Menu

Mode Gelap
BRK Syariah Hadir Meriahkan Festival Ketan Talam Durian Terpanjang di Dunia, Dekatkan Layanan Perbankan kepada Masyarakat Festival Seni Budaya Melayu Riau Hidupkan Tradisi di Negeri Istana Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Bengkalis Gelar Nonton Bareng Bersama Masyarakat Panggung Kecil Desa Alai, Menyalakan Api Teater yang Tak Pernah Padam Polres Bengkalis Gelar Fun Run Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Pererat Sinergitas Bersama Masyarakat Kenduri Terkunci

Minda

Kenduri Terkunci

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, di kampung kami kalau buat kenduri, apalagi kenduri besar sampai satu kampung diundang, pantang orang Melayu pilih-pilih tamu. Kalau sudah ditebar undangan yang datang disambut dengan senyum, disuguhi air sirih, kalau mampu ditambah kopi panas dan kue bangkit. Takkan pula yang dijemput ke pintu gerbang cuma pengantin, sementara mak andam, tukang kompang, dan pembawa tepak sirih disuruh tunggu di luar pagar.

Begitulah kira-kira melihat Piala Dunia 2026. Katanya piala dunia ini untuk menyatukan dunia melalui sepak bola. Bahasa orang pandai disebut diplomasi budaya. Bahasa orang kampung kami sederhana saja, berjumpa untuk bersaudara, berlaga untuk bergembira, balik membawa cerita.

Sepak bola disebut bahasa universal. Tak peduli warna kulit, bangsa, bahasa, atau agama. Orang Brazil menendang bola, orang Jepang memahami. Orang Senegal bersorak, orang Argentina ikut merasakan. Orang Indonesia? Sejauh ini cukup jadi tukang sorak saja lah. Heee…

Bola itu bulat, bukan petak-petak macam sempadan negara. Tapi aneh pula jadinya, Wak. Iran diundang bertanding, tetapi beberapa staf dan pegawai federasinya ditolak masuk. Pemain boleh masuk, pelatih boleh masuk, tetapi ada rombongan yang tersangkut di pintu imigrasi. Akhirnya markas latihan pun dipindahkan ke Meksiko. Lebih lucu lagi, skuad Iran hanya boleh masuk Amerika saat hari pertandingan dan sesudah selesai harus segera keluar.

Macam orang datang kenduri, Wak. Diizinkan makan gulai kambing, tapi tak boleh duduk lama-lama. Habis suap terakhir, terus diminta balik ke sampan.

Yang lebih menyentuh hati lagi kisah seorang wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan. Orang ini bukan sembarang wasit. Wasit terbaik Afrika tahun 2025. Umurnya baru 34 tahun. Kalau jadi memimpin pertandingan, dialah orang Somalia pertama dalam sejarah yang menjadi wasit di putaran final Piala Dunia.

Bayangkanlah, Wak. Di kampung-kampung Melayu, kalau ada anak nelayan berhasil jadi doktor atau profesor, satu kampung ikut bangga. Makcik-makcik yang dulu pernah menggendongnya pun tiba-tiba mengaku masih ingat waktu dia kecil suka mandi hujan dan berenang di parit.

Begitu juga Somalia. Mereka menunggu sejarah. Tetapi sejarah itu kandas bukan di lapangan, bukan karena salah meniup peluit, bukan karena kurang cakap. Ia kandas di pintu masuk bandara. Akhirnya FIFA mencoret namanya dari daftar ofisial Piala Dunia.

Kalau orang tua-tua Melayu melihat kejadian ini, mungkin mereka akan menggeleng sambil membetulkan kain samping. “Kalau hendak membuat gelanggang silat, janganlah jemput pesilat dari seluruh dunia, kemudian separuhnya disuruh berdiri di luar pagar.”

Memang selepas itu UEFA memberikan hiburan. Omar ditunjuk memimpin Piala Super UEFA. FIFA pula tetap membayar honornya. Masyarakat Somalia menyambutnya bak pahlawan ketika pulang. Tetapi, Wak, kadang-kadang bukan soal uang atau jabatan. Orang Melayu ada marwah. Yang hilang itu adalah peluang mengukir sejarah. Peluang yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Yang membuat hati bertanya-tanya ialah sikap negara-negara peserta lain. Mereka semua bercakap tentang solidaritas, persahabatan, anti-diskriminasi, dan kebersamaan. Kata-katanya indah macam pantun pembuka majelis.

Tetapi ketika ada tetamu yang tersangkut di pintu, banyak yang memilih diam. Padahal dalam adat Melayu, kalau seorang tetamu dipermalukan di rumah kenduri, yang malu bukan tetamu itu seorang. Tuan rumah pun malu, penghulu pun malu, bahkan orang yang duduk semeja turut terasa.

Sebab itulah orang tua-tua dahulu berpesan:
“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”
Bukan: “Kalau berat awak pikul sendiri, kami tengok dari jauh sambil makan kerupuk.”

Akhirnya Piala Dunia tetap berjalan. Gol tetap tercipta. Sorakan tetap bergema. Trofi tetap diangkat. Tetapi di celah gegak-gempita itu, ada satu pertanyaan yang masih berlegar seperti bola di tengah lapangan: Kalau tujuan piala dunia adalah menyatukan dunia, bagaimana mungkin ada orang yang sudah dijemput ke gelanggang, tetapi tidak dibenarkan masuk ke dalamnya?

Itulah yang orang Melayu sebut, Wak, Kompangnya dipalu kuat-kuat, tetapi pintu balainya masih separuh tertutup.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BRK Syariah Hadir Meriahkan Festival Ketan Talam Durian Terpanjang di Dunia, Dekatkan Layanan Perbankan kepada Masyarakat

21 Juni 2026 - 15:39 WIB

Panggung Kecil Desa Alai, Menyalakan Api Teater yang Tak Pernah Padam

21 Juni 2026 - 11:08 WIB

Mahasiswa PBM FIB Unilak Telusuri Jejak Peradaban Kerajaan Siak

20 Juni 2026 - 18:14 WIB

Mengenali Negara Kamboja dalam ASEAN

20 Juni 2026 - 11:51 WIB

Pemkab Siak Gandeng Ngo Perkuat Kapasitas Hukum Penghulu Kampung Hadapi Konflik Agraria Dan Lingkungan Hidup

20 Juni 2026 - 08:57 WIB

Trending di Pekanbaru