada 1954, dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Andalas (FH Unand) Padang. Lagi-lagi kuliahnya “kandas” di tengah jalan pada 1956.

Selama jadi pelajar dan mahasiswa di Padang (1951 – 1956), Hasan Basri aktif dalam dunia pergerakan. Dia ditunjuk sebagai Ketua Pemuda Pelajar Mahasiswa Riau di Kota Padang. Di sinilah jiwa pemberontaknya mulai bergolak. Dia sering ikut melakukan aksi demo melawan tindakan semena-mena yang dilakukan Pemerintah Pusat di daerah.

Semasa kuliah di Unand, Hasan Basri ikut Kongres Rakyat Riau yang diadakan pada 31 Januari – 2 Februari 1956 di Pekanbaru. Dia merupakan Ketua Delegasi Kota Besar Padang Kongres Pemuda Pelajar Mahasiswa Masyarakat Riau.

Kongres tersebut diikuti perwakilan tokoh pemuda pelajar mahasiswa dan tokoh masyarakat Riau dari berbagai daerah di Riau. Hasan Basri termasuk salah seorang tokoh pembentukan Provinsi Riau dari Kuantan Singingi. Tokoh lainnya adalah Umar Amin Husin, Ma’rifat Mardjani, Radja Roesli, Mudahi, dan Abdoel Raoef.

Sebagai penghormatan atas perjuangan tersebut, Gubernur Provinsi Riau, Rusli Zainal mengeluarkan Keputusan Nomor Kpts. 378/VIII/2005 tanggal 9 Agustus 2005 tentang: pemberian piagam penghargaan kepada tokoh-tokoh masyarakat Riau atas jasa-jasanya dalam pembentukan Provinsi Riau.

Piagam penghargaan tersebut diberikan Rusli Zaenal sampena HUT ke-46 Provinsi Riau tahun 2005. Piagam ini diterima oleh ahli waris masing-masing saat sidang Paripurna Anggota DPRD Riau di Gedung Lancang Kuning, Pekanbaru.

Ahli waris Hasan Basri yang menerima penghargaan diwakili oleh anak keduanya Herni Basri. Figura dengan bingkai kuning itu sekarang masih di pajang di ruang tamu kediaman orang tua mereka di Jalan Gunung Sahilan No. 50 Kelurahan Sekip Kecamatan 50 Kota, Pekanbaru.

Di samping piagam itu juga terdapat foto sang pemilik piagam (Hasan Basri) dalam ukuran post card warna putih. Walaupun antara piagam dan foto tak bisa bicara setidaknya menjadi bukti bahwa di rumah itu dulu pernah tinggal seorang pejuang pembentukan Provinsi Riau.

Pulang Kampung

HASAN Basri berhenti kuliah di Unand, Padang pada 1956 karena penghasilan orang tuanya yang makin menipis seiring semakin banyak anaknya yang sekolah. Dia “mengalah” dengan adik pertamanya (Hasan Nusi JS) yang kuliah di Sekolah Tinggi Olahraga Jakarta dan adik ketiganya (Djaliusni JS) sekolah kebidanan di Jambi.

Setelah “berhenti” kuliah Hasan Basri memilih “pulang kampung” ke Riau. Di Riau dia bekerja sebagai anggota BPH di Rengat. Saat itulah dia memboyong seluruh adik-adiknya tinggal bersamanya di Rengat.

Inilah bentuk tanggungjawab Hasan Basri sebagai abang kepada adik-adiknya. Ini juga untuk membalas dosanya yang kandas kuliah di tengah jalan. Dia ingin seluruh adiknya sukses dan selesai sekolah tidak seperti dirinya yang berhenti di tengah jalan.

kemudian diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil tahun 1960 di tempatkan di Rengat yang waktu itu menjadi ibu kota Kabupaten Indragiri. Seiring perjalanan waktu karier Hasan Basri terus naik. Berbagai jabatan pernah dipegangnya. Yakni Camat Pasir Penyu (1967 – 1969), Camat Dumai (1969 – 1975), Camat Rengat (1975 – 1977), dan Kepala Bagian Pemerintahan Kota Madya Tk. II Pekanbaru (1977 – 1981).

Hasan Basri menikah dengan Raja Aminah asal Desa Kari. Istri Hasan Basri pernah jadi guru di Sekolah Kepandaian Putri Air Molek, Kecamatan Pasir Penyu, Indragiri Hulu. Kemudian seiring penugasan suaminya di berbagai daerah, istrinya berhenti kerja sebagai guru.

“Waktu ayah jadi camat di Dumai kala itu tak ada Sekolah Kepandaian Putri. Ibu memilih berhenti menjadi guru karena tugasnya sebagai Ketua PKK tingkat kecamatan menyita waktunya. Apalagi waktu itu anaknya semakin banyak,” ujar Herni Basri salah seorang anaknya.

