Menu

Mode Gelap
Mukat Malam Prakiraan Cuaca Kepri Sabtu, 13 Juni 2026: Batam dan Tanjungpinang Berpotensi Hujan Ringan, Natuna-Anambas Didominasi Berawan Gang Pepaya Wonosari Digerebek, Residivis Heroin Kembali Tersandung Kasus Sabu Simpang Puncak Sebangar Jadi Lokasi Pengungkapan Sabu, Dua Pria Diamankan Satresnarkoba Polres Bengkalis Lagi, Ditpolairud Polda Riau Gelar Program JALUR dan Klinik Terapung Gratis di Rupat Utara Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PT Timah, Uspika, Tanami Pohon Cemara dan Ketapang di Pantai Asmara Dewi Kundur Barat

Ragam

Mukat Malam

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Cerpen Moes BM

Petang membawa ke malam ini suasana laut nampak tenang. Angin berarak pelan dari depan perlintasan jalur sutra Selat Malaka, membawa bau asin yang akrab bagi para nelayan kampung ini. Di pelanto nibung petang tadi, Atah Me dan Mak Rah bersiap turun ke pantai. Meski usia keduanya telah senja, mereka masih setia menjalani pekerjaan yang telah menjadi bagian hidup mereka sejak muda, yaitu menarik pukat.

Pukat merupakan alat tangkap pantai yang sangat ramah lingkungan. Berbeda dengan alat tangkap yang menyapu dasar laut, pukat pantai hanya menangkap ikan yang melintas di kawasan perairan dangkal. Cara ini telah digunakan turun temurun oleh masyarakat pesisir timur dan menjadi bagian dari kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam. Namun, mencari rezeki dengan mukat pada malam hari bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain harus berjalan jauh di atas beting ketika air surut, para nelayan juga harus berhadapan dengan perubahan cuaca yang sulit diterka.

“Kalau tak turun malam ini, besok dapur tak berasap,” ujar Atah Me sambil memikul gulungan pukat.

Mak Rah hanya mengangguk. Wajahnya yang mulai dipenuhi kerutan tampak lelah, tetapi tekadnya tidak pernah surut. Mereka lalu berjalan menyusuri pantai menuju beting keras yang timbul saat air surut timpas. Beting itu membentang panjang bak daratan baru di atas pantai. Dengan hati hati mereka mengungkai ikatan dan merentang pukat rentangan pertama ini sudah menyalakan api hanya memberi peneranag sekejap saja. Cahaya lampu Obor buluh yang dibawa hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan mereka.

Pada mulanya semua berjalan seperti biasa. Namun saat posisi Atah Me di posisi dilaut dengan air memaras leher seketika saja, suasana berubah.

Angin yang sejak tadi berembus perlahan tiba tiba berlawan arah tak menetu. Langit yang semula masih memperlihatkan keberadaan bintang mendadak gelap kabut. Dari arah laut berarak kabut hitam padat yang bergerak dibawa angin, lalu semakin lama semakin tebal mendekat. Cuaca melindup gelap mengakap. Gelap menyelimuti seluruh hamparan beting. Kabut nan pekat menelan pandangan.

“Bang, aku tak nampak pantai lagi,” suara Mak Rah dari beting terdengar cemas.

Atah Me langsung menyusuri tali atas pukat merapat ke istrinya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ke mana pun ia memandang, yang terlihat hanyalah dinding kabut hitam pekat. Garis pantai hilang. Pohon-pohon bakau yang biasa menjadi penunjuk arah juga lenyap ditelan kabut.

Arah untuk naik kedarat tidak dapat dipastikan lagi posisinya. Mereka tersesat.

Di tengah hamparan beting yang luas, Atah Me mencoba menenangkan istrinya jangan terlalu jauh berjarak, setelah itu Atah Me mulai memakau kembali pukatnya dengan disimpulkan kembali tali ke pengando pukat. Dan seutas tali di ikat antara pinggang sekedar berjaga jaga  mereka tidak lagi mengetahui arah pulang. Lama sudah mereka dalam kondisi dalam kabut nan gelap sementara itu, air laut perlahan mulai naik pasang.

Suara ombak yang tadi jauh kini terdengar semakin dekat.

