Menu

Mode Gelap
BRK Syariah Hadir Meriahkan Festival Ketan Talam Durian Terpanjang di Dunia, Dekatkan Layanan Perbankan kepada Masyarakat Festival Seni Budaya Melayu Riau Hidupkan Tradisi di Negeri Istana Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Bengkalis Gelar Nonton Bareng Bersama Masyarakat Panggung Kecil Desa Alai, Menyalakan Api Teater yang Tak Pernah Padam Polres Bengkalis Gelar Fun Run Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Pererat Sinergitas Bersama Masyarakat Kenduri Terkunci

Riau

Panggung Kecil Desa Alai, Menyalakan Api Teater yang Tak Pernah Padam

badge-check


					Foto bersama pendukung pergelaran seni pertunjukan teater di Alai. Kabupaten Kepulauan Meranti Perbesar

Foto bersama pendukung pergelaran seni pertunjukan teater di Alai. Kabupaten Kepulauan Meranti

Malam di Desa Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kembali ramai dikunjungi masyarakat pada Jumat (19/06/2026). Halaman Kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dipenuhi warga yang datang menyaksikan sebuah peristiwa budaya. Di tempat itu, panggung sederhana menjadi saksi pertemuan antara pengalaman panjang Teater Matan dengan semangat muda para pegiat seni dari desa pesisir.

Teater Matan menghadirkan pementasan “Baginda Sultan”, sebuah karya teater dengan naskah dan sutradara Hang Kafrawi, sebagai bagian dari program Indonesiana Tahun Anggaran 2025 kategori Pendayagunaan Ruang Publik yang dilaksanakan pada tahun 2026. Pementasan di Desa Alai menjadi langkah pertama dari rangkaian kegiatan Teater Matan dalam menghadirkan seni pertunjukan ke ruang-ruang masyarakat. Pilihan Alai bukan sekadar lokasi pertunjukan, tetapi sebuah penghargaan terhadap semangat kesenian yang selama ini tumbuh dari desa.

Jauh sebelum panggung itu berdiri, Teater Matan telah melihat geliat seni yang dilakukan masyarakat Alai melalui Sanggar Kepurun. Sanggar yang digerakkan oleh Saipul R Jamil itu menjadi salah satu ruang kreatif anak muda yang terus bergerak meski dengan keterbatasan. Berbagai kegiatan kesenian mereka lakukan dengan semangat mandiri, membuktikan bahwa kecintaan terhadap seni tidak selalu menunggu fasilitas yang lengkap.

Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan anak-anak muda Sanggar Kepurun mungkin terlihat sebagai pilihan yang tidak biasa. Mereka berlatih teater, menyiapkan pertunjukan, dan menghidupkan panggung dengan segala keterbatasan yang ada, tapi bagi mereka, seni adalah ruang belajar, ruang bertemu, dan ruang untuk menunjukkan bahwa anak desa juga memiliki mimpi besar.

Semangat itu terlihat sejak kedatangan Teater Matan di Kepulauan Meranti. Anak-anak muda Sanggar Kepurun menyambut rombongan dengan penuh antusias, mulai dari menjemput di Pelabuhan Selatpanjang hingga membantu persiapan pertunjukan. Mereka ikut mendekorasi lokasi, menyediakan tenda, mengatur tempat duduk, dan memastikan kegiatan berjalan dengan baik.

Tidak ada wajah lelah dalam persiapan itu, yang terlihat adalah kegembiraan karena sebuah panggung besar hadir di kampung mereka. Bagi anak-anak muda Alai, kedatangan Teater Matan bukan hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi membuka ruang untuk belajar lebih jauh tentang dunia teater.

Pendiri Sanggar Kepurun, Saipul R Jamil, menyampaikan rasa haru atas kehadiran Teater Matan di Desa Alai. Dengan mata berkaca-kaca, Saipul mengungkapkan bahwa pementasan tersebut menjadi energi baru bagi mereka untuk terus berkarya.

“Terima kasih Teater Matan yang sudah datang ke Desa Alai ini. Ini menjadi semangat kami untuk tetap berkarya. Pementasan teater bangsawan dari Teater Matan ini menjadi edukasi kami untuk mendalami ilmu teater,” ujar Saipul.

Menurut Saipul, kehadiran Teater Matan juga menjawab pandangan sebagian orang yang selama ini melihat aktivitas Sanggar Kepurun sebagai sesuatu yang “gila”. Baginya, kegilaan dalam berkesenian adalah keberanian untuk tetap mencipta ketika banyak orang memilih berhenti. Seni tumbuh karena ada orang-orang yang percaya bahwa karya tetap memiliki nilai, meskipun lahir dari ruang yang sederhana.

Pementasan malam itu tidak hanya menjadi milik Teater Matan. Anak-anak Desa Alai juga mendapatkan ruang untuk memperlihatkan kemampuan mereka melalui pertunjukan sendiri. Siswa SD Alai menampilkan teater berjudul “Dedak Durhaka”, sementara anak-anak muda Sanggar Kepurun yang sebagian besar masih duduk di bangku SMA menampilkan karya “Kitalah Laksemana Itu” dengan sutradara Jamaluddin.

Panggung itu akhirnya menjadi ruang pertemuan berbagai generasi. Anak-anak belajar berani tampil, anak muda belajar mengelola pertunjukan, dan masyarakat menyaksikan bahwa seni masih memiliki tempat dalam kehidupan mereka. Teater tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi menjadi cara untuk membangun kepercayaan diri dan menjaga identitas budaya. Setelah pementasan digelar diskusi sampai jam 1.30 malam membincangkan proses berkesenian.

Program Teater Matan melalui Indonesiana memperlihatkan bahwa ruang publik bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga tempat tumbuhnya kreativitas. Desa-desa memiliki cerita, memiliki seniman, dan memiliki energi budaya yang perlu diberi ruang untuk berkembang. Alai menjadi salah satu contoh bahwa api kesenian tetap menyala ketika ada anak muda yang bersedia menjaganya.

Malam itu, “Baginda Sultan” telah selesai dipentaskan. Lampu panggung boleh dipadamkan, tetapi semangat yang lahir dari Desa Alai akan terus berjalan bersama langkah anak-anak muda yang memilih berkarya. Seni tidak selalu lahir dari tempat yang besar, kadang ia tumbuh dari desa kecil yang memiliki keyakinan besar terhadap masa depan.

Hang Kafrawi Ketua Teater Matan Riau

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kenduri Terkunci

21 Juni 2026 - 09:08 WIB

Kejurkab Men Fitness PBFI Meranti 2026 Digelar, Pemkab Targetkan Lahir Atlet Berprestasi

21 Juni 2026 - 06:37 WIB

Mahasiswa PBM FIB Unilak Telusuri Jejak Peradaban Kerajaan Siak

20 Juni 2026 - 18:14 WIB

Dua Warga Meranti Ditangkap, Kapolsek Tebingtebing Jelaskan Kronologisnya 

20 Juni 2026 - 15:41 WIB

Orang Pesisir

20 Juni 2026 - 08:14 WIB

Trending di Minda