SAAT Mubes Masyarakat Kuantan Singingi 7-9 Juli 1999 di Taluk Kuantan yang jadi bintangnya adalah Prof. Dr. H. Maswadi Rauf, M.A dan Dr. H. Alfitra Salamm, APU. Secara nasional keduanya sudah berkibar sebagai pakar otonomi daerah dan sering wira wiri tampil di televisi sebagai narasumber.
Kehadiran Maswadi dan Alfitra Salamm sekaligus jadi ajang reuni bagi sanak famili dan keluarganya. Sebab, kedua tokoh nasional itu berasal dari Kuantan Singingi.
Maswadi lahir di Taluk Kuantan pada 15 Februari 1946. Saat Mubes dia menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Indonesia (UI), Jakarta.
Orang tua Maswadi, Abdul Raoef merupakan pejabat penting di Kabupaten Indragiri sebelum mekar jadi Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Abdoel Raoef merupakan orang Riau pertama yang meraih gelar Guru Besar atau Profesor. Setelah itu baru menyusul Mukhtar Lutfi, Suwardi MS, dan lainnya.
Sedangkan Alfitra Salamm kelahiran Rengat pada 18 Maret 1959 berasal dari Cerenti. Alfitra Salamm adalah peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Kehadiran kedua tokoh tersebut menambah darah dan semangat baru dalam perjuangan pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi. Sebab, waktu itu masih ada yang pesimis Kuantan Singingi bisa mekar jadi kabupaten.
Ada cerita unik di balik kehadiran kedua tokoh itu. Yakni dari Rafles yang akrab disapa Incol. Selama Mubes dia jadi sopir yang melayani kedua tokoh tersebut selama Mubes.
Oncol dikira Asisten Pribadi (Aspri) kedua tokoh tersebut. Sebab di mana tokoh tersebut Oncol pasti ada di samping mereka.
Oncol juga nginap di Wisma Jalur bersama mereka. Pokoknya selama tiga hari pelaksanaan Mubes, Oncol menjadi Aspri yang tidak tergantikan.
Sebagai Aspri “tak resmi” Oncol juga menjadi sasaran ibu-ibu yang sibuk foto dengan kedua tokoh tersebut. “Pak Maswadi, Aspri Bapak yang ganteng tadi mana? Ajak dong ke sini! Kami ingin juga foto dengan dia untuk kenang-kenangan. Mumpung lagi pulang kampung!” ujar mereka.
Maswadi tersenyum. Dia lalu memanggil Oncol. Sembari berbisik ke telinga Oncol, dia berkata: ”Ncol…, sejak kapan pula awak jadi Aspri kami?”
Oncol hanya tersenyum. Dengan santai dia menjawab,” Prof. suatu saat mereka juga akan tau kalau saya bukan Aspri Prof. Keduanya lalu tertawa. Seakan dunia itu milik mereka.”
Selama Mubes berlangsung Oncol mendapatkan tugas dari Ketua Dewan Pengarah Mubes, Samad Thaha mendampingi kedua tokoh tersebut. Dengan mobil Daihatsu Hillen berplat merah BM 874 AP milik abangnya, Kasi Alkal Dinas PU Dati I Provinisi Riau, Raden Saleh, Oncol selalu stanbay
Sang pemilik mobil Raden Saleh pernah mengikuti kursus alat berat tahun 1976 di Pokland, Perancis. Kini, setelah pensiun ia memilih tinggal di kampung. Tepatnya Desa Jalur Patah Teratak Air Hitam, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi.
“Mobil penuh kenangan itu setelah dibeli dengan proses lelang sekarang sudah berganti plat menjadi BP 1584 TK. Dan, masih sering dipakai Bang Raden menengok kebun,” kenang Rafles.
Begitu indah persahabatan antara Oncol dengan kedua tokoh nasional itu dari dulu hingga kini. “Kini masih ada yang memanggil saya asisten. Bukan asisten benaran tapi asisten tidak resmi. Hahaha…” kata Oncol tersenyum lepas.
Pesan Maswadi
ONCOL ingat betul pesan Maswadi dalam perjalanan pulang dari Taluk Kuantan ke Pekanbaru. “Ncol, kelak Kuantan Singingi jadi kabupaten, kekompakan, dan sinergitas antara eksekutif dan legislative harus dijaga.”
Lalu ketika singgah makan ikan goreng kapiek kegemarannya di Rumah Makan Teratak Buluh, Kampar, Maswadi juga berpesan kepadanya.
“Ncol…! Kelak jika dirimu masih diberi Tuhan umur panjang tolong ingatkan mereka tujuan awal dari pendirian Kabupaten Kuantan Singingi yang kita gagas saat ini,” pesan Maswadi.
Sederhana memang pesan itu tapi menyentuh sampai ke kalbu. Dan Oncol mengingat hingga kini pesan itu. Sebuah pesan yang tidak tersampaikan.
26 tahun Kabupaten Kuantan Singingi, apa yang terjadi? Negeri yang beradat ini “butuh” kembali ke jalan yang benar setelah tiga pemimpin sebelumnya menginap gratis di penjara.
Nasehat orang tua: “Jangan meludah di sumur tempat kita menimba air.” Artinya “Jangan sekali-kali menjelek-jelekkan tempat di mana kita mencari nafkah.”
Pihak eksekutif dan legislatif perlu mengingat kembali visi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. Visi yang kini diemban pasangan Suhardiman dan Muklisin.
Yakni terwujudnya Kuantan Singingi yang BERdaya saing, Sejahtera, berAdat, dan MAju “KUANSING NEGERI BERSAMA DI PROVINSI RIAU TAHUN 2029.
Ingin Melihat
MASYARAKAT Kuantan Singingi kini ingin melihat hasil nyata kerja keras tuan-tuan. Bukan melihat lelucon dan pertikaian tidak berujung yang dipertontonkan bertahun-tahun kepada masyarakat seperti yang terjadi selama ini.
Pertikaian antara eksekutif dan legislatif di Kuantan Singingi sejak Asrul Ja’far hingga kini Suhardiman seperti sendiwara. Putus nyambung, putus lagi nyambung lagi, putus lagi, nyambung lagi. Tidak berkesudahan. Memuakan dan memalukan.
Tuhan…
Maafkanlah hambamu yang khilaf ini. Jika mereka salah tegurlah. Jika tak mempan jatuhkanlah laknat untuk mereka. Amin…
Semoga pesan Maswadi Rauf yang tak lagi pernah datang pada HUT Kuantan Singingi ini bisa menjadi renungan bersama. Amin
Lalu bagaimana pelaksanaan Mubes? Ikuti terus tulisan ini! (Bersambung)
Penulis: Sahabat Jang Itam
Share: Minggu 05-10-2025







