RiauKepri.com, PEKANBARU– Subuh belum sepenuhnya menyingsing ketika Dayat membuka pintu rumahnya di kawasan Marpoyan, Pekanbaru. Harapan akan udara segar yang biasa menyambut langkah awal menuju masjid alih-alih tercekik sempot, sesak napas. Yang datang bau menyengat, jerebu pekat yang menggantung seperti kabut muram di langit kota.
“Sudah hampir seminggu begini. Tiap Subuh, begitu buka pintu, langsung tercium bau asap,” ujar Dayat lirih, sembari menatap langit kelabu yang tak menjanjikan hujan.
Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru pagi ini bukan dari kabut embun, tapi dari bara yang tak kunjung padam di Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Kebakaran hutan dan lahan gambut di sana terus meluas sejak pertama kali terdeteksi Jumat malam, 27 Juni 2025.
Asapnya kini merambat jauh, melewati batas administratif, menembus rumah-rumah dan napas warga Kota Pekanbaru.
Perang Api dari Darat dan Udara
Di balik kabut yang mengaburkan pandangan, ada pertempuran sengit yang berlangsung diam-diam. Di garis depan, para petugas Manggala Agni, dibantu Polri, TNI, BPBD, serta relawan masyarakat peduli api, berjibaku di tengah panas dan bahaya.
“Kami memadamkan api yang membara di dalam gambut. Sulit sekali, kedalamannya bisa sampai dua meter,” ungkap Pirnahan Panggabean, anggota Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru.
Setiap hari, mereka mengandalkan pompa air untuk menembus bara di bawah permukaan lahan gambut. Namun itu tak cukup. Satu helikopter dikerahkan untuk mengguyur titik-titik api yang terlalu sulit dijangkau dari darat.
“Kami sangat terbantu helikopter. Tapi jumlah personel di lapangan belum sebanding dengan luas lahan yang terbakar. Sudah 30 hektare lebih, dan bisa bertambah,” ungkap Pirnahan.
Cuaca yang ekstrem, angin kencang, dan semak belukar yang kering menjadi tantangan tersendiri. Kebakaran seolah menjelma seperti hantu, diam-diam yang terus tumbuh, menabur ketakutan.
Asa pada Hujan
Di posko pemadaman, bau asap melekat di seragam para petugas. Wajah-wajah lelah mereka menggambarkan pertempuran yang belum selesai. Setiap langkah adalah taruhan, antara keberhasilan memadamkan api atau kehilangan lebih banyak lagi hutan.
“Kami harap pemerintah turun tangan lebih banyak. Tidak cukup hanya satu-dua tim. Butuh tambahan personel,” kata Pirnahan,
suaranya tenggelam di antara deru helikopter dan siulan angin yang membawa bau terbakar.
Kabut asap bukan hanya menyelimuti langit Pekanbaru, tetapi juga menyelimuti harapan warganya. Subuh-subuh mereka kini tak lagi syahdu. Yang tersisa hanyalah doa, agar hutan berhenti terbakar, dan langit kembali biru. (RK1)








