RiauKepri.com, JAKARTA – Kesiapan sembilan negara Asia Tenggara untuk menerima penggunaan mata uang BRICS menandai babak baru dalam peta keuangan regional sekaligus membuka peluang strategis bagi ASEAN, khususnya Indonesia, dalam memperkuat posisi perdagangan internasional.
Meski belum resmi diluncurkan, mata uang bersama BRICS telah mendapat sambutan positif dari Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Komitmen ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan negara-negara ASEAN terhadap alternatif sistem pembayaran di luar dominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Langkah tersebut sejalan dengan upaya kolektif BRICS—yang kini beranggotakan 10 negara—dalam mendorong dedolarisasi dan menciptakan sistem keuangan global yang dinilai lebih seimbang. Negara-negara berkembang melihat ketergantungan berlebihan pada dolar AS berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi, terutama di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan sanksi yang kerap berdampak lintas negara.
China dan Rusia sebagai penggerak utama BRICS terus memperluas pengaruh mata uang non-dolar dalam perdagangan global. Dorongan ini mendapat respons luas dari negara mitra yang ingin memperkuat kedaulatan ekonomi dan mengurangi risiko eksternal dalam transaksi internasional.
Indonesia berada pada posisi strategis dalam perkembangan ini. Sebagai anggota ASEAN sekaligus anggota resmi BRICS, Indonesia berpotensi menjadi jembatan penghubung perdagangan antara Asia Tenggara dan blok ekonomi BRICS. Penggunaan mata uang BRICS dalam skema kerja sama ekonomi diyakini dapat memperluas opsi transaksi sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan lintas kawasan.
Dengan bergabungnya Indonesia dan sembilan negara ASEAN lainnya, setidaknya 19 negara diproyeksikan siap memanfaatkan mata uang BRICS dalam perdagangan internasional. Jumlah ini masih berpotensi bertambah seiring keberadaan 13 negara mitra BRICS yang menunjukkan minat terhadap agenda dedolarisasi.
Perkembangan ini mengindikasikan pergeseran bertahap kepercayaan global menuju sistem pembayaran alternatif, sekaligus mempertegas arah perubahan pusat kekuatan ekonomi dunia dari Barat ke Timur. Peluncuran resmi mata uang BRICS pun dinilai dapat menjadi momentum penting dalam transformasi arsitektur keuangan global. (*)








