Oleh: Buana Fauzi Februari
Penulis adalah Pelaku Peristiwa Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau
Ingatan saya seketika melenting ke masa 27 tahun silam. Tepatnya pada 8 Mei 1999, di Istana Biram Dewa, Jl. Sukasirna No. 10, Bandung. Sekretariat Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau (IPMKR) Bandung. Buana F Februari adalah Ketua Umumnya. Hari itu menjadi tonggak sejarah kecil namun krusial ketika Bupati Kabupaten Kepulauan Riau saat itu, H. Abdul Manan Saiman, hadir meresmikan berdirinya IPMKR Bandung. Sebuah organisasi yang lahir dari semangat kemandirian, melepaskan diri dari status komisariat di bawah Keluarga Pelajar Mahasiswa Riau (KPMR) Bandung.
Dalam momen tersebut, Bupati Manan sempat memaparkan agenda strategis mengenai musyawarah pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau menjadi beberapa kabupaten baru, termasuk pembentukan Kabupaten Natuna yang kemudian terealisasi pada tahun 1999. Namun, di tengah pemaparan rencana administratif tersebut, atmosfer di dalam Istana Biram Dewa justru bergetar oleh visi yang lebih besar. Mahasiswa Kepri di Bandung dengan lantang menyahut dan melontarkan gelora perjuangan yang lebih tinggi: Kepri harus menjadi provinsi sendiri, terpisah dari Riau.
Kini, rencana Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) untuk menyusun buku sejarah perkembangan pembentukan provinsi kita tercinta adalah sebuah inisiatif yang sangat baik dan patut diapresiasi setinggi-tingginya. Langkah ini merupakan upaya nyata dalam memperkaya literasi sejarah lokal bagi generasi mendatang. Namun, sebagai salah satu pelaku sejarah, saya merasa perlu memberikan sedikit catatan kritis agar narasi yang terbangun nantinya tidak kehilangan objektivitas dan sesuai fakta.
Menurut hemat saya, penyusunan buku ini harus dilakukan secara komprehensif dan integral. Sejarah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau bukanlah milik segelintir elite atau satu kelompok saja. Sesungguhnya, Kepri dapat berdiri tegak menjadi provinsi berkat andil dan partisipasi seluruh masyarakatnya, baik melalui perjuangan fisik di lapangan maupun untaian doa yang tulus. Oleh karena itu, saya sangat berharap proses penyusunan buku ini dapat dilakukan secara imparsial, dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai sudut pandang peristiwa dan pelakunya.
Sejarah harus ditulis dari berbagai jendela keterlibatan. Saya sendiri, pada akhir tahun 1999, bergerak sebagai inisiator Gerakan Mahasiswa Kepulauan Riau (GMKR). Saat itu, kami berhasil menghimpun kekuatan dan menyatukan barisan mahasiswa Kepri yang merantau di sejumlah kota seperti Pekanbaru, Jakarta, dan Yogyakarta, untuk pulang dan melakukan aksi turun ke jalan di Tanjungpinang. Pergerakan mahasiswa kala itu penuh dengan dinamika dan ujian; bahkan aksi murni kami sempat diplintir dan dituduh sebagai gerakan untuk mengganyang perjudian Jackpot yang memang sedang marak di masa itu.
Fragmentasi dan dinamika pergerakan mahasiswa dari berbagai kota penunjang ini adalah fakta sejarah yang tidak boleh luput dari pencatatan. Jangan sampai ada kepingan perjuangan yang tercecer atau sengaja dikecilkan perannya. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk karena perjuangan seluruh masyarakat. Melalui kerja besar BP3KR dalam menyusun buku ini, mari kita pastikan bahwa setiap tetes keringat, gelora aksi mahasiswa, diplomasi para tokoh, dan doa masyarakat tercatat secara adil, jujur, dan imparsial demi meluruskan warisan sejarah bagi anak cucu kita.
Bagimu Kepri….
Jiwa raga kami…







