RiauKepri.com, PEKANBARU– Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menerima kunjungan rombongan mahasiswa University Malaya, Malaysia, dalam rangka silaturahmi dan diskusi kebudayaan Melayu, Rabu (14/1), di Balai Adat LAMR, Pekanbaru. Kunjungan ini menjadi sarana edukasi lintas negara bagi generasi muda dalam memahami nilai, sejarah, dan jati diri Melayu serumpun.
Rombongan mahasiswa University Malaya didampingi dosen senior Dr. Muhammad Syukri, bersama dosen pendamping dari UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Dr. Muhammad Habibi. Turut hadir dosen dan mahasiswa UIN Suska Riau yang ikut dalam dialog kebudayaan tersebut.
Kedatangan rombongan disambut langsung Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, serta didampingi Datuk H. Rustam Effendy, Datuk Afrizal Alang, dan Datuk Arman.
Dalam pemaparannya, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil menjelaskan fungsi dan peran LAMR sebagai lembaga yang bertanggung jawab menjaga, memelihara, dan mengembangkan nilai-nilai adat serta budaya Melayu Riau. Ia menekankan bahwa Melayu tidak hanya dimaknai sebagai identitas etnis, melainkan sebagai nilai dan sifat yang tercermin dalam adab, budi, serta akhlak.
“Melayu itu adalah sifat. Ia sengaja melayukan dirinya, dalam arti menjunjung adab, budi, dan akhlak,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa secara kebudayaan, Riau dan Malaysia memiliki akar sejarah yang sama. Perbedaan yang ada saat ini hanya bersifat administratif negara, sementara nilai adat dan budaya tetap satu rumpun. Hal ini, menurutnya, penting dipahami oleh mahasiswa sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan kebudayaan Melayu.
Selain itu, Datuk Seri Taufik turut memaparkan perjuangan LAMR dalam mendorong pengakuan Riau sebagai daerah istimewa yang berpijak pada aspek sejarah, kebudayaan, serta peran strategis Melayu Riau dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Sementara itu, Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf menegaskan bahwa silaturahmi akademik antar generasi muda serumpun Melayu merupakan bagian dari tanggung jawab sejarah. Menurutnya, adat dan budaya Melayu harus dipahami bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pedoman hidup yang membentuk jati diri.
“Anak-anak Melayu hari ini adalah pewaris marwah dan martabat bangsanya. Jika adat dijunjung dan ilmu dituntut dengan adab, maka Melayu akan tetap tegak walau zaman berubah,” kata Datuk Seri Marjohan.
Ia berharap kunjungan edukatif lintas negara ini dapat memperkuat pemahaman sejarah, memperkaya wawasan kebudayaan, serta menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai Melayu di tengah arus globalisasi. (RK1)








