Menu

Mode Gelap
Anambas Masuk Program Reaktivasi Internet BAKTI, 17 Lokasi Strategis Segera Terlayani Prakiraan Cuaca Jumat 23 Januari 2026: Mayoritas Wilayah Kepri Berawan, Sejumlah Titik Berpeluang Hujan Ringan Revitalisasi Pasar dan Tol Laut Jadi Fokus Audiensi Pemkab Anambas dengan Kemendag RI Respons Cepat Polisi Cegah Karhutla Meluas, Kebakaran Semak di Nongsa Berhasil Dikendalikan Dari Malaysia ke Riau, Mahasiswa UKM Merajut Silaturahmi Serumpun di LAMR SF Hariyanto Vs Ida: Jurus Terbuka di Gelanggang Kewenangan

Ragam

Resensi Dokumenter “Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur”

badge-check


					Film dokumenter “Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur”. F: Ist Perbesar

Film dokumenter “Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur”. F: Ist

“Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur” adalah film dokumenter berdurasi 45 menit yang mengikuti denyut kehidupan dua komunitas adat yang kerap berada di pinggir peta Indonesia: Suku Laut dan Sama-Bajau. Sejak jauh sebelum ingatan dapat dirawat, mereka hidup dengan laut sebagai rumah, bahasa, dan keluarga—hingga ekspansi industri di pesisir Bintan Timur mulai menggeser garis takdir mereka.

Film ini dibuka dengan sebuah ironi yang pelan-pelan mengiris: anak-anak Bajau melompat ke laut, sementara suara mesin kapal industri menggema seperti ancaman yang tak pernah diucap. Di sela tawa mereka, benturan ruang itu terasa nyata, dan menjadi napas yang menuntun seluruh film.

Pengambilan gambar berlangsung sejak Maret hingga Oktober 2025, di tengah dimulainya pengerjaan Proyek Strategis Nasional (PSN) Galang Batang. Dari hari ke hari, reklamasi menelan pantai, mangrove roboh seperti halaman buku yang dirobek, air berubah warna, dan jejak biota laut hilang seperti nama yang sengaja dihapus. Yang pertama merasakan luka ini adalah mereka yang menggantungkan hidup pada laut—bukan semata sebagai sumber pangan, tetapi sebagai identitas yang tak pernah diakui negara.

Film ini tumbuh dari liputan mendalam seorang jurnalis, Putra Gema Pamungkas. Visual-visual yang awalnya sekadar dokumentasi lapangan mulai saling terajut, menjelma menjadi narasi yang lebih besar daripada rencana apa pun yang mungkin ia tulis sebelumnya.

Melalui tiga perspektif: Dedi Supriadi Adhuri, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN yang menelusuri hilangnya relasi manusia dan laut; Di Fang, seniman kontenporer yang merekam bunyi terakhir kehidupan di dasar laut; serta Wengky Ariando, Peneliti Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV) Leiden, Belanda yang menghubungkan arsip kolonial dengan kenyataan ekologis hari ini—film ini menyusun mosaik reflektif tentang perubahan yang perlahan namun pasti menghapus sebuah peradaban pesisir.

Setiap kampung yang ia datangi, setiap perahu kecil yang ia tumpangi, dan setiap cerita yang ia dengar perlahan merangkai gambaran yang sama: pembangunan menawarkan masa depan sambil menggerus masa kini, terutama bagi mereka yang sejak awal diperlakukan seolah tak memiliki tanah karena memilih hidup bersama laut.

Kelahiran Dokumenter Perdana Valerie Indonesia

Film ini disutradarai oleh Putra Gema Pamungkas, seorang jurnalis yang selama bertahun-tahun menelusuri isu hak asasi manusia, masyarakat adat, lingkungan, dan budaya maritim. Meski akrab dengan liputan mendalam dan penceritaan visual yang menuntut ketelitian, karya ini menjadi dokumenter panjang pertamanya.

Dalam prosesnya, Putra membawa pendekatan humaniora—sebuah keintiman kerja lapangan yang ia rawat melalui kedekatan dengan warga, observasi yang tekun, dan keberpihakan yang tidak dibuat-buat terhadap mereka yang kerap tersisih dari percakapan publik.

