ANUAR BOY adalah salah seorang sosok yang familiar di Kuantan Singingi. Kendati sudah meninggal dunia tahun 2017 lalu, nama pria asal Desa Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi masih tetap diingat.
Sapaan akrabnya adalah Nuar Belek. Sosoknya tegas, lugas, apa adanya, dan sangat peduli dengan sesama. Terkadang ia kelihatan seperti “polisi” dalam film India: seram, menakutkan, dan lucu. Dia sering memakai baju loreng seperti layaknya tentara yang tengah bertugas.
Banyak orang yang takut dengan penampilan wajah pria kelahiran Sentajo tahun 1939 yang sering disebut “preman pasar” Taluk Kuantan paling ditakuti anak kecil. Namun banyak orang yang tidak tahu jika hatinya lembut bagaikan salju. Sosok ringan tangan yang suka membantu sesama.
Pada event besar dan keramaian yang digelar di ibu kota Kuantan Singingi, Taluk Kuantan, Nuar Belek sejak 1950-1990-an pasti hadir. Misalnya, pacu jalur di tepian Narosa hingga pertandingan sepakbola di lapangan Limuno.
Di pundaknya melekat tugas sebagai “penjaga keamanan” yang tidak tergantikan. Dia jadi tangan kanan “Pak Tala” dan Nurmin – tentara yang terkenal garang dengan kumis melintangnya di Koramil Taluk Kuantan.
Dia juga sering membantu “Lek Karso” yang terkenal dengan kulinernya pada era 1970 s.d 1980 an.
Dan, Nuar Belek adalah kepercayaan Warman menjaga pintu masuk Bioskop Kuantan Jaya. Dia juga sering wira wiri di loket sebagai agen dan pasar Taluk Kuantan. Lengkap!
Hidup di Pasar
SEDARI kecil Nuar Belek sudah “hidup” di pasar. Bahkan saat agresi militer Belanda kedua pada 1949 diusianya 10 tahun, dia sudah diajak Bapaknya Ali Nukun adalah saudagar yang berjualan di pasar Taluk Kuantan. Sejak itu ia bergaul dengan anak tentara Belanda yang menduduki Kota Taluk Kuantan.
Terkait ini ada cerita unik, tapi ini fakta. Pada awal tahun 1980-an ada bule dari Belanda menengok kuburan leluhurnya di komplek pemakaman Belanda di Taluk Kuantan. Si bule itu datang bersama pemandunya hanya membawa selembar foto dan secarik kertas sebagai catatan bahwa leluhurnya dimakamkan di Taluk Kuantan saat Agresi Belanda kedua tahun 1949.
Di Taluk Kuantan si bule mencari si-empunya nama Anuar Boy yang ada dalam foto dan catatan tersebut. Banyak yang tidak tau. Untung terlihat foto anak kecil yang ikut menyaksikan pemakaman tersebut. Setelah ditelusuri ada kemiripan foto itu dengan Nuar Belek yang sehari-hari bisa ditemui di pasar Taluk Kuantan.
Lalu Nuar Belek dipanggil dan diperlihatkan foto itu. Setelah melihat secara seksama Nuar Belek mengakui foto itu adalah dirinya diwaktu kecil. Dia kembali mengingat memori masa lalunya sering main dengan anak-anak Belanda yang bertugas di Taluk Kuantan.
Nuar Belek membawa si bule melihat makam leluhurnya. Betapa terkejutnya si-bule ternyata nama yang tertulis di nisan sama dengan nama pejuang Belanda yang meninggal di Hindia Belanda (Indonesia).
Sayang karena keburu waktu keinginan si bule untuk membawa Nuar Belek ke Belanda tak kesampaian. “Bule itu meninggal dunia tak lama sepulang dari Taluk Kuantan,” ujar Nuar Belek suatu ketika.
Hingga tahun 1990-an masih ada keluarga dari Belanda yang berziarah ke makam leluhurnya di Taluk Kuantan. Tapi sekarang makam yang terletak di eks. Kantor Bupati lama sekarang hilang tanpa bekas.
