Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Riau

Tangis di Muara Fajar, Saat Gajah Liar Bertamu di Pagi Buta

badge-check

Gajah (net) Perbesar

Gajah (net)

RiauKepri.com, PEKANBARU- Hari masih gelap ketika suara gaduh dari arah kebun memecah kesunyian Muara Fajar, Rumbai, Pekanbaru, Kamis dini hari itu. Di rumah sederhana milik Sardo Purba, warga RT 02 RW 02, semua masih terlelap. Hanya suara serangga malam yang biasanya menemani. Namun sekitar pukul lima pagi, suara berat dan langkah besar menggetarkan tanah. Saat Sardo keluar rumah untuk memastikan sumber suara, matanya terbelalak, seekor gajah liar “bertamu” berdiri tak jauh dari teras rumahnya.

Kepanikan pun pecah. Sardo dan istrinya berusaha menyelamatkan diri bersama anak perempuan mereka, Citra, yang baru berusia delapan tahun. Namun dalam kekacauan itu, Citra terjatuh. Gajah yang sudah gelisah tiba-tiba menyerang. Tangisan pecah di antara suara benda pecah dan jeritan warga. Citra mengalami luka serius di sekujur tubuh sebelum akhirnya berhasil dievakuasi ke RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru.

“Korban mengalami luka parah akibat serangan langsung dari gajah liar,” ujar Kapolsek Rumbai, AKP Said Khairul Iman, saat ditemui di lokasi kejadian. Ia menjelaskan, hewan itu diduga keluar dari kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan permukiman. Pihak kepolisian kini bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk menelusuri asal dan pergerakan gajah tersebut.

Di rumah sakit, suasana haru menyelimuti ruang perawatan anak itu. Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, datang langsung menjenguk Citra. “Yang utama sekarang adalah keselamatan nyawa anak ini. Semua biaya pengobatan akan ditanggung pemerintah,” katanya dengan nada tegas namun lirih. Ia juga memerintahkan agar tim medis memberikan penanganan maksimal, termasuk peralatan darurat yang diperlukan.

Pemerintah Kota Pekanbaru tak hanya fokus pada pemulihan korban, tapi juga pada langkah pencegahan. Agung menyebut pihaknya segera berkoordinasi dengan BBKSDA untuk memetakan jalur lintasan gajah. Ia menegaskan, batas antara hutan dan permukiman warga harus lebih jelas agar konflik manusia dan satwa tidak lagi menelan korban. “Ini jadi peringatan bagi kita semua. Alam punya ruangnya sendiri, begitu juga manusia,” ucapnya.

Di Muara Fajar, warga kini masih trauma. Sardo dan istrinya belum banyak bicara, hanya berharap anak mereka segera pulih. Di luar ruang perawatan, beberapa warga berdiri dengan wajah cemas, menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Di antara ketegangan itu, tersisa satu harapan agar kisah Citra menjadi yang terakhir, dan manusia kembali belajar hidup berdampingan dengan alam yang kian terdesak. (RK1/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

KKP Lepas Papan Segel PT MNS di KIB

7 Okt 2026 - 08:17 WIB

KKP Lepas Papan Segel PT MNS di KIB

Parah! Pusat Pangkas Rp907 Miliar DBH Migas Riau Tahun Depan, Ini Data Lengkapnya

6 Okt 2026 - 15:18 WIB

Parah! Pusat Pangkas Rp907 Miliar DBH Migas Riau Tahun Depan, Ini Data Lengkapnya

Waspada DBD! Demam Dikira Biasa, 3 Warga Pekanbaru Meninggal

6 Okt 2026 - 11:09 WIB

Waspada DBD! Demam Dikira Biasa, 3 Warga Pekanbaru Meninggal

Hitungan Guru Besar UIR: DBH Migas Riau 2027 Bisa Capai Rp6 Triliun

6 Okt 2026 - 05:34 WIB

Hitungan Guru Besar UIR: DBH Migas Riau 2027 Bisa Capai Rp6 Triliun

Hasil Pertemuan dengan Kemenkeu, Bupati Afni: Lifting Tak Dibuka, PNBP Migas se-Riau Katanya Nyungsep!

5 Okt 2026 - 19:52 WIB

Hasil Pertemuan dengan Kemenkeu, Bupati Afni: Lifting Tak Dibuka, PNBP Migas se-Riau Katanya Nyungsep!
Trending di Pekanbaru