Menu

Mode Gelap
Edarkan Sabu Oknum Mahasiswa di Bekuk Polisi dan Amankan 15,87 Gram Sabu* Grebek Rumah di Jalan Rambutan Serai Wangi, Polsek Pinggir Amankan 19 Paket Sabu dan Dua Pelaku Panggung Konflik Fendi Wakilkan Ketua KONI Anambas Hadiri Penutupan Turnamen Sepak Bola HUT Ke-54 Desa Ladan Buang Tisu Berisi Ekstasi di KTV Duri Barat, Seorang Pemuda Langsung Diciduk Polisi Peredaran Pil Ekstasi di Balai Raja Terbongkar, Dua Pelaku Diciduk hingga KTV Duri Barat

Minda

Adat Jiran

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, kalau kita cakap pasal gotong royong, janganlah terus terbayang cangkul di tangan dan lumpur di kaki saja. Itu memang bagian dari cerita, tapi yang lebih dalam dari itu, gotong royong ini ibarat kopi kampung, bukan pada gulanya, tapi pada kebersamaan yang membuat rasanya lekat di hati.

Zaman sekarang ini, Wak, orang tinggal di kota macam tinggal di kandang sendiri-sendiri. Pagi keluar sebelum ayam sempat berkokok dua kali, malam pulang pun ayam sudah lama tidur. Akhirnya, jiran sebelah rumah itu kita kenal cuma dari suara motor dan bunyi pagar. Kalau berpapasan pun, senyum macam hendak tak hendak.

Padahal orang tua-tua kita sudah lama berpesan, adat bertetangga itu saling menyapa, adat sekampung itu tolong-menolong, adat senegeri itu saling memberi, dan adat senegara itu saling berjasa. Itu bukan sekadar pantun hiasan bibir, Wak, tapi pedoman hidup supaya kita tidak jadi manusia yang asing di tanah sendiri.

Nah, gotong royong inilah peluang emas yang sering kita sia-siakan. Di situlah kita boleh tahu siapa jiran kita yang sebenarnya. Ada yang datang bawa parang, ada yang datang bawa cangkul, dan ada juga yang datang dengan tangan kosong tapi pinggang cekap macam mandor proyek. Kerja belum mulai, arahan sudah macam kontraktor besar.

Lucunya lagi, Wak, yang rajin datang gotong royong itu orangnya itu-itu saja. Yang tak datang pun, ya orangnya itu juga. Konsisten betul, cuma bedanya yang satu konsisten berkeringat, yang satu konsisten beralasan. Tapi hebatnya adat kita, yang rajin tidak pula dipuja-puja, yang tak datang pun cukup “ditegur angin” kena sanksi moral yang halus tapi pedih.

Kalau kita faham betul, gotong royong ini bukan soal siapa paling kuat angkat kayu atau paling cepat menebas rumput. Ia tentang menyatukan hati yang sudah lama berjarak. Tentang membuka kembali pintu silaturahmi yang hampir berkarat.

Asalnya kata gotong royong pun indah, Wak. Dari kata “gotong” yang berarti mengangkat, dan “royong” yang berarti bersama. Maknanya jelas, yang berat jadi ringan kalau dipikul sama-sama. Tapi sekarang ini, ada pula yang salah tafsir. Terutama yang duduk di kursi empuk, gotong royongnya bukan lagi angkat beban masyarakat, tapi angkat perkara yang tak patut. Korupsi pun berjamaah, katanya biar adil rasa bersalahnya.

Nah, ini yang perlu kita luruskan. Jangan sampai budaya yang mulia ini jadi bahan gurauan pahit. Gotong royong itu mestinya menyatukan yang retak, bukan menyamakan yang rusak.

Jadi, Wak, lain kali kalau ada gotong royong, jangan tunggu dijemput macam raja. Datanglah, walau sekadar pegang sapu atau angkat daun. Siapa tahu, dari situ kita bukan saja membersihkan lingkungan, tapi juga membersihkan hati yang sudah lama tak berjumpa.

Sebab pada akhirnya, Wak, kampung yang bersih itu bagus, tapi kampung yang orangnya saling kenal dan peduli, itu yang membuat hidup terasa hidup.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Panggung Konflik

3 Mei 2026 - 07:50 WIB

Suara Buruh Disalurkan Damai, Harapan Dikumpulkan di Purna MTQ

2 Mei 2026 - 09:37 WIB

3.096 Jemaah Haji Riau Telah Diberangkatkan, 18 Tertunda karena Kesehatan

2 Mei 2026 - 09:33 WIB

Adab Zaman

2 Mei 2026 - 06:48 WIB

257 CJH Siak Berangkat 4 Mei, 33 Persen Lansia Diminta Jaga Kebugaran

1 Mei 2026 - 15:29 WIB

Trending di Riau