RiauKepri.com, SIAK – Langit mendung menaungi Kota Siak sejak pagi. Tapi awan kelabu itu tak cukup untuk menghalangi ribuan warga yang berbondong-bondong menuju satu tempat, rumah dinas Bupati Siak.
Di Sabtu akhir pekan, 27 September 2025, halaman rumah dinas tak lagi terasa sakral. Dari pukul tujuh pagi hingga sepuluh malam, suara tawa anak-anak, teriakan riang warga, dan alunan musik rakyat memenuhi udara. Hujan yang turun di tengah hari tak membuat warga bubar. Mereka tetap tinggal, beberapa anak malah menjadikan hujan sebagai permainan, menendang bola di tengah halaman.
Ini bukan perayaan ulang tahun daerah, bukan pula pesta pembesar. Ini adalah pembukaan Komplek Rumah Rakyat Abdi Praja, sebuah inisiatif baru yang dihidupkan oleh Bupati Siak, Afni Zulkifli, bersama wakilnya, Syamsurizal. Rumah yang dulunya hanya untuk tamu-tamu besar kini dibuka bagi semua kalangan.
“Selama ini warga tak tahu mana rumah Bupati, mana rumah Wakil, mana rumah Sekda,” kata Mimi, penggerak UMKM dari Sanggar Mahligai, salah satu stan yang ikut meramaikan acara.
“Dulu, rumah-rumah itu rasanya seperti bukan milik kami. Tapi sekarang sangat jauh berbeda,” ucap Mimi.
Membuka Pintu
Komplek Rumah Dinas Bupati yang selama ini hanya disambangi pejabat luar kota atau tamu-tamu protokoler, kini menjelma jadi rumah rakyat. Tembok eksklusivitas yang tak terlihat tapi terasa selama bertahun-tahun, kini lesap diganti senyum warga dan kegiatan kolektif.
Ada 17 rangkaian acara yang digelar hari itu. Mulai dari senam pagi, pelayanan kesehatan dan administrasi, hingga pasar murah dan pemutaran film. Ada juga demo masak, permainan tradisional, tur komplek dengan odong-odong, hingga demo pemadaman kebakaran yang menghibur anak-anak.
Salah satu yang paling ramai adalah stan UMKM dan bazar kuliner. Warga berdesakan, bepanja berbagai masakan khas Melayu. Di pojok lain, perpustakaan keliling berdiri bersisian dengan display arsip Kabupaten Siak.
“Ini bukan sekadar acara hiburan,” kata Bupati Afni di tengah kerumunan warga.
“Ini adalah rumah rakyat. Kalau tidak dibuka untuk apa rumah ini dibangun dari uang rakyat?,” katanya.
Menanam Harapan
Tak hanya membuka pintu rumah, Pemerintah Kabupaten Siak juga menanami halaman dinas dengan sayur-mayur, cabai, jagung, bahkan kolam kecil berisi ikan mas dan nila. Program yang diberi nama Pangan Mandiri ini memungkinkan masyarakat memanen langsung hasil kebun jika sudah siap.
Bagi Mimi, ini adalah perubahan nyata. “Saya terharu. Biasanya pemimpin jauh dari rakyat. Sekarang kami bisa bertemu, bersapa, bahkan panen bersama,” katanya.
Program pembukaan rumah dinas ini rencananya akan digelar rutin setiap bulan. Tak hanya sebagai ajang hiburan, tapi juga sebagai sarana pelayanan, pemberdayaan, dan tentu saja, pendekatan sosial-politik antara pemerintah dan masyarakat.
Tak Lagi Jauh
Jika dulu rumah dinas hanya disebut-sebut saat ada kunjungan menteri atau presiden, kini warga Siak menyebutnya dengan nama baru: Rumah Rakyat.
Di tempat ini, politik tak terasa kaku, dan kebijakan tak terdengar asing. Warga menyambut pemimpinnya dengan tangan terbuka, seperti menyambut tamu lama yang akhirnya pulang.
Dari balik mendung yang menggantung hari itu, satu hal menjadi jelas, di Siak, rumah tak lagi dibatasi pagar. Ia terbuka, tumbuh, dan mulai dihuni oleh harapan. (RK1)