“Jangan sampai kita salah arah, bisa terperangkap air pasang,” kata Atah Me pelan.

Mak Rah menggenggam tangan suaminya erat. Dalam usia muda mungkin mereka masih sanggup berjalan jauh mencari jalan keluar. Namun kini kaki mereka sering gemetar dan napas mereka tidak lagi panjang. Keduanya terus berjalan menembus kabut. Beberapa kali mereka berhenti dan mencoba mengenali keadaan sekitar. Namun semua tampak sama gelap sunyi membingungkan. Tiba-tiba Atah Me mengangkat kepalanya.

“Tunggu Kejap, Rah.”

“Ada apa Bang?”

“Coba cium bau baik baik.”

Mak Rah menarik napas panjang.

Di sela aroma asin laut, tercium bau yang sangat khas. Bau basal arang yang membakar kayu teki. Di kampung mereka, para pembuat arang bakau masih menggunakan tungku tradisional. Ketika malam tiba, asap dan aroma kayu bakau yang dibakar akan terbawa angin hingga ke laut.

“Itu bau basal arang!” seru Mak Rah.

Atah Me mengangguk dalam gelap.

“Bau itu dari darat. Kita ikut arah baunya.”

Bagi nelayan tua seperti mereka, aroma basal arang bukan sekadar bau biasa. Di malam berkabut, aroma itu menjadi penunjuk arah yang lebih dapat dipercaya daripada mata. Mereka pun berjalan perlahan mengikuti arah datangnya bau tersebut. Setiap kali kabut berubah arah, mereka berhenti dan kembali mengendus udara seperti pelaut yang membaca kompas.

Tetapi usia tidak bisa dilawan. Perjalanan yang biasanya singkat terasa begitu panjang. Kaki mereka mulai mengigil. Air pasang semakin tinggi dan menutupi semua beting. Pada akhirnya kaki mereka sudah tersandung akar bakau di depan mereka, tenaga keduanya hampir habis. Namun keadaan belum sepenuhnya aman.

Air pasang datang lebih cepat dari perkiraan. Alur alur  pantai telah tergenang.

Atah Me menedekat wajahnya  ke arah Mak Rah yang sudah kelelahan terdengar dari napasnya.

“Kita tak dapat sampai ke darat malam ini.”

Mak Rah menghela napas pelan.

Mereka lalu mencari tempat yang lebih tinggi di antara akar akar bakau. Dengan susah payah, keduanya memanjat dan bertahan di sebuah dahan besar yang cukup kuat menopang tubuh mereka.

Malam itu mereka bermalam di atas pohon bakau.

Angin laut terasa menusuk tulang. Tubuh renta mereka menggigil. Sesekali terdengar suara burung malam dan gemuruh ombak yang menghantam akar bakau di bawah mereka.

Mak Rah bersandar pada batang pohon.

“Begini Pula kisah kita malam ini Bang.”

Atah Me menarik napas.

“Selagi hayat masih ada, laut akan terus menguji kita.”

Mereka terdiam.

Di hadapan mereka terbentang kabut gelap. Aroma basal arang masih samar tercium. Menjelang subuh, kabut mulai menipis. Cahaya pertama matahari muncul dari timur, Nampak kembali garis pantai yang semalam hilang.

Antara Mukat, kabut, pasang laut, serta usia yang semakin senja, Atah Me dan Mak Rah memberi kisah mencari rezeki adalah ketabahan dan kebijaksanaan  hidup yang lahir dari pembelajaran nan panjang.

Moes BM lahir Desa Kembung Luar Bengkalis. Kampung depan selat Melaka. Alumni Sastra Daerah/Melayu Fakultas Ilmu Budaya dan Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Aktif di Komunitas Teater Matan Riau.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pasar Sosial

7 Juni 2026 - 06:36 WIB

Hanya Padamu Cinta Ini Kuabadikan

30 Mei 2026 - 00:27 WIB

Tangan yang Dulu Merangkulku

23 Mei 2026 - 14:46 WIB

Di Balik Jendela Bersama Buku Jurnal

9 Mei 2026 - 00:15 WIB

Misni Resmi Jadi Sekda, Tonggak Baru Kepemimpinan Perempuan di Kepri

28 April 2026 - 07:53 WIB

Trending di Ragam