Produksi film ini berada di bawah Valerie Indonesia, rumah produksi independen yang ia dirikan pada 2021. Selama beberapa tahun, Valerie Indonesia lebih banyak berkarya melalui tulisan ringan, dan ruang diskusi yang bersentuhan langsung dengan komunitas. “Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur” menjadi film dokumenter penuh pertama yang dihasilkan, sebuah tonggak yang sejak awal ditujukan untuk ruang pemutaran publik dan percakapan yang lebih luas.

Sebagai karya perdana, film ini membawa jejak Valerie Indonesia: perekaman visual yang jujur, ritme naratif yang tenang, dan pertemuan antara gaya new journalism, konstruktif dan sensibilitas sinematik. Kamera tidak diperlakukan sebagai instrumen pengawas, melainkan sebagai rekan seperjalanan yang tumbuh dari hubungan panjang Putra dengan komunitas pesisir.

Melalui dokumenter pertama ini, Valerie Indonesia menegaskan arahnya: menghadirkan kisah dari pinggir peta, membuka ruang bagi suara-suara yang kerap meredup, dan merekam kembali hubungan manusia dan ruang hidupnya yang berada di ambang kehilangan.

Tafsir Sinematik dan Kontra-Arsip Pesisir

“Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur” bukan sekadar catatan visual tentang komunitas pesisir yang terdesak oleh pembangunan. Film ini bekerja sebagai ruang dengar—sebuah medium sensorik yang memaksa penonton berhenti sejenak dan menyimak apa yang selama ini tercecer di pinggir wacana publik: ritme laut yang bergeser, memori lisan yang terancam mengalami disrupsi intergenerasional, dan kehidupan maritim yang bergerak di antara ketabahan, kehilangan, serta dislokasi ekologis yang makin kasatmata.

Di balik gambar anak-anak Bajau yang melompat ke laut dan dentuman kapal industri yang menggetarkan udara sore, film ini mengurai ketegangan ruang—konflik diam antara ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi dan rezim pembangunan yang mengubah laut menjadi garis batas administratif yang baru. Suara ombak dan suara mesin berdiri sebagai metafora paling telanjang tentang dua dunia yang dipaksa berdampingan meski tidak pernah dibayangkan untuk berkoeksistensi secara harmonis.

Di tangan Putra Gema Pamungkas, kamera berfungsi sebagai instrumen penanda waktu—semacam alat dokumentasi yang menangkap gejala-gejala mikro dari perubahan ekologis dan sosial. Ia merekam detail yang memudar: spektrum warna air yang berganti, kampung kayu yang tergerus, nama-nama tempat yang kini hanya tersisa sebagai arsip verbal. Film ini menolak ritme cepat; ia memilih jeda sebagai morfologi naratif. Setiap hening—antara gumam warga, desir angin, atau langkah yang berhenti di tepi lanting kayu—menjadi ruang interpretasi yang mengingatkan bahwa kerusakan paling fatal kerap berlangsung tanpa gejala akustik.

Pendekatan empatik Putra membuat film ini bekerja sebagai kontra-arsip. Ketika laporan resmi sibuk mencatat angka investasi dan proyeksi ekonomi makro, dokumenter ini menginventarisasi apa yang sering dikesampingkan: terputusnya jalur migrasi ikan, rusaknya akar mangrove sebagai infrastruktur ekologis, dan jarak emosional yang kian renggang antara manusia dan laut. Dengan mempertemukan perspektif ilmuwan, seniman suara, dan peneliti sejarah, film ini menautkan luka hari ini dengan ketimpangan struktural yang berulang sejak masa kolonial—menggambarkan bagaimana komunitas Suku Laut dan Bajau sejak lama diposisikan sebagai “tak bertanah”, sebuah kategori sosial yang membuat mereka rentan terhadap eksklusi kebijakan ruang.

