RiauKepri.com, ANAMBAS – Desa Keramut di Kabupaten Kepulauan Anambas dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu kekayaan utamanya adalah pantai dan laut yang menjadi habitat alami bagi penyu, satwa langka yang dilindungi dan memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem laut.
Namun, keindahan dan potensi alam tersebut kini menghadapi ancaman serius. Sampah plastik yang menumpuk di wilayah pesisir menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup penyu. Tidak sedikit penyu yang terjerat plastik atau kehilangan tempat bertelur akibat tumpukan sampah yang mencemari pantai.
Apabila persoalan ini tidak segera diatasi, dampaknya bisa sangat fatal. Sampah tidak hanya merusak keindahan pantai, tetapi juga dapat mematikan satwa laut, menurunkan kualitas ekosistem, dan mengancam keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut.
Melihat kondisi ini, kelompok Jaga Alam Mangkai mengambil langkah nyata untuk mengurangi ancaman tersebut. Melalui kegiatan bertajuk “Habitat Penyu Anambas Bebas Sampah Plastik”, mereka menggelar aksi bersih pantai dan edukasi lingkungan di Pantai Separak, Desa Keramut, pada 8–9 November 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan (Small Grant Programme) dari Kementerian Kehutanan. Dukungan tersebut menjadi dorongan bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar.
Aksi bersih pantai ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari masyarakat Desa Keramut, tokoh pemuda, jajaran pemerintah desa, serta perwakilan instansi vertikal seperti LKKPN Pekanbaru. Kegiatan berlangsung penuh semangat dan menjadi ajang mempererat kepedulian warga terhadap habitat penyu.
Sejak awal berdirinya, Jaga Alam Mangkai telah konsisten menjalankan berbagai program perlindungan lingkungan. Mereka fokus pada konservasi penyu, pengelolaan sampah, serta pemberdayaan masyarakat di Pulau Mangkai—salah satu pulau terluar Indonesia yang masuk wilayah administrasi Desa Keramut.
Pada tahun 2025 ini, tim Jaga Alam Mangkai mencatat capaian membanggakan. Mereka berhasil mencegah sekitar 1.746,4 kilogram plastik mencemari area pantai habitat penyu di Pulau Mangkai. Melalui aksi bersih di Pantai Separak, tambahan 286 kilogram sampah plastik kembali berhasil dicegah masuk ke laut.
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada pengumpulan sampah semata. Setiap sampah yang dikumpulkan langsung dipilah, terutama yang memiliki nilai ekonomi seperti botol plastik dan kemasan lainnya. Sampah tersebut kemudian disetorkan ke bank sampah untuk ditukar dengan nilai uang, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Langkah ini sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami bahwa sampah tidak selalu berarti limbah yang tidak berguna. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah bisa menjadi sumber penghasilan tambahan dan memotivasi masyarakat menjaga kebersihan pantai secara berkelanjutan.
Ke depan, Jaga Alam Mangkai berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama agar upaya menjaga habitat penyu bisa berjalan secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan luar.
“Giat ini memiliki tujuan akhir untuk mewujudkan habitat penyu Anambas yang bersih dan aman dari plastik. Karena itu, diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk bergerak melakukan aksi nyata,” pungkas salah seorang pengurus Jaga Alam Mangkai dengan penuh harap. (RK15)







