RiauKepri.com, PEKANBARU– Riak itu bermula dari pesisir. Di Panipahan, sebuah kawasan di Kabupaten Rokan Hilir, peristiwa yang sempat mengguncang dalam sebulan ini tak sekedar kabar kriminal biasa. Amuk itu menjalar cepat, dari mulut ke mulut, dari layar ponsel ke ruang-ruang keluarga, menjadi cerita yang menyisakan cemas sekaligus marah.
Bagi sebagian orang, Panipahan mungkin hanya titik di peta. Namun bagi warga di sana, “perburuan” pengedar dan bandar narkoba adalah kenyataan pahit yang terasa dekat, bahkan berjarak sehelai rambut. Narkoba bukan lagi isu jauh yang hanya muncul di berita, melainkan ancaman yang bisa menyusup ke lingkungan, bahkan ke dalam rumah sendiri.
Amuk di Panipahan adalah “semah” amanah yang tak pernah dijulang. Pengaduan hanya dijawab dengan “selambe” hingga akhirnya menjadi gelombang keberanian di tengah henyakan intimidasi. Dan, pekan ini, di Pekanbaru, Sabtu (25/4/2026), suasana apel kesiapan Satgas Anti-Narkoba Provinsi Riau di halaman Kantor Gubernur terasa berbeda: membilas semua peristiwa kemusiaan itu. Barisan aparat, pejabat, hingga perwakilan masyarakat berdiri dalam satu sempadan yang sama, bukan sekadar formalitas, tapi membawa kegelisahan yang sudah dilambung.
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, memimpin langsung apel itu. Di balik pidato dan protokol, ada pesan yang terasa lebih dalam, ini bukan lagi soal program, melainkan soal menyelamatkan generasi. “Hari ini kita tidak hanya berkumpul, tapi menyatukan kekuatan. Ini tentang menyelamatkan generasi,” ujarnya.
Pernyataan itu seolah menjadi gema dari peristiwa di Panipahan, sebuah “wake up call” yang diakui juga oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan. Baginya, kejadian tersebut adalah alarm keras bahwa perang melawan narkoba tidak bisa lagi dilakukan secara biasa. “Kejadian di Panipahan itu membangunkan kita semua. Ini tanggung jawab bersama,” katanya.
Di banyak sudut Riau, cerita tentang narkoba sering kali berakhir dalam diam. Ada orang tua yang kehilangan anaknya, ada keluarga yang retak, ada masa depan yang terhenti sebelum sempat dimulai. Namun kisah-kisah itu jarang terdengar lantang.
Itulah sebabnya, peristiwa di Panipahan menjadi berbeda. Ia membuka tabir, memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan milik segelintir orang, melainkan ancaman kolektif.
Riau sendiri berada pada posisi yang tidak mudah. Letaknya yang strategis menjadikannya jalur rawan peredaran narkoba, baik antar daerah maupun lintas negara. Jalur laut, darat, hingga jalur-jalur tidak resmi menjadi pintu masuk yang sulit diawasi sepenuhnya. Kondisi itu membuat pendekatan penanganan tak bisa lagi setengah hati.
Melalui pembentukan Satgas Anti-Narkoba, pemerintah mencoba merespons dengan cara berbeda. Bukan hanya penindakan, tetapi juga pencegahan yang menyentuh langsung masyarakat.
Kapolda Riau menyebutkan, strategi yang akan dijalankan mencakup semuanya, dari preemtif, preventif, hingga penegakan hukum. Posko terpadu akan dibentuk, melibatkan berbagai pihak, dari aparat hingga komunitas masyarakat.
Edukasi juga menjadi kunci. Sekolah, guru, hingga organisasi siswa diharapkan ikut terlibat, menanamkan kesadaran sejak dini. “Supaya masyarakat paham dan punya kesadaran kolektif,” ujarnya.
Namun di balik semua strategi itu, ada satu hal yang terus ditekankan: perang melawan narkoba tidak bisa dimenangkan oleh aparat saja.
Di Panipahan, pelajaran itu terasa nyata. Ketika narkoba masuk ke lingkungan, yang pertama merasakannya bukan negara, melainkan masyarakat itu sendiri.
Karena itu, keterlibatan warga menjadi bagian penting. Mulai dari komunitas, pelaku usaha, hingga pengemudi ojek online, semua diharapkan ikut menjadi mata dan telinga. “Partisipasi masyarakat adalah kunci,” tegas Hariyanto.
Pemerintah pun menyiapkan langkah tegas. Penindakan tanpa kompromi terhadap jaringan pengedar, pemetaan wilayah rawan, hingga upaya memutus rantai distribusi sampai ke akar.
Namun lebih dari itu, ada harapan yang lebih besar agar tragedi seperti di Panipahan tidak terulang. Bagi warga Riau, langkah ini bukan sekadar kebijakan. Ini tentang menjaga rumah sendiri.
Tentang memastikan anak-anak bisa tumbuh tanpa bayang-bayang narkoba. Tentang melindungi masa depan yang sering kali tak terlihat, tapi sangat berharga.
Panipahan telah memberi peringatan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Riau harus bergerak, tetapi seberapa cepat dan seberapa kuat semua pihak bisa berjalan bersama.
Di halaman Kantor Gubernur pagi itu, jawaban itu mulai terlihat, dalam barisan yang berdiri, dalam tekad yang diucapkan, dan dalam harapan yang ingin dijaga. “Tidak ada ruang bagi narkoba di Riau,” kata Hariyanto.
Sebuah kalimat sederhana, tapi bagi banyak orang, itu adalah harapan yang ingin benar-benar diwujudkan. (RK1)