Dari pernikahan dengan Raja Aminah, Hasan Basri punya sembilan orang anak. Yakni Herawaty Basri Lahir 1960 terakhir pensiun sebagai PNS di Kantor Camat 50 Pekanbaru, Herny Basri keahiran 1961 pensiun Dinas Kelautan Perikanan Riau, Hasnila Kesuma kelahiran 1963 pensiun sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Siak.

Kemudian Helmiaty Basri kelahiran 1965 pensiunan Kementerian Tenaga Kerja RI di Jakarta, Hastuty Neng Basri kelahiran 1967 pensiunan Dinas Pendidikan Riau, Harisman Basri kelahiran 1969 saat ini kerja di Dinas Pendidikan Riau. Tiga dari sembilan anaknya memilih bekerja di swasta yakni Hasriaty Dewi kelahiran 1971 kerja Riau Pos Grup. Begitu juga dengan Herlina Basri kelahiran 1973 dan Hendra Putra kelahiran 1975 memilih swasta sebagai swasta sebagai ladang pengabdiaannya.

Sosok Penyayang

Sebelum meninggal dunia Hasan Basri pada usia 46 tahun sempat dipromosikan sebagai Sekwilda Tk. II Kabupaten Kampar. Namun Tuhan berkendak lain. Pada Sabtu, 14 November 1981 dia meninggal dunia di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta karena penyakit diabetes melitus dan hipertensi yang dideritanya. Keesokan harinya, Minggu 15 November 1981 di makamkan di Taman Pemakaman Umum Kelurahan Tanjung Rhu, Kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru.

Kepergian Hasan Basri yang begitu cepat diusia yang tergolong muda tentu meninggalkan duka yang mendalam bagi anak-anaknya. “Kami kehilangan sosok Ayah yang sangat penyayang pada keluarganya. Ayah sosok yang ringan dalam menolong orang yang membutuhkannya,” ujar Herni Basri salah seorang anaknya.

Menurut Herni ketika ayahnya meninggal dunia dari sembilan orang kakak beradik baru anak tertuanya (Herawaty) yang lepas dan menikah. Yang paling bungsu (Hendra Putra) masih berumur enam tahun. Dengan Ibu yang tidak bekerja, Alhamdulillah Allah tidak pernah sia-sia. Tuhan mendengar dan menjabah doa kami.

Menurut Herni beberapa saat setelah semua urusan ayahnya selesai, mereka menjual rumah peninggalan orang tuanya Dumai. “Uang hasil penjualan rumah itu kami jual untuk pergi Umrah bersama. Dari Tanah Suci kami berdoa semoga Ayah di lapangkan kuburannya dan di tempatkan di surganya. Amin,” tambahnya.

Dimata Hairuddin, Hasan Basri adalah sosok yang baik. Bahkan sangat baik. Semasa hidup dia suka menolong tanpa melihat asal usul orang. Tak hanya menolong saudara, sekampung, atau tidak sekampung yang penting orang Kuantan Singingi pasti ditolongnya. Dan, sikap seperti itu juga mengalir kepada adik dan anaknya.

Menurut Hairuddin, Hasan Basri membantu orang sesuai kapasitas orang tersebut. Ada yang jadi PNS, jadi Tibum, security di PT. Caltex, pegawai bank, dan perawat. Banyak juga yang dimasukan ke APDN yang waktu itu sering diplesetkan orang sebagai sekolah calon camat.

Dalam pandangan Hairuddin, Hasan Basri dan juga istri adalah pasangan suami istri yang humanis dan peduli kepada sesama. “Saya pernah singgah di rumah Mak Hasan di Pekanbaru. Waktu itu saya melihat banyak anak muda dari berbagai kampung di Kuantan Singingi di sana. Saya melihat masakan yang sangat banyak,” ujar Hairuddin.

Dan ketika makan makan pasangan suami istri ini tidak membedakan mana makanan keluarga dengan makanan anak-anak yang tinggal di rumahnya. “Saya melihat sendiri Amai sedang menyuapkan anak untuk bungsunya (Hendra Putra) dengan makanan yang sama dengan yang kami makan,” tambah Hairuddin yang juga pensiunan dari Dinas Perikanan Provinsi Kepulauan Riau ini.

Menurut Hairuddin, dalam keluarga dirinya memanggil Hasan Basri mamak (paman) dan istrinya Raja Aminah dengan amai. Dan, panggilan itu melekat dan sesuai dengan adat. Mudah-mudahan Allah tempatkan Mak Hasan di tempat yang baik bersama sama dengan orang-orang sholeh sholihah sebelum kita. Amiin.

Benar kata peribahasa yang mengatakan:
Adat tebu meningkat naik meninggalkan ruas dengan bukunya; Adat manusia meningkat meningkat turun meninggalkan adat dengan pusaka, nama baik jadi sebutan kerja elok jadi teladan.

Itulah gambaran Hasan Basri. Dia memang telah tiada – tapi nama baiknya abadi sepanjang masa.

*) Penulis: Sahabat Jang Itam 11-09-2025

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis