Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Senin, 27 April 2026: Hujan Ringan hingga Petir Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Kronologis, Motif, dan Pelaku Penembakan Gedung Putih Semarak Hari Nelayan Nasional ke-66, Pesisir Senggarang Dipenuhi Antusiasme Masyarakat Ruang Asa Project Hadirkan Topi Harapan, Bangkitkan Semangat Anak YKAKI Riau Plt Dirut BRK Syariah Dampingi Plt Gubri Lepas JCH Riau di Batam Penggerebekan Sabu 13 Gram di Jalan Joyo Talang Muandau, Dua Pelaku Positif Amfetamin Diamankan

Pekanbaru

Inflasi Riau Capai 5,08 Persen pada September 2025, Harga Pangan Jadi Penyumbang Utama

badge-check


					Inflasi Riau Capai 5,08 Persen pada September 2025, Harga Pangan Jadi Penyumbang Utama Perbesar

RiauKepri.com, PEKANBARU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,08 persen pada September 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,17. Inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa inflasi didorong oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran utama. “Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 11,02 persen, disusul makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 10,79 persen,” ujarnya, Selasa (7/10/2025).

Inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 6,43 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Pekanbaru sebesar 4,63 persen. Tekanan harga di Tembilahan disebabkan oleh gangguan distribusi dan tingginya biaya logistik, terutama untuk komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, dan daging ayam ras.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami inflasi sebesar 1,11 persen, dan secara tahunan berjalan (year to date/y-to-d) tercatat 3,92 persen.

Selain dua kelompok utama, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok pendidikan (4,59 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,97 persen), kesehatan (2,33 persen), pakaian dan alas kaki (1,96 persen), perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,90 persen), serta transportasi (0,76 persen).

Tiga kelompok pengeluaran mencatat deflasi, yakni perlengkapan rumah tangga (–0,70 persen), rekreasi dan budaya (–0,41 persen), serta informasi dan komunikasi (–0,19 persen).

Komoditas utama penyumbang inflasi y-on-y antara lain cabai merah, emas perhiasan, bawang merah, daging ayam ras, beras, dan minyak goreng. Sementara komoditas yang memberi andil deflasi antara lain kentang, bawang putih, ikan nila, bensin, dan angkutan udara.

Asep menambahkan bahwa tekanan inflasi masih kuat akibat tingginya permintaan masyarakat dan pasokan pangan yang belum stabil. Ia menekankan pentingnya koordinasi antar daerah serta peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga kestabilan harga bahan pokok. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ruang Asa Project Hadirkan Topi Harapan, Bangkitkan Semangat Anak YKAKI Riau

26 April 2026 - 14:03 WIB

Aladin Melayu

26 April 2026 - 06:23 WIB

Amuk Panipahan, Alamr Siapa yang Terlambat

25 April 2026 - 13:36 WIB

Satgas Anti-Narkoba Riau Dibentuk, Harapan Baru Lindungi Generasi Muda

25 April 2026 - 11:48 WIB

Di LAMR, Didi–Meimei Riau Temukan Hangatnya Rumah Bersama dalam Balutan Adat

23 April 2026 - 19:09 WIB

Trending di Pekanbaru