Menu

Mode Gelap
Keluarga Almarhum Turnip Laporkan Dugaan Perusakan Pagar di Km 15 ke Polisi ‎Bandara Letung Buka Pendaftaran Padat Karya 2026, Warga Ulu Maras Dapat Kesempatan Kerja DPRD Batam Gelar Rapat Paripurna, Sepakat Tunda Pengesahan Ranperda LAM hingga Mei Amuk Panipahan, Alamr Siapa yang Terlambat 30 Tahun Otonomi Daerah Satgas Anti-Narkoba Riau Dibentuk, Harapan Baru Lindungi Generasi Muda

Riau

Pacur Jalur 2025, Mengayuh Rp 4 Miliar di Tepian Narosa

badge-check


					Pacu Jalur di Kuansing (net). Perbesar

Pacu Jalur di Kuansing (net).

RiauKepri.com, KUANSING- Saat ini, tepian Sungai Kuantan suara teriakan memang belum terdengar. Tapi di balik diamnya sungai arus persiapan mulai terdengar lantang.  Panitia Pacu Jalur Nasional 2025 di Teluk Kuantan tengah berpacu lebih awal di atas meja-meja pertemuan dan proposal sponsor. Tahun ini, mereka harus mengayuh dana sebesar Rp4 miliar agar perahu-perahu tradisional itu bisa benar-benar melaju.

Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan perahu panjang. Ia adalah urat nadi budaya masyarakat Kuantan Singingi, Riau. Tradisi yang berakar dari masa kolonial, ketika jalur digunakan sebagai alat transportasi dan kekuatan simbolik antar kampung. Kini, pacu jalur menjelma menjadi iven pariwisata nasional, masuk dalam kalender resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Namun gemerlap itu datang dengan harga yang tak murah. Ketua Umum Panitia Pacu Jalur Nasional 2025, Werry Ramadhan Putra, menghitung total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp4 miliar. “Dari APBD Kuansing hanya sekitar Rp1,5 miliar. Sisanya, kami harus mencari dari sponsor dan perusahaan,” ujar Werry, Ahad, (22/6/2025).

Dengan waktu pelaksanaan yang tinggal dua bulan lagi, 20 hingga 24 Agustus, panitia mulai membuka jalur lain yakni, diplomasi dengan dunia usaha. Dalam waktu dekat, mereka akan mengundang perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kuansing dan Riau untuk ikut mengayuh kesuksesan acara.

“Kami harapkan bukan cuma perusahaan di Kuansing, tapi juga di seluruh Riau. Karena ini sudah jadi agenda nasional,” kata Werry.

Tahun lalu, Pemprov Riau memang menyuntikkan dana sekitar Rp500 juta, bukan untuk operasional acara, tapi sebagai hadiah dan bantuan biaya tunggu jalur. Tahun ini, Werry dan tim belum mendapat kepastian berapa sokongan dari provinsi. “Tentu kami berharap dukungan maksimal. Ini hajat besar Riau juga,” ujarnya.

Pacu jalur memang menyedot perhatian ribuan orang. Tepian Narosa, tempat lomba digelar, setiap tahun penuh sesak oleh penonton, pedagang, dan wisatawan. Hotel-hotel terisi penuh. Jalan-jalan ramai. Ekonomi bergerak. Tapi di belakang layar, panitia terus mematri anggaran dari berbagai sisi.

Sejumlah perusahaan swasta pernah terlibat, seperti bank, pabrik kelapa sawit, dan pertambangan. Namun, mengandalkan kemurahan hati korporasi tak selalu mudah. Terlebih di tengah situasi ekonomi yang tak menentu, bujet CSR pun makin ketat. Defisit anggaran hingga mengetuk pintu rumah tangga.

Meski demikian, semangat tetap menyala. Sebab di Kuansing, pacu jalur bukan hanya perlombaan. Ia adalah kehormatan kampung, kebanggaan masa lalu, dan harapan masa depan. Seperti jalur itu sendiri, panjang, ramping, dan bergerak bersama irama, panitia pun harus kompak, sabar, dan terus mengayuh harapan.

Sejarah Singkat Pacu Jalur

Dari berbagai sumber yang berhasil dikutip menyebutkan bahwa Pacu Jalur di Kuansing, Riau, memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Berawal pada abad ke-17, jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yang terletak di sepanjang Sungai Kuantan.

Pada awalnya, jalur digunakan sebagai sarana transportasi menyusuri sungai Batang Kuantan dari Hulu Kuantan hingga ke Cerenti di bagian hilir sungai Kuantan. Namun, seiring perkembangannya, perahu transportasi berbentuk memanjang ini sengaja dihias dengan unsur budaya setempat, seperti ukiran kepala ular dan buaya.

Pada masa penjajahan Belanda, pacu jalur digunakan sebagai pemeriah untuk memperingati hari lahir Wilhelmina (Ratu Belanda) yang jatuh pada tanggal 31 Agustus setiap tahunnya. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, festival ini semakin berkembang dan digunakan untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Kini, Pacu Jalur merupakan pesta rakyat yang sangat meriah dan merupakan warisan budaya yang mendunia. Festival ini diadakan setiap tahun di sungai Batang Kuantan dan menarik perhatian masyarakat dari seluruh Indonesia dan mancanegara. (RK1)

sumber: riaupos.co

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kopiah Sultan

25 April 2026 - 10:28 WIB

Akrobat Narasi di Zaman Kini

25 April 2026 - 07:59 WIB

DPP PKB Uji Langsung Kandidat Ketua DPC Pelalawan, Tiga Nama Lolos Tahap Penentu

23 April 2026 - 16:31 WIB

Dipimpin Tommy Kurniawan, Muscab PKB Pelalawan Tegaskan Arah Kepemimpinan ke Depan  

23 April 2026 - 16:19 WIB

Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas

23 April 2026 - 09:09 WIB

Trending di Pekanbaru