RiauKepri.com, SIAK– Senja di Kerinci Kiri, Senin (2/3/2026), turun perlahan. Langit berwarna jingga, jalan tanah berdebu, dan deretan rumah berdiri dengan cat yang mulai terkelupas dimakan usia. Di antara rumah-rumah itu, sebuah pintu terbuka. Di ambangnya, seorang ibu separuh baya berdiri, seakan menunggu sesuatu yang tak pernah pasti datang.
Sore itu, takdir mempertemukan mereka. Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, sedang melakukan safari Ramadan sambil ngabuburit di Kecamatan Kerinci Kiri. Seperti biasa, ia memilih menyusuri dusun dan kampung secara langsung, mengetuk pintu, menyapa, melihat sendiri denyut kehidupan warganya.
Langkahnya terhenti di rumah bercat lusuh dan sudah mengelupas, daun jendela ditutup pakai seng berkarat. Afni menyapa sang ibu dan bertanya di mana suaminya. Jawaban itu lirih, namun berat, suaminya telah lama meninggal dunia. Ia kini seorang diri menjadi tulang punggung bagi empat anaknya yang masih kecil. Rumah itu bukan miliknya. Ia hanya diizinkan menempati, dengan satu kewajiban sederhana, membayar listrik.
Di balik pintu rumah itu, ada kisah yang lebih sunyi. Sejak ayah mereka tiada, anak sulungnya, Nisa, berhenti sekolah. Saat itu Nisa masih duduk di bangku kelas 5 SD. Tanpa banyak kata, ia memilih tinggal di rumah, membantu ibunya, dan memendam keinginannya sendiri.
Afni meminta bertemu Nisa. Tanpa sekat protokoler, tanpa jarak jabatan, ia duduk di lantai ruang tamu rumah sederhana itu.
“Nisa, kenapa tidak mau sekolah lagi?” tanya Afni lembut.
Gadis kecil itu hanya menggeleng. “Apakah dibully di sekolah?”
Nisa kembali menggeleng, menunduk, seolah dunia terlalu berat untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Di sela percakapan itu, terungkap bahwa Nisa sebenarnya bisa membaca. Ia bahkan mampu membaca Al-Qur’an. Ada cahaya yang belum padam di dalam dirinya, cahaya yang hanya butuh sedikit angin untuk kembali menyala.
Tanpa ragu, Afni meminta penghulu setempat menyiapkan paket untuk penyetaraan tamatan SD. Ia memastikan Nisa bisa melanjutkan pendidikan ke pesantren. Seluruh biaya akan ditanggungnya. Bahkan lebih dari itu, Nisa dijadikan anak angkatnya.
Mendengar kalimat itu, wajah Nisa berubah. Sedih dan bahagia berbaur. Air matanya tumpah begitu saja, deras, tanpa mampu dibendung. Ia menangis di bahu Afni, yang langsung merangkulnya erat, duduk memeluknya seperti seorang ibu memeluk anaknya sendiri.
Tangis itu bukan sekadar tangis seorang anak. Itu adalah tangis yang selama ini ditahan Nisa, tentang kehilangan ayah, tentang mimpi yang terhenti, tentang masa depan yang sempat terasa gelap.
Ibunya pun tak kuasa menahan haru. Ucapan terima kasih mengalir di sela isak, namun yang paling terasa bukanlah kata-kata, melainkan rasa syukur yang pecah di ruangan kecil itu.
“Ini Allah yang mentakdirkan saya tiba di rumah ini dan bertemu dengan Nisa,” ujar Afni pelan.
Mantan wartawan itu meminta penghulu untuk terus mengecek anak-anak yang putus sekolah. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jembatan yang bisa membawa anak-anak keluar dari lingkaran kesulitan.
“Dengan bersekolah, dengan pendidikan, anak-anak kita bisa mengubah masa depan mereka,” kata Afni.
Sebelum melanjutkan kunjungan ke rumah warga lainnya, Afni menyerahkan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Siak untuk keluarga Nisa. Ia juga memohon doa agar infak dan zakat masyarakat Siak terus bertambah, agar lebih banyak Nisa lain yang bisa kembali mengeja dan menyulam mimpi.
Senja pun benar-benar turun. Namun di rumah bercat lusuh itu, sebuah cahaya baru telah dinyalakan. Bukan dari lampu listrik yang sekadar dibayar setiap bulan, melainkan dari harapan yang kembali hidup, di mata seorang anak kecil bernama Nisa. (RK1)







