RiauKepri.com, SIAK- Tiga guru, tiga keluarga, tinggal dalam satu rumah kayu. Selama bertahun-tahun, begitulah mereka menjalani pengabdian di pelosok Siak. Pedihnya, pahlawan tanpa jasa itu mengabdi di sebuah daerah yang dikenal kaya minyak dan sawit.
Ketika melihat langsung kondisi itu, Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca. Air mata mengalir. Ia menundukkan kepala, lalu beristighfar: Astaghfirullah! Suara itu lirih. Seperti seorang ibu yang sedang melihat anaknya sendiri dalam kesusahan.
Hari itu, Afni baru saja melihat kondisi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Kabupaten Siak. Ia melihat sekolah yang masih jauh dari sempurna. Melihat anak-anak yang harus menempuh perjalanan panjang untuk bersekolah, dan melihat guru yang mengabdi bertahun-tahun, tetapi harus tinggal bersama tiga keluarga dalam satu rumah kayu.
Tiga guru, tiga keluarga, dan satu rumah. Dihadapkan pemandangan penderitaan itu, hati Afni seperti tak sanggup lagi menahan semuanya. “Kita sama-sama tinggal di daerah yang kaya,” katanya dengan suara bergetar.
Siak memiliki minyak dan sawit. Kekayaan alam yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari denyut ekonomi daerah. Tetapi di pelosoknya, masih ada anak-anak yang belum memiliki bus sekolah. Untuk pergi dan pulang sekolah, mereka harus bertumpuk di kendaraan. Sebagian bahkan harus berdiri, menempuh perjalanan hampir dua jam.
Di Dusun Mungkal, listrik juga belum sepenuhnya hadir. Dan para guru yang menjadi garda terdepan pendidikan itu masih harus berbagi satu rumah.
Afni melihat semua itu dengan mata kepala sendiri. Bukan membaca laporan, bukan menerima foto, bukan pula mendengar cerita dari meja rapat. Dia datang, melihat, dan menangis. “Ini salah kita. Kita belum bisa belikan buku sekolah,” ucap Afni lirih.
Kalimat itu berhenti sejenak. Air mata kembali mengalir. Afni kembali beristighfar.
“Astaghfirullah!” Seolah ada beban yang sedang dia pikul sendiri.
Afni baru dilantik sebagai Bupati Siak pada 4 Juni 2025. Belum genap dua tahun memimpin, tetapi persoalan yang diwariskan kepadanya datang bertubi-tubi. Utang daerah, tekanan fiskal, efisiensi anggaran hingga pemangkasan transfer dari pusat membuat banyak rencana pembangunan harus dihitung ulang.
Namun bagi Afni, semua itu tidak boleh menjadi alasan ketika rakyat masih hidup dalam keterbatasan. “Saya baru jadi Bupati, baru satu tahun. Masih banyak rakyat kami yang masih seperti ini,” katanya.
Di tengah keterbatasan anggaran, pembangunan rumah guru di Dusun Mungkal akhirnya dibantu melalui dana CSR perusahaan.
Bagi orang lain, mungkin hanya sebuah rumah. Tetapi bagi guru yang telah mengabdi sekitar 10 tahun, rumah itu terasa seperti hadiah yang sangat besar. “Alhamdulillah, setelah 10 tahun mengabdi, baru sekarang mungkin saya punya rumah,” ujar seorang guru sambil terisak-isak menangis di hadapan Afni.
Afni mendengarnya, dan kembali terdiam. Sebab ia tahu, satu rumah belum selesai semuanya. Masih ada anak-anak yang menunggu bus sekolah, masih ada kampung yang menunggu listrik. Masih ada sekolah yang membutuhkan buku, masih ada anak-anak di wilayah 3T yang belum menerima Makan Bergizi Gratis (MBG).
Persoalan MBG bahkan telah berulang kali disampaikan Pemerintah Kabupaten Siak kepada Badan Gizi Nasional. “Sudah lama kami sampaikan, bermohon-mohon di setiap kesempatan. Tapi entah kapan dapat jawaban,” ujar Afni.
Di titik itulah hati Afni terasa semakin terharu. Sebab ia bukan hanya sedang melihat kemiskinan fasilitas, dia sedang melihat jarak. Jarak antara kekayaan alam yang melimpah dan kesejahteraan masyarakat yang belum sepenuhnya merata.
Bupati perempuan pertama di Siak itu juga sedang melihat anak-anak yang tumbuh di daerah penghasil minyak dan sawit, tetapi masih harus berjuang hanya untuk sampai ke sekolah.
“Bagaimana mungkin sebegitu teganya ada DBH Migas kami dipotong sampai 70 persen tahun depan?,” tanya Afni.
Bagi Afni, DBH bukan sekadar angka dalam tabel APBD. Di balik angka itu ada rumah guru, ada buku sekolah, ada bus anak-anak, ada listrik, dan jalan. Ada kehidupan masyarakat di pelosok. Karena itu, ketika Afni menyuarakan persoalan DBH Migas, yang sedang dibelanya bukan sekadar pendapatan pemerintah daerah. Tetapi nasib masyarakat yang ia temui sendiri. Masyarakat yang tadi membuat seorang Bupati menundukkan kepala, mengusap air mata dan berulang kali beristighfar.
Tangisan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi bagi Afni, wajah anak-anak dan guru yang dilihatnya hari itu akan jauh lebih lama tinggal di dalam ingatan.
Afni sadar betul, masih terlalu banyak yang belum mampu dilakukan. Masih terlalu banyak rakyat yang menunggu. Dan sebagai pemimpin, dia merasa semua itu adalah hutang yang harus diperjuangkan. “Sangat banyak rasanya salah kami pada rakyat,” ucapnya.
Lalu mantan wartawan itu memohon kepada Allah. “Semoga Allah SWT memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan.”
Hari itu, Afni tidak sedang menangisi dirinya sendiri. Dia menangisi anak-anak yang belum mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Ia menangisi guru-guru yang terlalu lama mengabdi dalam keterbatasan, dan tiga keluarga tinggal dalam satu rumah kayu.
Afni juga menangisi sebuah ironi, daerah yang kaya, tetapi masih memiliki rakyat yang harus berjuang untuk sekadar mendapatkan fasilitas dasar. Dan, itulah yang paling menyayat dari tangisan seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin tidak lagi mampu menyembunyikan rasa bersalahnya di hadapan rakyat yang sedang menderita.
“Maafkan kami…” Kalimat itu akhirnya bukan sekadar ucapan dari Afni, tapi menjadi sebuah doa. (RK1)






