Puisi-puisi Hang Kafrawi
Pasar Sosial
Di bursa kehidupan ini
harga manusia ditentukan sentimen
bukan lagi akhlak
bukan lagi ilmu
melainkan seberapa tinggi ia diperdagangkan
Setiap pagi layar-layar menyala
grafik keserakahan bergerak hijau
sementara indeks kejujuran
terus menyentuh support paling bawah
Para bandar kuasa
menggoreng mimpi rakyat kecil
menaikkan harapan setinggi langit
lalu menjualnya diam-diam
ketika euforia mencapai puncak
Di sudut negeri
buruh dan petani menjadi saham tidur
tak dilirik pasar
tak masuk portofolio pembangunan
meski merekalah fondasi modal bernama bangsa
Ada yang rakus mengejar kemewahan
membeli gengsi dengan hutang berbunga
lalu sangkut bertahun-tahun
pada grafik kehidupan
yang tak pernah kembali ke harga beli
Di media sosial
setiap orang melakukan menabur kebahagiaan
menawarkan citra terbaiknya
meski laporan keuangannya
penuh kerugian yang disembunyikan
Dividen janji terus dibagikan
menjelang musim pemilihan
namun setelah transaksi selesai
yang tersisa hanya capital loss
dan rakyat kembali mengurut dada
Negeri ini menguat dalam slogan
namun merugi dalam kenyataan
karena yang diperdagangkan bukan lagi saham
melainkan harapan manusia
Ketika lonceng penutupan berbunyi
baru kita sadar
bahwa selama ini
yang diperjualbelikan di pasar zaman
adalah martabat kita sendiri
2026
Algoritma Kemiskinan
Di timeline negeri ini
yang viral bukan lagi kemiskinan
melainkan kemewahan
Orang-orang berlomba masuk FYP
memamerkan rumah, mobil, dan liburan
sementara di sudut feed yang sepi
ada ibu yang tak tahu
bagaimana membeli beras esok pagi
Algoritma zaman bekerja diam-diam
mendorong yang kaya
semakin trending
semakin banyak followers
semakin besar keuntungan
sementara yang miskin
tenggelam di bawah layar
tak pernah muncul di beranda kekuasaan
Setiap hari manusia melakukan upload kehidupan
menyusun konten kebahagiaan
memberi filter pada luka
mengedit kenyataan
agar terlihat sempurna
Padahal di balik story yang tersenyum
ada hutang yang menggunung
ada kecemasan yang tak pernah logout
ada hati yang lelah
mengejar like demi like
Di negeri ini
harga diri dihitung dari jumlah followers
kebenaran diukur dari jumlah share
dan kebijaksanaan kalah oleh konten viral
Orang-orang tidak lagi bertanya:
“Apakah ini benar?”
tetapi:
“Apakah ini akan trending?”
Lahirlah influencer keserakahan
yang mengajarkan bahwa hidup adalah pameran
bahwa manusia harus selalu tampak berhasil
meski jiwanya sedang runtuh perlahan
Yang kaya semakin kaya
kontennya disebarkan algoritma
wajahnya muncul di mana-mana
suaranya menjadi rekomendasi
Yang miskin semakin miskin
keluhannya tenggelam dalam scroll tanpa akhir
ceritanya kalah oleh hiburan
deritanya kalah oleh sensasi
Di kolom komentar kehidupan
hati nurani perlahan diblokir
orang-orang sibuk saling menghakimi
saling membatalkan
saling menjatuhkan demi kegagahan
Duit menjadi hashtag paling populer
sementara kejujuran kehilangan pengikut
dan ketika malam tiba
saat layar-layar mulai redup
aku melihat manusia berjalan sendirian
membawa akun yang penuh pujian
namun hati yang kosong
Mereka memiliki ribuan followers
tetapi kehilangan sahabat
Mereka mendapatkan jutaan views
tetapi kehilangan rasa
Mereka berhasil menaklukkan algoritma
namun gagal menyelamatkan nuraninya.
Lalu dari sudut timeline yang sunyi
kemiskinan kembali mengunggah kesedihannya
tak ada yang melihat.
dunia sedang sibuk
menekan tombol like
pada kemewahan yang lewat sesaat.
2026
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak, Peknbaru, Riau.







