Menu

Mode Gelap
Ny. Sinta Aneng Hadiri Pengukuhan Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Wilayah Kabupaten/Kota Masa Bakti 2026–2031 Polda Riau Hadirkan Jalur Klinik Terapung dan Bantuan Sosial Sapa Warga Pesisir Sungai Siak Lepas 44 Jemaah Calon Haji, Bupati Roby : Khusyuk Beribadah, Selamat Pergi dan Selamat Kembali BRK Syariah dan Kejari Siak Perkuat Sinergi untuk Penyelesaian Pembiayaan Secara Berkeadilan ‎Pemdes Ulu Maras Salurkan BLT, Warga Tidak Hadir Tetap Dilayani ke Rumah ‎Fokus di Simpang Menuju Puskesmas, Goro Jumat ASRI Libatkan Banyak Instansi di Jemaja Timur

Internasional

Pasang Badan untuk Pemimpin Baru Iran, China Kecam Keras AS – Israel

badge-check


					Xi Jinping, Presiden China dan Mojtaba Khamenei, Pimpinan Iran Baru. (Foto: Net) Perbesar

Xi Jinping, Presiden China dan Mojtaba Khamenei, Pimpinan Iran Baru. (Foto: Net)

RiauKepri.com, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah China secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Iran dan mengecam sikap Amerika Serikat serta Israel terkait dinamika politik terbaru di negara tersebut. Pernyataan ini muncul setelah Mojtaba Khamenei ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan militer.

Pemerintah China menegaskan bahwa pemilihan pemimpin Iran merupakan urusan internal negara tersebut yang harus dihormati oleh pihak luar. Beijing juga menolak segala bentuk intervensi asing yang dinilai dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati oleh semua negara. Ia menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan di Iran merupakan keputusan konstitusional yang diambil oleh rakyat dan lembaga politik Iran sendiri.

Sikap tegas Beijing ini sekaligus menjadi respons terhadap berbagai pernyataan dari Amerika Serikat dan Israel yang dinilai ikut mencampuri proses politik di Iran. Kedua negara tersebut sebelumnya mengkritik kepemimpinan baru Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung di kawasan.

Ketegangan meningkat setelah pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sejumlah fasilitas penting di Iran. Peristiwa tersebut memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pasca serangan tersebut, Iran segera menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru melalui mekanisme politik yang berlaku di negara itu. Penunjukan tersebut mendapat dukungan dari berbagai elite politik dan militer Iran.

Namun, langkah Iran itu tidak lepas dari sorotan negara-negara Barat. Beberapa pejabat di Amerika Serikat bahkan meragukan legitimasi dan kemampuan Mojtaba Khamenei dalam memimpin negara di tengah situasi perang yang masih berlangsung.

China memandang kritik semacam itu berpotensi memperkeruh keadaan dan mendorong konflik semakin meluas. Beijing menilai bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai jika semua pihak menghormati prinsip kedaulatan negara.

Selain membela Iran, China juga menegaskan bahwa konflik bersenjata yang terjadi di Timur Tengah seharusnya tidak pernah terjadi. Beijing menyerukan agar semua pihak menahan diri dan kembali menempuh jalur diplomasi.

Pemerintah China juga memperingatkan bahwa upaya untuk mengganti pemerintahan Iran melalui tekanan atau intervensi luar tidak akan mendapat dukungan luas dari masyarakat internasional. Di sisi lain, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus memicu ketegangan di berbagai wilayah, termasuk di kawasan Teluk Persia. Serangan balasan dan operasi militer di beberapa titik membuat situasi keamanan regional semakin tidak stabil.

Dampak konflik tersebut juga mulai terasa secara global, termasuk pada sektor energi dan perdagangan internasional. Jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz bahkan sempat terganggu akibat meningkatnya aktivitas militer di kawasan.

Dalam situasi tersebut, sejumlah negara besar dunia mulai mengambil posisi diplomatik masing-masing. Sebagian negara mendukung operasi militer Barat, sementara yang lain, termasuk China, menyerukan penghentian serangan dan dialog politik.

Para analis menilai sikap China menunjukkan upaya Beijing memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah sekaligus menantang dominasi Barat dalam isu geopolitik kawasan tersebut. Langkah ini juga memperlihatkan kedekatan hubungan strategis antara China dan Iran.

Dengan situasi yang masih memanas, komunitas internasional kini memantau perkembangan konflik tersebut dengan cermat. Banyak pihak berharap ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat segera mereda melalui jalur diplomasi demi mencegah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (RK6/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diterima di 13 Kampus Luar Negeri, Siswa MAN 2 Pekanbaru Kejar Beasiswa Demi Ringankan Orangtua

7 April 2026 - 21:01 WIB

Krisis BBM Filipina Lumpuhkan Transportasi, Warga Beralih Jalan Kaki

27 Maret 2026 - 17:15 WIB

Irak “Main Dua Kaki”: Restui Milisi Pro-Iran Hadapi AS di Tengah Tekanan Konflik Regional

26 Maret 2026 - 20:25 WIB

Kabar Eks Presiden Iran Ahmadinejad Gugur, Picu Peningkatkan Konflik

2 Maret 2026 - 06:32 WIB

Iran Serukan Balas Kematian Khamenei terhadap AS dan Israel

2 Maret 2026 - 05:52 WIB

Trending di Internasional