RiauKepri.com, SIAK— Setelah menelusuri jalan tanah yang lecah, menyeberangi sungai kecil, lalu membelah perairan yang tenang namun sunyi, rombongan itu akhirnya tiba di Dusun Mungkal. Sebuah dusun di wilayah 3T Kabupaten Siak yang seolah jauh dari hiruk-pikuk pembangunan. Di sana, listrik kadang redup, jalan kadang putus oleh hujan, dan sekolah berdiri sederhana di tengah genangan air.
Namun pagi itu, Kamis (21/5/2026), anak-anak tetap datang dengan seragam pramuka mereka. Sepatu penuh lumpur. Celana basah di ujung kaki. Mereka berdiri rapi di lapangan sekolah yang berubah seperti kubangan kecil selepas hujan malam. Mata mereka menunggu satu hal sederhana, kedatangan pemimpin yang mau hadir melihat hidup mereka dari dekat.
Ini menjadi kali kedua Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, datang ke Dusun Mungkal. Perjalanan panjang yang melelahkan seakan tak berarti dibanding keinginan untuk memastikan masyarakat di daerah paling jauh tetap merasa dipeluk oleh pemerintahnya.
Di tengah memanjat anak tangga kayu yang licin untuk naik ke jambatan, Afni sempat tersenyum kecil sambil berkata pelan, “Untung saya anak sungai, jadi hal seperti ini sudah biasa.” Kalimat sederhana itu terdengar ringan, tetapi menyimpan kenyataan pahit tentang bagaimana sebagian masyarakat Siak masih harus hidup berdampingan dengan akses yang sulit setiap hari.
Dari tepian sungai, perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil pick-up menuju sekolah dasar tempat pembagian seragam gratis dilakukan. Tak ada karpet merah. Tak ada penyambutan mewah. Yang ada hanyalah anak-anak kecil berwajah cerah yang berlari kecil menyambut kedatangan bupati mereka.
Sebagian guru tampak menahan haru. Sebab bagi masyarakat di daerah terpencil seperti itu, kehadiran seorang pemimpin bukan sekadar agenda seremonial. Mereka ingin didengar, ingin dianggap ada.
Afni lalu duduk di tengah anak-anak. Tidak menjaga jarak. Tidak sekadar menyerahkan bantuan lalu pergi. Ia bercengkerama, tertawa, bahkan ikut menari joget Melayu bersama anak-anak di atas panggung seadaanya.
Di balik tawa itu, ada kenyataan yang sulit disembunyikan. Pemerintah, kata Afni, belum mampu hadir secara maksimal untuk seluruh masyarakat. Dengan suara lirih di hadapan guru-guru, mantan wartawan itu meminta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik. “Pengabdian guru jauh lebih besar dibanding apa yang diterima hari ini,” ucapnya.
Kalimat itu membuat sebagian guru tertunduk. Sebab di wilayah-wilayah seperti Dusun Mungkal, guru bukan hanya mengajar membaca dan berhitung. Mereka sering menjadi orangtua kedua bagi anak-anak yang setiap hari harus menempuh perjalanan jauh demi sekolah.
Di hadapan murid-murid, Afni berpesan agar mereka tetap semangat belajar meski medan menuju sekolah begitu sulit. Sebab pendidikan, katanya, adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.
Pesan itu terdengar sederhana. Namun di wilayah 3T, pergi ke sekolah bukan perkara sederhana. Ada anak-anak yang harus melewati jalan berlumpur, naik pompong kecil, bahkan berjalan kaki jauh hanya untuk sampai ke kelas. Pendidikan di tempat seperti itu bukan hanya soal buku dan seragam, melainkan perjuangan melawan keadaan.
Harapan masyarakat kecil itu semakin terasa ketika seorang ibu mendatangi Afni usai pembagian seragam di Dusun Tanjung Pal, Sungai Apit. Perempuan muallaf dari suku asli Melayu Anak Rawa itu menunggu dengan sabar hingga acara selesai.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan satu permintaan yang sangat sederhana namun terasa berat, ia ingin anaknya masuk pesantren. Di mana saja. Asal bisa sekolah. Namun ekonomi keluarganya tak mampu menjangkau cita-cita itu.
Tak ada tuntutan besar. Tak ada permintaan rumah atau uang. Seorang ibu di pelosok hanya ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dari dirinya.
Momen itu membuat suasana mendadak hening. Sebab kemiskinan sering kali bukan sekadar soal lapar, tetapi tentang mimpi yang perlahan terasa terlalu mahal untuk dimiliki. “Selagi ada niat baik anak-anak seperti ini, Insya Allah akan dirawat dan dijaga Allah SWT. Dan tentu menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Afni.
Perjalanan ke Dusun Mungkal dan Tanjung Pal yang merupakan bagian dari Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, itu, seakan menjadi pengingat bahwa tugas seorang pemimpin bukan hanya duduk di balik meja dan membaca laporan. Ada jalan berlumpur yang harus dilalui. Ada sungai yang harus diseberangi. Ada jambatan yang harus dipanjat, ada tangan-tangan kecil yang perlu digenggam agar mereka percaya bahwa negara belum sepenuhnya meninggalkan mereka. (RK1)