Kontribusi film ini bagi komunitas tidak datang melalui ajakan aktivisme yang deklaratif. Ia bekerja lebih subtil namun fundamental: memberi legitimasi epistemik pada pengalaman warga, memulihkan wajah mereka di ruang publik, dan menempatkan mereka bukan sebagai objek eksotis, tetapi sebagai penjaga pengetahuan maritim yang kompleks. Melalui kehidupan Nenek Kancil, Jembol, dan generasi penerusnya, film ini memberi bentuk pada kesinambungan budaya yang selama ini bergerak di bawah radar institusi.

Ketika film memasuki bagian akhir, tidak ada klimaks besar. Yang ada satu adegan saat Putra bersama generasi pertama Suku Laut Kawal Laut, nenek Kancil dan Jembol yang merupakan generasi ketiga suku laut kawal laut menghisap rokok dari daun nipa.

Tangan nenek kancil yang cekatan menggulung daun nipa, menjadikannya rokok yang ia sodorkan pada putra—tanda persahabatan yang baik. Tawa mereka pecah saat asapnya menyelinap dari hidung Putra, dan menguap bersama udara asin pesisir.

Tidak ada narasi besar, tidak ada musik dramatis; hanya tubuh-tubuh yang saling hadir dalam ruang yang sama. Namun justru dalam kesederhanaan itu film ini menemukan pusat gravitasinya: hubungan manusia dan laut bukan semata persoalan ruang hidup, tetapi intimitas ekologis—keakraban yang diwariskan dan tak dapat direklamasi oleh logika pembangunan.

Kontribusi film ini bagi Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur terletak pada keberaniannya menghadirkan apa yang nyaris lenyap: suara komunitas. Suara yang selama ini tidak tercatat dalam dokumen perencanaan perusahaan ataupun pemerintah, tidak memiliki representasi dalam diskursus kemajuan, dan tidak dianggap sebagai variabel dalam pengambilan keputusan.

Dengan membuka ruang bagi narasi-narasi ini, film ini bekerja bukan hanya sebagai arsip visual, tetapi sebagai pernyataan etis—pengingat bahwa keberpihakan kadang bukan soal memilih posisi, melainkan mengakui keberadaan mereka yang telah lama diredam.

Pada akhirnya, dokumenter ini berfungsi sebagai penanda zaman—sebuah pengingat bahwa sebelum laut berubah menjadi daratan baru, sebelum kampung-kampung pesisir tinggal nama di peta lama, sebelum ingatan intergenerasional kehilangan jangkar, dunia harus lebih dulu berhenti dan mendengarkan. Film ini mengajak penonton memahami bahwa krisis yang menimpa Suku Laut dan Bajau bukan sekadar krisis komunitas, melainkan krisis epistemologi—krisis cara kita membaca laut, memahami ruang, dan mengukur nilai kehidupan manusia di dalamnya.

Dan sebagaimana tradisi terbaik New Journalism, film ini tidak meneriakkan slogan. Ia hanya memperlihatkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dari sana, penonton mengerti bahwa diam bukan lagi pilihan.

Jadwal pemutaran (terbarukan):

21 November 2025 — Kupang, NTT.
22 November 2025 — Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
24 November 2025 — Bintan, Kepulauan Riau.
27 November 2025 — Lingga, Kepulauan Riau.
Desember 2025 — Batam (tanggal menyusul)
Desember 2025 — Jakarta (tanggal menyusul)
Desember 2025 — Semarang (tanggal menyusul)
Desember 2025 — Singapura (tanggal menyusul)
Januari 2026 — Filipina (tanggal menyusul)

Video ini juga akan diposting di akun YouTube Valerie Indonesia pada 30 November 2025: https://youtube.com/@valerieindonesia?si=je9WFoSFxRLzaWo4

 

Resensi ditulis Putra Gema Pamungkas

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Instan Kurir Pulau Sambu Hadir Siap Melayani Masyarakat Desa Air Tawar dan Sekitarnya

28 November 2025 - 06:48 WIB

Refleksi Hari Guru: Memandang Guru sebagai Penjaga Harapan Bangsa

25 November 2025 - 15:44 WIB

Trending di Ragam