RiauKepri.com, PEKANBARU– Matahari masih condong ke Barat, suara deru truk dan kemacetan menghiasi Jalan Sudirman, tepatnya di depan Kantor Gubernur Riau. Ribuan orang dari Pelalawan yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) datang kembali menagih janji Gubernur Riau, terkait solusi atas aksi serupa sebelumnya, menolak relokasi dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Mereka datang dengan truk-truk terbuka, membawa poster, spanduk. Mereka memenuhi jalanan, memadati kawasan hingga ke depan Perpustakaan Soeman HS. Sementara di hadapan mereka berdiri pagar betis aparat berseragam lengkap, dengan tameng, helm, dan pentungan.
Pekikan massa saling bersahutan membakar semangat, menantang panas “berdengkang” matahari dan ketegangan. Dalam kondisi itu, situasi sempat memanas. Botol air mineral melayang dari kerumunan ke arah aparat. Sorak massa meninggi. Ketegangan memuncak. Namun sebelum segalanya berubah menjadi kerusuhan suara dari pengeras aparat menggelegar, meminta massa menahan diri.
“Koordinator aksi, tolong hentikan. Jangan sampai kami mengambil tindakan tegas,” ujar seorang petugas, menahan garis yang nyaris jebol.
Ketegangan surut. Emosi ditahan, tapi kekecewaan tetap menggelegak. Ini bukan kali pertama mereka datang menagih janji. Sebulan sebelumnya, tanggal 18 Juni, mereka telah berdiri di tempat yang sama. Saat itu Gubernur Riau, Kapolda, dan Bupati Pelalawan turun langsung. Mereka berjanji, meminta waktu satu bulan untuk mencari solusi atas konflik lahan di kawasan TNTN. Satu bulan telah lewat, namun menurut massa, tak ada langkah nyata yang terlihat.
Sebagian perwakilan akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam kantor Gubernur. Di Ruang Melati, mereka disambut oleh Bupati Pelalawan, Zukri Misran, dan Kepala Dinas Perkebunan Riau, Syahrial Abdi, mewakili Gubernur Riau Abdul Wahid yang tengah bertugas di Kabupaten Kampar.
Sementara di luar, ribuan lainnya tetap bertahan. Beberapa duduk di aspal, yang lain berdiri dengan tangan mengepal dan mata penuh harap menatap gedung megah di hadapan mereka. (RK5)








