Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Sultan Menangis

badge-check

Ilustrasi (net) Perbesar

Ilustrasi (net)

AKU melihat Sultan Siak menangis. Tangisnya bukan sembarang tangis, tapi tangis beradat, terisak di balik senyum yang dipaksakan. Air matanya melelih ke laut sejarah, membuat ombak kecil bernama kenangan.

Lancang Kuning yang dibuat untuk anak cucunya masih megah namun kini bila berlayar bunyinya berderik, bukan karena badai, tapi karena terlalu banyak orang bercakap tanpa menutup lubang di lambung.

Sultan pun heran, kapal bisa bocor padahal laut sedang tenang. Rupanya yang bocor bukan lunas kayu, tapi kesepakatan. Dulu, kesepakatan ditarah rapi, sekarang berketetel seperti penari terpijak api rokok.

Mulut jadi ombak, lidah jadi gelombang, mengapa dengan kapal sendiri sampai lupa bahwa itu milik bersama.

Hiu datang, wak! Jangan salah, hiu itu bukan pendatang baru. Dari zaman datuk moyang, mereka sudah berkelio di bawah kapal. Bedanya, dulu lunas kapal kuat, ABK kompak, sehingga hiu cuma jadi cerita seram sebelum tidur. Sekarang, begitu lambung retak, hiu naik ke meja, makan berghidang. Adoi…!

Anak dimakan, bapak dilahap, paman dicolek, sepupu dicicipi. Hiu berpesta bukan karena ganas semata, tapi karena diberi kesempatan. Kalau orang dalam sibuk saling gigit, jangan salahkan hiu kalau ikut mengokang.

Sultan Siak menangis lagi. Bukan karena hiu, tapi karena anak cucu sendiri. Sesama pewaris sibuk bercekik bercekau, bertumbuk-tumbuk, sementara orang luar duduk manis sambil bertepuk tangan. Tepuknya pelan, tapi panjang, sepanjang tali ghawai, tanda pertunjukan sedang seru menderu.

Padahal, kata Sultan, semuanya sudah diwariskan. Kedaulatan ada, kuasa ada, amanah pun lengkap dengan tanda tangan adat. Itu bukan untuk diperebutkan seperti ikan di pasar, tapi untuk dibele seperti anak sendiri. Kalau diwariskan untuk berkelahi, habislah adat di tengah jalan, habislah budaya di pangkal jalan.

Sultan menghela napas panjang. Dalam helaan itu ada letih orang tua yang sudah kenyang melihat drama semusin. Ia tahu, kekecuhan paling berbahaya bukan datang dari luar, tapi dari dalam kapal sendiri. Musuh sejati bukan hiu, tapi ego yang tak mau duduk sebangku.

Lalu Sultan berpesan, dengan suara lirih tapi tajam. “Kalau kita orang Melayu Riau sedang bermasalah, kembangkan saja layar Lancang Kuning. Tak peduli berlayar di laut atau di darat, tempuh saja. Jangan sibuk memaki angin, nanti layar nghabak.”

Biarkan angin bercakap sendiri, biarkan gelombang mengempas badan, biarkan badai menerjang tebing. Lawan semuanya dengan diam. Karena diam itu bukan kalah, diam itu cara orang pandai menyusun langkah.

Mulut ditutup, mata dibuka, hati diperlebar.
Sebab diam yang beradat itulah kemenangan sejati. Dengan diam, tenaga tak habis untuk ribut, akal tetap sejuk, dan Lancang Kuning masih bisa sampai ke seberang. Samudera masih panjang, Wak. Sayang kalau kapal karam hanya karena lidah terjelei.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sejumlah Tokoh Tua dan Tokoh Adat Meninggal Dunia, LAMR Bengkalis Berduka

12 Agu 2026 - 15:15 WIB

Sejumlah Tokoh Tua dan Tokoh Adat Meninggal Dunia, LAMR Bengkalis Berduka

Imigrasi Siak Perkuat Silaturahmi dengan PWI Riau, Komitmen Tingkatkan Publikasi Pelayanan

12 Agu 2026 - 13:02 WIB

Imigrasi Siak Perkuat Silaturahmi dengan PWI Riau, Komitmen Tingkatkan Publikasi Pelayanan

Dewan Pers Perbarui KBLI Perusahaan Pers, SPS Riau Sambut Positif

11 Agu 2026 - 18:53 WIB

Dewan Pers Perbarui KBLI Perusahaan Pers, SPS Riau Sambut Positif

Lima Cagar Budaya Riau Naik Peringkat, Tiga Berasal Dari Siak

11 Agu 2026 - 18:48 WIB

Lima Cagar Budaya Riau Naik Peringkat, Tiga Berasal Dari Siak

Naskah Syair Raja Siak Masuk Tahap Pemaparan IKON Nasional

11 Agu 2026 - 14:46 WIB

Naskah Syair Raja Siak Masuk Tahap Pemaparan IKON Nasional
Trending di Pekanbaru