ADA perjalanan hidup yang dimulai bukan dari ruang yang luas, tetapi dari sebuah pulau kecil. Di Pulau Kelombok, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri, seorang anak bernama Safaruddin tumbuh dalam keluarga sederhana. Tidak ada kemewahan yang menunggunya di depan. Tidak ada nama besar yang membuka pintu. Tidak ada kekuasaan yang diwariskan kepadanya. Hanya ada kehidupan yang harus dijalani dengan kerja keras, dan cita-cita yang perlahan dibangun dari keterbatasan.
Safaruddin lahir pada 1984 dan saat ini menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Lingga, salah satu posisi strategis dalam pemerintahan daerah. Sebelumnya ia menduduki posisi Sekretaris DPRD Lingga dan pernah juga menjabat Camat Katang Bidare. Jabatan-jabatan itu menempatkannya pada ruang yang jauh dari kehidupan masa kecilnya. Tetapi untuk memahami siapa Safarudin sesungguhnya, kita tidak cukup hanya melihat kursi yang didudukinya hari ini.
Kita perlu kembali ke masa ketika ia belum memiliki jabatan apa-apa. Kembali ke Pulau Kelombok. Kembali ke masa ketika sekolah bukan sesuatu yang otomatis dapat dijalani begitu saja. Saat Sekolah Menengah Atas (SMA), ia harus meninggalkan kampung halamannya pindah ke Dabo Singkep. Di sana, ia harus bekerja membantu tukang bakso agar dapat membiayai sekolahnya sendiri. Ketika keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak serta-merta ditopang kemampuan ekonomi keluarga.
Bagi sebagian orang, sekolah adalah jalan yang tersedia. Bagi Safarudin, sekolah adalah jalan yang harus diperjuangkan. Setelah menamatkan SMA, ia meninggalkan kampung halaman menuju Pekanbaru. Ia menjadi mahasiswa di UIN Suska Riau. Namun, menjadi mahasiswa bagi Safarudin bukan berarti berhenti bekerja. Di tengah kesibukan kuliah dan kehidupan sebagai anak rantau, ia bekerja sebagai tukang parkir.
Ada sesuatu yang penting dari pengalaman itu.Menjadi tukang parkir mungkin tampak sebagai pekerjaan sederhana. Tetapi bagi seorang anak muda yang sedang berusaha mempertahankan kuliahnya, pekerjaan itu adalah bagian dari perjuangan. Di sela-sela kendaraan yang datang dan pergi, ia belajar tentang kehidupan. Ia belajar bahwa harga sebuah pendidikan terkadang harus dibayar dengan keringat sendiri.
Pekanbaru kemudian menjadi ruang yang lebih luas bagi Safarudin untuk tumbuh. Ia tidak hanya menjadi mahasiswa, tetapi juga aktif dalam gerakan mahasiswa. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa Kepulauan Riau (Kepri) di Pekanbaru dan aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dunia aktivisme mempertemukannya dengan gagasan, perdebatan, organisasi, dan berbagai persoalan sosial. Dari sana, cara pandangnya terhadap masyarakat dan pemerintahan mulai terbentuk.
Menariknya, dunia aktivisme tidak berakhir ketika masa kuliahnya selesai. Setelah kembali ke Lingga, semangat itu tetap ia bawa dalam kehidupan pengabdiannya. Ia mendirikan Forum Pemuda Hinterland Lingga (Forphil). Ia juga pernah menjadi Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Lingga. Dengan demikian, perjalanan Safarudin tidak serta-merta berpindah dari bangku kuliah ke birokrasi. Ada jejak panjang dunia kepemudaan dan aktivisme yang ikut membentuk dirinya, sebuah pengalaman yang kelak menjadi bagian dari cara ia memandang masyarakat, organisasi, dan pengabdian.
Ia belajar berbicara, tetapi juga belajar mendengar. Ia belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar memahami perbedaan. Ia belajar bahwa perubahan tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga pengetahuan, organisasi, dan kemampuan bekerja bersama orang lain.
Semua pengalaman itu kelak menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai aparatur sipil negara. Ketika kemudian ia memilih pulang dan mengabdi sebagai ASN di Kabupaten Lingga, kepulangannya bukan sekadar perpindahan tempat. Ada semacam lingkaran yang kembali bertemu. Anak pulau yang dahulu meninggalkan kampung halaman untuk mencari pendidikan, pada akhirnya kembali dengan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya di perantauan. Namun, perjalanan itu tidak serta-merta menjadi mudah setelah ia memperoleh status sebagai ASN.