Apa makna yang bisa kita petik? Betapa pentingnya arsip masa lalu. Orang Belanda saja masih ingat sejarah leluhurnya yang dimakamkan di Kuantan Singingi karena ada arsipnya. Masak sekarang, catatan pendirian Kabupaten Kuantan Singingi tidak ada. Gawat …
Nuar Belek kendati tidak tamat SD namun punya punya kemampuan di luar nalar. Dia pandai berbahasa Belanda, Inggris dan Jepang – kendati diucapkan terbata-bata namun masih bisa dipahami. Dan, dia sering menjadi “guide” dadakan jika ada orang Belanda, Jepang, dan Inggris ke Taluk Kuantan.
“Sulit dipercaya ini adalah realitanya. Di balik latar belakang pendidikannya yang rendah terdapat kelebihan di luar nalar. Dan, kelebihan itu tergolong langkah,” ujar Dr. Familus, M.Pd yang jadi saksi hidup melihat kemampuan Nuar Belek berbahasa asing itu.
Dan, menurut mantan Kepsek SMA Pintar Taluk Kuantan, kemampuan Nuar Belek menguasai bahasa asing itu karena dia belajar “otodidak” dan belajar kepada guru-gurunya. “Guru jaman dulu banyak yang pandai bahasa asing seperti Belanda, Jepang, Inggris, dan Arab. Kepada merekalah Nuar Belek belajar,” tambah Familus.
Bantuan Mubes
KEBERHASILAN suatu acara biasanya tak hanya ditentukan oleh banyaknya peserta yang datang. Namun ada hal lain yang ikut mendukung seperti tempat, waktu, dan panitia, pengatur lalu lintas, tukang parkir, keamanan, pawang hujan, dan pihak lain yang membantu kelancaran acara.
Diawal perjuangan pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi Nuar Belek ikut dalam menyukseskan acara. Dia jadi pawang hujan, membantu aparat kepolisian dalam menciptakan keamanan dan mengatur lalu lintas selama acara berlangsung.
Hampir setiap acara terkait pemekaran Kuantan Singingi yang diselenggarakan di Taluk Kuantan, dia selalu hadir. Dia ikut membantu panitia sesuai dengan spesialisasinya sebagai pawang hujan, penjaga keamanan, dan tukang parkir.
Saat Musyarawah Besar (Mubes) Masyarakat Kuantan Singingi pada 9-10 Juni 1999 di Taluk Kuantan, Nuar Belek diberikan amanah oleh Kapolsek Kuantan Tengah membantu menjaga keamanan dan perparkiran bagi panitia dan peserta yang hadir pada acara tersebut. Kemudian saat acara syukuran Kabupaten Kuantan Singingi, dia juga sibuk dengan tugasnya itu.
Tugas mulia tersebut berhasil dijalankannya dengan baik sehingga setiap ada acara yang berkaitan dengan Kuantan Singingi di Taluk Kuantan sebelum dan sesudah pemekaran, Kapolsek Kuantan Tengah memberikan amanah khusus kepadanya membatu menjaga keamanan.
Pawang Hujan
JASANYA sebagai pawang hujan sering dipakai kalangan kontraktor dalam penyelesaian proyek saat musim penghujan. Tak hanya di Kabupaten Kuantan Singingi tapi juga di kabupaten/ kota lainnya di Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Jambi, bahkan sampai ke Sumatra Utara.
“Bang Nuar merupakan pawang hujan antar kota antar provinsi yang berasal dari Kuantan Singingi,” ujar Oncol sapaan akrab Rafles salah seorang tokoh dan saksi sejarah pembentukan kabupaten Kuantan Singingi yang mengenal sosok Nuar Belek.
“Orang boleh saja tak percaya dengan kemampuan Bang Nuar, tapi, fakta membuktikan itu. Saat pengerjaan proyek – terutama pengaspalan jalan pada musim hujan, Bang Nuar sering menerima orderan sebagai pawang hujan dari kalangan kontraktor,” tambahnya sembari tersenyum.
Pekerjaan sebagai pawang hujan dilakoni Nuar Belek seiring perjalanan usianya yang makin menua hingga ajal menjemput ajalnya pada tahun 2017. Dia dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Kampung Baru Sentajo.
Itulah sekilas tentang Nuar Belek. “Preman Pasar” Taluk Kuantan berhati mulia yang namanya melegenda. Selamat jalan….
Penulis: Sahabat Jang Itam: 29-09-2025







