Cerpen : Marzuli Ridwan Al-bantany
Hujan turun perlahan di bibir hutan kota kecil itu. Tanah merah yang basah mengkilap seperti darah yang baru mengering. Di bawah pohon mangga tua, seorang pemuda terbaring. Matanya terbuka, menatap langit yang kelabu. Di dadanya tertancap sebilah belati. Di ujung gagang belati itu, selembar kertas basah kuyup dipegangnya dan masih bisa dibaca dengan jelasnya.
“HANYA Padamu Cinta ini Kuabadikan.”
Namanya Mudim. Dan malam ini, semua orang di kotanya baru sadar bahwa mereka sebelum ini telah membunuhnya dua kali. Sekali dengan fitnahan, dan sekali lagi dengan diam.
***
Nasib Mudim sejak kecil tak seberuntung teman-teman sebayanya. Sejak di bangku sekolah dasar ia sudah ditinggal sang ayah. Ayahnya meninggal dunia dalam sebuah prahara di Selat Malaka. Kala itu ayahnya terseret dalam pusaran seteru antara nelayan jaring batu dan tradisional di utara pulau yang didiami ini. Ibunya-lah yang selama ini merawatnya, membesarkan dan mencukupi seala keperluan hidupnya. Bagi Mudim, ibu adalah satu-satu orang tua yang ia punya,- yang harus dijaga dan dibela kapan-pun jua.
Sebagai anak tunggal Bu Kamariah, Mudim yang berangsur dewasa ini telah mengambil semua peran ibu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia kadang tak segan dan malu-malu bila mengambil upah memotong karet dan menyabit (memetik) kelapa milik tetangganya. Ia tak peduli melakukan pekerjaan apa-pun. Asalkan pekerjaan itu baik dan mendapatkan rezeki yang halal dan baik pula, maka akan ia kerjakan pekerjaan itu dengan hati yang senang.
“Tak mengapa, Mak! Mak jangan risau! Semua akan Mudim kerjakan dengan hati-hati,” jawab Mudim suatu saat ketika ditanya ibunya tentang pekerjaan menjaga pokok duria milik Wak Atan di ujung kampung.
Sejak saat itu, Mudim dikenal sebagai pemuda yang rajin bekerja. Siang dan malam selalu ia manfaatkan untuk membantu ibunya mencari uang. Ia tak peduli lagi pada ejekan orang-orang kampung yang memandang sinis kepadanya. Begitu juga kepada Pak Burhan. Ia sudah tak menghiraukan lagi cemoohan yang selalu dilontarkan lelaki paruh baya itu. Bagi Mudim, hanya ada satu prinsip yang selama ini dipegangnya dengan teguh dalam melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan, ‘berbuat baik berpada-pada, berbuat jahat jangan sekali’.
Ia juga masih ingat dengan salah satu pesan ayah dulu ketika masih kecil, bahwa hidup boleh miskin, tapi jangan sampai membiarkan hati menjadi busuk dan kotor. Pesan itulah yang barangkali membuat Mudim sampai hari ini selalu menjaga diri dan ucapannya ketika berhadapan dengan orang-orang yang menghardik atau mengejeknya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Mudim juga dikenali sebagai pemuda yan terlalu baik.
Kalau ada anak jatuh di jalan, dia yang bantu mengangkat. Kalau ada kambing warga yang lepas ke jalan, dia yang mengejar hingga napasnya habis. Namun hinaan dan julukan kurang baik kepadanya selalu saja ia terima. Terkadang orang-orang dengan mudahnya memanggil ia dengan panggilan “anak maling” dan sebuat tak sedap lainnya.
***
“Tak malu dan tak merasa bersalah-kah engkau berteman dengan orang sepertiku ini, Aminah?”
“Aku dipandang hina oleh orang-orang kampung. Termasuk pula oleh ayahmu. Itu semua karena status dan derajat kita yang berbeda.”
Aminah tertunduk, diam mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Mudim. Mudim-pun tahu, ucapannya kali ini pasti membangkitkan rasa sedih di hati Aminah. Namun pemuda ini tak punya cara lain untuk menghindar dari Aminah, sebab cinta Aminah kepadanya selama ini begitu besar.
Dengan suara terbata-bata dan airmata yang membasahi pipi, Aminah mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang disampaikan Mudim.
“Aku tahu itu. Terlalu banyak luka yang kau rasa, Mudim,” jawab Aminah seraya memandangi ombak Selat Bengkalis yang mulai menghempas malam itu.