Dari segi pendidikan, Safaruddin tergolong ASN yang suka menuntut ilmu. Strata I diselesaikan di UIN Suska, pendidikan Strata 2 ditamatkan di Universitas Riau dengan gelar master of science (M.Si). Ia juga menyesaikan magister manajemen (MM) di Universitas Ibnu Sina, Batam.
Pompong bukan sekadar perahu.
Ada satu kisah yang barangkali sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. SK pengangkatan pertamanya sebagai ASN digadaikan.Uang yang diperoleh dari sana digunakan untuk membeli pompong (sampan) untuk orang tuanya. Bagi orang lain, SK adalah selembar dokumen administratif. Bagi seorang pegawai negeri, SK pertama bahkan sering menjadi simbol awal dari perjalanan karier. Tetapi bagi Safarudin, pada satu titik dalam hidupnya, SK itu justru berubah menjadi alat untuk membantu keluarganya.
Bagi keluarga yang menggantungkan kehidupan pada laut dan wilayah kepulauan, pompong adalah alat untuk bergerak, bekerja, mencari penghidupan, dan mempertahankan kehidupan. Keputusan tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam tentang dirinya bahwa ketika memiliki sedikit kesempatan, ia memilih menggunakannya untuk keluarganya.
Dari sebuah pompong di kampung halaman, perjalanan itu kemudian bergerak menuju ruang-ruang birokrasi pemerintahan. Kariernya berkembang. Tanggung jawabnya bertambah. Hingga pada usia yang relatif muda, ia dipercaya menduduki berbagai jabatan mulai dari staf humas, kasubag sampai menduduki jabatan pimpinan tinggi pratama atau eselon II.
Ada satu dimensi lain yang membuat perjalanan Safarudin semakin menarik untuk dibaca. Maya Sari, istrinya, juga menempuh jalan hidup yang tidak lahir dari privilese keluarga. Di Kabupaten Lingga, Maya dikenal luas sebagai sosok yang sebelumnya pernah berstatus sebagai pegawai honorer di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga. Ia bukan berasal dari keluarga berdarah biru yang sejak awal memiliki akses pada kekuasaan.
Namun, ia memilih meninggalkan zona yang relatif aman, mundur dari statusnya sebagai tenaga honorer, lalu memasuki arena politik. Pilihan itu membawanya pada perjalanan yang tidak sederhana. Ia bertarung dalam pemilihan legislatif dan berhasil meraih suara terbanyak di partainya, Partai Nasdem hingga kemudian dipercaya menduduki posisi sebagai Ketua DPRD Kabupaten Lingga.
Jika perjalanan Safarudin adalah kisah seorang anak pulau yang meniti karier melalui pendidikan dan birokrasi, perjalanan Maya Sari menghadirkan kisah lain tentang keberanian memasuki politik dan merebut ruang pengabdian melalui perjuangan elektoral. Dua jalan yang berbeda akhirnya bertemu dalam satu keluarga: birokrasi dan politik, pengabdian dan perjuangan, dua-duanya berangkat bukan dari privilese, melainkan dari kesempatan yang harus diperjuangkan.
Di tengah zaman ketika keberhasilan sering diukur dari jabatan, gelar, dan kekuasaan, kisah Safarudin mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih mendasar bahwa di balik sebuah jabatan selalu ada perjalanan panjang yang tidak terlihat.
Ada tangan yang pernah memegang mangkuk bakso. Ada kaki yang pernah berdiri menjaga kendaraan di tempat parkir. Ada seorang mahasiswa yang harus menghitung bagaimana membayar biaya kuliahnya. Ada orang tua di sebuah pulau yang membutuhkan pompong.
Dan ada seorang anak muda yang pada akhirnya memilih kembali ke tanah kelahirannya.Mungkin, pada akhirnya, perjalanan Safarudin bukan terutama tentang seberapa tinggi ia mendaki, melainkan tentang dari mana ia berangkat dan kepada siapa ia memilih untuk kembali. Dari Pulau Kelombok, ia berangkat. Melalui kerja, pendidikan, aktivisme, dan birokrasi, ia meniti jalan pengabdian. **






