Menu

Mode Gelap
Kadinkes Anambas Terbitkan 3 ST PPPK, Satu Tenaga Tanpa Surat Tugas Tuai Sorotan Di Balik Sorotan Dana BOS, SMKN 4 Tanjungpinang Minta Pemberitaan Berimbang Myanmar yang Menjadi Dilema Hadir di Trofeo PWI Riau, BRK Syariah Dorong Kolaborasi Positif Bersama Insan Pers Indra Saputra Maju PD Tidar Kepri, Serangkaian Kegiatan Seminar Dilaksanakan 10-11 Mei 2026 Sempat Vakum Akibat Pandemi, Helat Budaya ‘Sabtu Batam Berpuisi’ Kembali Bergema di Rumahitam

Internasional

Irak “Main Dua Kaki”: Restui Milisi Pro-Iran Hadapi AS di Tengah Tekanan Konflik Regional

badge-check


					Kondisi bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon. (Foto: net) Perbesar

Kondisi bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon. (Foto: net)

RiauKepri.com, IRAK – Langkah pemerintah Irak memberi ruang bagi milisi Popular Mobilization Forces (PMF) untuk melawan Amerika Serikat mencerminkan posisi dilematis Baghdad di tengah memanasnya konflik Iran–AS di kawasan Timur Tengah.

PMF merupakan kelompok paramiliter yang secara resmi masuk dalam struktur keamanan Irak, namun banyak faksinya memiliki kedekatan ideologis, militer, dan politik dengan Iran.

Di satu sisi, Irak masih bergantung pada kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Namun di sisi lain, tekanan domestik dari kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran membuat pemerintah tidak bisa sepenuhnya berpihak ke Washington.

Situasi ini semakin kompleks setelah serangan udara yang menewaskan sejumlah anggota PMF. Pemerintah Irak kemudian memberi legitimasi kepada milisi tersebut untuk melakukan “pembelaan diri”, yang berpotensi berarti serangan balasan terhadap kepentingan AS di wilayah Irak.

Pengaruh Iran Jadi Faktor Kunci

Kedekatan PMF dengan Iran bukan hal baru. Sejak dibentuk pada 2014 untuk melawan ISIS, banyak faksi dalam PMF mendapat dukungan pelatihan, persenjataan, hingga arahan strategis dari Teheran.

Hal ini menjadikan PMF bukan sekadar alat keamanan domestik, melainkan juga bagian dari jaringan “poros perlawanan” Iran di kawasan, yang kerap berseberangan dengan kepentingan AS.

Irak Terjebak di Tengah Konflik

Dengan kondisi tersebut, Irak kini berada di posisi sulit: menjaga hubungan diplomatik dengan AS, sekaligus meredam tekanan dari kelompok pro-Iran di dalam negeri.

Ketika pemerintah memberi izin kepada PMF untuk melawan AS, langkah itu bukan semata pilihan strategis, melainkan cerminan kompromi politik untuk menjaga stabilitas internal.

Namun konsekuensinya, Irak berisiko menjadi arena konflik terbuka antara dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan Iran—yang dapat memperluas eskalasi perang di kawasan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

GA CAJ 2026 Digelar 27–30 April, Bahas Suksesi Kepemimpinan hingga Era Jurnalisme AI

27 April 2026 - 15:09 WIB

Kronologis, Motif, dan Pelaku Penembakan Gedung Putih

26 April 2026 - 17:02 WIB

Penembak Gedung Putih Dibekuk, Apa Motifnya

26 April 2026 - 11:51 WIB

Diterima di 13 Kampus Luar Negeri, Siswa MAN 2 Pekanbaru Kejar Beasiswa Demi Ringankan Orangtua

7 April 2026 - 21:01 WIB

Krisis BBM Filipina Lumpuhkan Transportasi, Warga Beralih Jalan Kaki

27 Maret 2026 - 17:15 WIB

Trending di Internasional