RiauKepri.com, PEKANBARU— Sore itu, arus Sungai Siak mengalir seperti biasa di bawah Jembatan Leighton I, Pekanbaru. Namun, Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, seorang remaja perempuan berinisial DN (18) sedang berjuang antara hidup dan mati di bawah bentangan jembatan yang menjadi saksi langkah nekatnya.
DN, seorang pelajar, memilih melompat ke Sungai Siak. Tubuhnya sempat hanyut dan kelelahan, menggapai-gapai di permukaan air. Beberapa menit yang menentukan itu berubah menjadi kesempatan kedua setelah warga pesisir segera melapor kepada personel Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Riau.
Markas Ditpolairud yang berada tak jauh dari lokasi membuat respons datang begitu cepat. Sebuah kapal bergerak menuju titik tempat DN terlihat berusaha bertahan di tengah arus sungai.
Wakil Direktur Polairud Polda Riau, AKBP Angga Febrian Herlambang, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, personel piket langsung bergerak setelah menerima informasi dari masyarakat.
“Kejadiannya kemarin sore sekitar pukul 15.00 WIB. Ada seorang pelajar perempuan yang melakukan percobaan bunuh diri, namun dapat diselamatkan anggota kita,” ujar Angga kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).
Saat ditemukan, kondisi DN sudah sangat lemah. Personel Polairud memberikan life jacket dan tali penyelamat, lalu menariknya perlahan hingga berhasil naik ke atas kapal.
Setelah dievakuasi, DN dibawa ke Mako Ditpolairud Polda Riau untuk mendapatkan pertolongan pertama. Di sanalah perlahan terungkap alasan di balik keputusan yang hampir merenggut nyawanya.
Dari pemeriksaan awal, DN mengaku mengalami tekanan mental akibat perselisihan dengan orangtuanya. Beban yang dipendam membuatnya merasa tak lagi memiliki jalan keluar.
“Setelah dimintai keterangan, korban menyampaikan bahwa ia mengalami tekanan mental akibat adanya perselisihan dengan orang tua,” kata Angga.
Beruntung, kisah DN tidak berakhir di dasar Sungai Siak. Setelah kondisinya stabil, ia dipulangkan kepada keluarganya dalam keadaan selamat dan sehat.
Bagi personel Polairud, penyelamatan itu bukan sekadar keberhasilan operasi di perairan. Di balik satu nyawa yang berhasil diselamatkan, ada pengingat bahwa banyak remaja mungkin sedang memikul beban yang tidak terlihat.
Angga mengapresiasi kepedulian warga yang segera melapor sehingga penyelamatan dapat dilakukan tepat waktu. Ia juga mengimbau keluarga agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak-anak mereka.
“Kami mengimbau kepada keluarga untuk lebih memperhatikan kondisi psikologis anak, terutama remaja. Jika ada masalah, sebaiknya diselesaikan dengan komunikasi yang baik,” ujarnya.
Sore di bawah Jembatan Siak itu meninggalkan pelajaran sederhana, terkadang, satu laporan cepat, satu uluran tangan, dan satu percakapan yang mau mendengar dapat menjadi pembeda antara kehilangan dan harapan. (RK1)







