Menu

Mode Gelap
Hardiknas, Polsek Bina Widya Beri Kado Bibit Pohon dan Perlengkapan Pendidikan ke Mahasiswa Setahun Kesepakatan DIR, Perjuangan Riau Istimewa Terus Berlanjut Kepri dan Meranti Perkuat Jalur Maritim dan Layanan Publik Lewat Kerja Sama Strategis DPRD Kota Batam Sahkan Perda Lembaga Adat Melayu (LAM), Perkuat Identitas dan Marwah Budaya Melayu Sukses Gelar Porseni SD/MI Siantan, KKG Tuah Siantan Tuai Apresiasi Disdikpora Anambas Tamu Beradat

Siak

Menelusuri Gelap dan Lecah, Bupati Afni Mengetuk Pintu, Menyentuh Hati, Berderailah Air Mata

badge-check


					Serangkai kegiatan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Perbesar

Serangkai kegiatan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.

RiauKepri.com, SIAK– Gelap mulai merambat pelan-pelan di langit Teluk Lanus, kampung kecil di ujung Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Tak ada lampu jalan. Hutan mengepung kiri-kanan. Hanya suara jengkerik dan deru sepeda motor rombongan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, yang memecah malam. Roda motor selip di jalan gambut yang becek. Lumpur menempel tebal. Jika tak lihai, bisa jatuh kapan saja.

Motor N-Max yang dikendarai Afni sempat oleng. Ajudan buru-buru turun, menjaga keseimbangan. “Kalau tak turun, bisa-bisa kita terguling,” katanya. Tanpa banyak bicara, rombongan terus melaju, menembus lecah, mendekati rumah-rumah warga yang tersebar jauh dan sunyi. Malam itu, Jumat 10 Oktober 2025, mereka tak datang membawa janji, tapi menyampaikan salam dan perhatian.

Afni bukan datang sebagai pejabat yang menunggu disambut. Ia yang datang mengetuk pintu. Satu per satu rumah dihampiri. Sebagian rumah hanya berdinding papan, dan sudah ada penerangan listrik. Warga yang tak bisa hadir dalam perayaan ulang tahun ke-26 Kabupaten Siak, malam itu justru disambangi oleh bupatinya.

Salah satu rumah yang didatangi dihuni pasangan lansia. Sang ibu menangis saat Afni mendekat. “Ya, rumah kami ini pondok,” ujarnya, tersedu menangis dalam pelukan sang bupati. Di dalam rumah, hanya ada tikar plastik sebagai alas duduk. Tak ada perabot mewah, tak juga sajian. Tapi doa mengalir deras. “Mudah-mudahan Ibu jadi gubernur nanti,” ucap si empunya rumah dengan nada tulus.

Afni tersenyum malu. “Belum terpikirkan. Jadi bupati saja baru. Doakan Siak lebih maju, doakan juga sultan kita,” balasnya dalam logat Melayu yang kental.

Malam yang gelap mengkakap (gelap gulita) itu, yang hadir bukan pejabat dengan protokoler panjang, tapi seorang pemimpin yang duduk bersila bersama rakyatnya, dalam rumah sederhana, sesederhana pakaian yang dikenakan Afni pada saat itu.

Di rumah lainnya, Afni sempat menolak masuk. Alas kakinya kotor oleh lecah. Tapi warga bersikeras mempersilakan. “Tak apa, Bu. Rumah kami memang begini,” ujar si tuan rumah. Di rumah itu, Afni menjumpai seorang nenek berumur 104 tahun. Tubuh renta itu terbaring lemas. Sang nenek merasa gatal di kepala, dan Afni menggaruknya sambil bercanda ringan.

Afni meninggalkan bingkisan, sembako, amplop kecil, dan foto Sultan Syarif Kasim II bersama permaisuri. Bukan jumlah isinya yang berarti, tapi pesan yang dibawa, bahwa negara masih hadir, bahkan di bilik-bilik sunyi seperti Teluk Lanus. Dan malam itu, bagi warga, bukan apa yang dibawa sang bupati yang membuat mereka menangis, tapi karena mereka didatangi.

Afni adalah bupati perempuan pertama dalam sejarah Kabupaten Siak. Ia tak datang dari keluarga bangsawan atau politikus mapan. Masa kecilnya diisi dengan kekurangan, hidup dalam rumah kayu, mandi dari air gambut. Maka tidur berlepak, beralaskan tikar, tanpa kasur atau AC, bukan pengalaman baru. “Sekarang, sayo bisa berbuat lebih besar untuk masyarakat Siak,” katanya dalam logat Melayu Siak.

Air di rumah tumpangan tempat Afni bermalam malam itu berwarna kemerahan, khas tanah gambut. Untuk wudhu pun terasa berat, tapi tak jadi soal. Ia tertawa saja. “Mana ada air putih bersih, yang ada warnanya kemerahan tapi masih bisa bersuci,” ujarnya, seperti orang kampung yang kembali ke akarnya. Tak ada keluhan. Justru ada semacam ketenangan di raut wajah Afni.

Rute malam itu bukan perjalanan formal. Tak ada konferensi pers, tak ada pengawalan ketat. Yang ada hanya rombongan kecil, motor berlepotan lumpur, dan langkah kaki yang singgah di rumah-rumah yang selama ini hanya bisa menonton kabar kabupaten dari jauh. Di sinilah, mungkin, letak kemewahan itu dengan kehadiran Afni sebagai pemimpin begitu nyata.

Kampung ini bukan kampung biasa. Beberapa bulan terakhir, sudah beberapa warga jadi korban terkaman harimau. Tapi Afni tak gentar. “Kalau nawaitu karena amanah, rasa takut kalah,” katanya singkat. Baginya, rasa takut tak boleh jadi penghalang untuk hadir langsung ke tengah masyarakat yang jauh dari sorotan.

Bagi sebagian pemimpin, kekuasaan adalah ruang ber-AC dan meja rapat panjang. Tapi bagi Afni, kekuasaan berarti lumpur di kaki, pelukan ibu tua, dan candaan dengan kakek renta di kasur reyot. Malam itu, di Teluk Lanus, seorang pemimpin kembali ke tempat asalnya, rumah rakyat. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Afni Antar Harapan Baru Pemuda Disabilitas Siak Lewat Pelatihan Vokasional

7 Mei 2026 - 11:52 WIB

Afni Tegaskan Evaluasi Total BUMD, BSP Zapin Jadi Contoh Transformasi

7 Mei 2026 - 09:58 WIB

Afni Ajak Semua Pihak Dukung Pembangunan SNT 2026 di Siak

6 Mei 2026 - 20:27 WIB

Warga Pelosok Siak Kesulitan Minyak, Bupati Afni Minta BPH Migas Kasi Solusi

6 Mei 2026 - 07:05 WIB

Siak Targetkan SNT Hadir di 14 Kecamatan, Percepatan Terus Didorong

5 Mei 2026 - 13:36 WIB

Trending di Siak