RiauKepri.com, YOGYAJAKARTA – Suasana pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta mendadak riuh, Sabtu (18/10/2025), ketika lantunan pantun berpadu dengan irama hip-hop Melayu menggema di panggung Seni Budaya Nusantara dalam rangka Hari Kebudayaan Nasional 2025. Penampilan unik ini dibawakan oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Riau dan Kepulauan Riau, yang menghadirkan kolaborasi segar antara tradisi dan modernitas melalui “Tarung Pantun dan Pantun Hip-Hop”.
Tiga budayawan muda asal Kepulauan Riau tampil memukau di hadapan ratusan penonton: Yoan S. Nugraha, mahasiswa Pascasarjana STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau (STAIN SAR Kepri); Ramli Muasmara, dosen STAIN SAR Kepri; serta Zainal, perwakilan Lembaga Adat Melayu Kepri (LAMKR) Tanjungpinang. Dengan semangat kemelayuan yang kental, mereka sukses membuktikan bahwa pantun tak lekang oleh zaman—bahkan mampu berbaur indah dengan musik modern.
“Sebagai budayawan dan sekaligus mahasiswa Pascasarjana STAIN SAR Kepri, saya merasa bangga atas amanah ini. Alhamdulillah, sudah kami tunaikan di panggung akbar pelataran Monumen Serangan 1 Maret di Jogja,” ujar Yoan dengan penuh rasa syukur. Ia menambahkan, keikutsertaannya dalam acara nasional ini menjadi misi pribadi untuk memperkenalkan kampus STAIN SAR Kepri kepada khalayak luas, khususnya di “negeri pelajar” Yogyakarta.
Senada dengan itu, Ramli Muasmara menyampaikan apresiasinya terhadap penampilan yang dianggap sejalan dengan visi kampus. “Sebagai dosen STAIN SAR, tentu kami bersyukur atas penampilan ini sebab sejalan dengan visi kampus: Unggul, Keislaman, dan Kemelayuan. Jadi, bukan hanya teori di kelas, tetapi juga praktik nyata di panggung budaya,” ungkapnya.
Sementara itu, Zainal dari LAMKR-Tanjungpinang menuturkan kebanggaannya bisa membawa semangat pantun ke luar daerah. “Sebagai anggota Lembaga Adat Melayu Kepri, kami gembira bisa menggaungkan pantun di negeri orang. Ini bukti bahwa budaya Melayu masih hidup dan bisa diterima di mana pun,” katanya.
Panggung Seni Budaya Nusantara tahun ini diikuti oleh perwakilan 23 Balai Pelestarian Kebudayaan dari seluruh Indonesia. Setiap wilayah menampilkan kekhasan masing-masing, mulai dari Tari Jaranan Jawa Timur, Musik Keroncong Stambul Jambi, hingga Tari Tidayu Kalimantan Barat. Namun, penampilan BPK Wilayah IV Riau–Kepulauan Riau terbilang paling menarik perhatian karena berhasil menggabungkan pantun tradisional dengan energi modern ala hip-hop.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Kebudayaan 2025 yang digelar di berbagai titik di Yogyakarta, seperti Museum Benteng Vredeburg, Kawasan Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer. Selain pertunjukan seni, peringatan ini juga dimeriahkan dengan Karnaval Ragam Budaya Nusantara, Seminar Sejarah Budaya, dan Pameran Warisan Budaya.
Melalui kolaborasi lintas generasi dan kreativitas yang menembus batas genre, penampilan Yoan dan rekan-rekannya menjadi bukti nyata bahwa budaya Melayu, terutama pantun, masih berdenyut kuat di dada anak muda — bahkan mampu mengguncang panggung Yogyakarta dengan semangat yang segar dan penuh makna. (*)