“Tapi, apakah berdosa jika aku mencintaimu?” Aminah balik bertanya.
Mudim tak menjawabnya. Ia hanya tersenyum memandangi wajah ayu Aminah yang tampak menyimpan gelisah. Namun Mudim juga tahu jika Aminah begitu menyayanginya selama ini.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mudim dan Aminah seakan larut dengan perasaannya masing-masing. Tapi tak lama berselang, suasana kembali mencair. Aminah yang sebelumnya menangis, kini perlahan dan berangsur tersenyum. Ia mulai sadar bahwa apa-pun peristiwa yang bakal terjadi mengenai hubungannya bersama Mudim setelah ini adalah takdir. Ia akan menjadi wanita yang menerima segala ketentuan.
“Kita hanya menjalaninya saja, Aminah,” kata Mudim. Aminah mengangguk tanda setuju.
Malam itu, tanpa terpikirkan sedikitpun oleh Mudim dan Aminah yang sedang duduk di pinggir bebatuan Lapangan Pasir Andam Dewi, tiba-tiba Pak Burhan bersama beberapa orang pengikut setianya tiba. Aminah, anak perempuan semata wayang yang didapatinya bersama Mudim dipaksa pulang.
“Bawa Aminah balek ke rumah! Cepat!”
“Baik, Pak Burhan.”
Tanpa pikir panjang, Bidin dan Hasan Tepo segera membopong Aminah dan membawanya pulang menaiki mobil. Sementara Pak Burhan bersama Kitan, Napi dan Jefry serta beberapa warga masih mengintrogasi Mudim. Mudim tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia hanya menuruti apa yang dikehendaki Pak Burhan malam itu.
Begitu pula dengan kabar hilangnya rantai emas milik istri Pak Burhan, Mudim-pun tak dapat mengelak tuduhan Pak Burhan dan beberapa warga yang mendapati dirinya pada jam tengah malam berjalan sendirian di sekitar rumah Pak Burhan. Mudim benar-benar menjadi satu-satunya orang yang di-syaki sebagai pelaku pencurian, meski sampai detik ini tak seutas rantai emas-pun berada di tangannya. Malangnya lagi, orang-orang kampung yang tahu jika Mudim tidak bersalah hanya diam, tak mampu berkata-kata dan memberikan pembelaan kepadanya.
***
Napas Mudim terengah-engah. Darah segar masih mengucur dari dadanya yang sejak tadi tertancap sebilah belati. Ia mencoba menyandarkan tubuh pada sebuah pohon mangga tua. Di hatinya, ia bersyukur bisa melepaskan diri dari kurungan di sebuah rumah kosong di bibir hutan kota kecil itu. Orang-orang yang menangkap dan membawanya seakan tidak menyadari jika lewat tengah malam itu ia dapat meloloskan diri dari sekapan maut tersebut.
Kini Mudim dalam kondisi yang sangat lemah sekali. Jiwanya tidak tertolong lagi. Namun kekuatan cintanya kepada Aminah membuat dirinya mampu bertahan, lari dari kejaran orang-orang jahat yang selama ini menzaliminya.
Malam itu dalam hujan yang sangat deras, serta menjelang ajal kematiannya tiba, Mudim masih bisa tersenyum. Ia dengan sisa-sisa tenaganya mencoba mengeluarkan secarik kertas yang tersimpan di saku celananya. Ia sadar, seharusnya kertas kecil itu diberikannya kepada Aminah setelah senja tadi agar dibaca. Namun sebuah peristiwa mengerikan ternyata telah menghentikan semua keinginannya itu.
Kini semuanya terlambat. Ia tak sempat lagi menyuarakan isi hatinya yang paling dalam kepada perempuan yang dicintainya itu.
Seketika Mudim merasa tenggorokannya tercekat hebat. Bibirnya pun bergetar, tersenyum menatap langit dan membiarkan pipinya ditumpahi ribuan titik hujan yang jatuh. Ia kini benar-benar telah merelakan segalanya, merelakan keabadian cinta yang belum sempat ia nyatakan.
Bengkalis, pertengahan Mei 2026
Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penyair, penulis dan sastrawan Indonesia yang bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia dikenal aktif melahirkan karya sastra yang kental dengan nuansa lokal, religius, serta refleksi sosial kemasyarakatan. Beberapa buku kumpulan cerpen tunggalnya yang telah diterbitkan antara lain Burung-Burung yang Mengkapling Surga (FAM Publishing, 2018) dan Pada Senja yang Basah (Dotplus Publiser, 2021).







