“KALAU berkelahi jangan pulang ke rumah. Lawan, lawan, dan lawan walaupun berdarah-darah.”
PESAN singkat itu masih diingat sang anak Herwanto hingga kini. Sederhana memang tapi itulah pesan yang tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas.
Dan sebagai anak lelaki di masa kecil dan remaja Herwanto mengaku nakal. Maklum “anak kolong” – julukan anak tentara kala itu pasti ditakuti dan disegani lawan-lawannya.
“Kalau berkelahi pantang bagi anak kolong pulang sebelum menang. Kendati kemenangan itu harus diraih dengan berdarah-darah,” ujar Herwanto mengingat masa lalunya.
Bagi Herwanto spirit keberanian pantang mundur sebelum bertanding yang disampaikan Ayahnya itu selalu membekas hingga kini dalam dirinya. Dan, bekas itu tidak akan bisa hilang.
Dan, bagi Herwanto, Ayahnya adalah sosok panutan sekaligus suriteladan bagi dirinya. Ayah selalu mengajarkan keberanian, ilmu yang bermanfaat dalam menjalani kehidupan.
Dan, yang tatkalah penting adalah Ayah selalu menyampaikan pesan: “anak lelaki harus belajar silat atau beladiri agar bisa menjaga diri. Hidup itu harus berilmu.”
Pernyataan ”Hidup itu harus berilmu” kata Herwanto adalah ilmu pengetahuan merupakan kebutuhan dasar yang harus dimiliki setiap induvidu.
Artinya kata Herwanto ilmu bukan hanya sekadar kewajiban agama tetapi juga kunci untuk mencapai kebahagian dan masa depan yang lebih baik.
Ilmu berfungsi sebagai cahaya yang menerangi jalan kehidupan, membimbing seseorang untuk membedakan kebaikan dan keburukan, halal dan haram serta mendorong pengamalan sehari-hari.
Lalu siapakah Ayah yang dimaksud Herwanto?
Dia adalah ayah kandungnya bernama Mustafa Umar. Seorang tentara yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah dan pejuang bangsa dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia.
Mustafa kelahiran Cerenti, Kuantan Singingi, Riau pada 5 Februari 1929 memang tumbuh di tengah perubahan besar. Dia melewati tiga zaman sekaligus: Penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang, dan masa Kemerdekaan Indonesia.
Sebagai seorang pejuang Mustafa pernah bertugas di Aceh untuk menumpas gerakan saparatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Gerakan ini ingin melepaskan diri dari NKRI.
Di Aceh pula dua di antara tujuh anaknya dari pernikahannya dengan Rosmani Arfa asal Desa Sikakak, Cerenti lahir. Yakni Indrafni dan Suryawarni. Lima lainnya: Sutrisni, Herwanto, Herman, Dian Rostifa Pertiwi, dan Zulkarnain lahir di Riau.
Pulang kampong
TAK ingin berperang malawan bangsa sendiri, Mustafa melarikan diri dari Aceh. Bersama anak buahnya mereka berjalan kaki melewati hutan belantara di sepanjang perbukitan Bukit Barisan.
Tujuan pelarian adalah Padang, Sumatra Barat. Sesampai di Padang pelarian dilanjutkan ke Pangkalan (Kampar) hingga sampai ke Pekanbaru, Riau.
“Dari belasan yang ikut lari dari Aceh hanya berdua yang selamat, Ayah dan temannya. Lainnya banyak yang meninggal dalam perjalanan di tengah hutan belantara,” kenang Herwanto.
Herwanto mengulik kembali cerita yang disampaikan Ayahnya ketika masih hidup. Sebuah cerita penuh sejarah sebagai pengantar tidur dimasa kecil.
Di Pekanbaru Mustafa dengan satu temannya yang masih hidup tinggal di Kulim. Dari sini dia lalu ditugaskan untuk mengawasi kawasan minyak di Rumbai selama lima tahun. Selanjutnya di tugaskan di pesisir Riau sebagai Buterpa.
Setelah bertugas di Riau pesisir selama 27 tahun dengan segala suka dukanya di Rumbai, Mustafa dipindahkan ke Indragiri Hilir, tepatnya di Tempuling. Dialah yang mencetuskan ide pendirian Bandar Udara Tempuling, Tembilahan.
Selanjutnya Mustafa di pindahkan ke Kodim 0031/ Indragiri Hilir di Tembilahan. Di ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir inilah dia dipercaya sebagai anggota DPRD dari Fraksi ABRI.
Dari Indragiri Hilir selanjutnya Mustafa pindah ke Kodim 0302/ Indragiri Hulu di Rengat. Dan, dia kembali dipercaya kembali selama dua periode utusan Fraksi ABRI menjadi anggota DPRD Indragiri Hulu.
Waktu bertugas di DPRD Indragiri Hulu, Mustafa menginisiasi pendirian kelompok tani di Rengat dan Cerenti. Kelompok tani ini akhirnya membentuk koperasi yang menjadi cikal bakal pendirian berbagai koperasi di Indragiri Hulu.
Mustafa pensiun berdasarkan SKEP/4136/III/-9/1977 tanggal 23 September 1977 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Mustafa punya KTA D02/0017/D-80 dari PEPABRI.
Koperasi Amanah
Setelah pensiun memilih pulang kampung ke Cerenti. Dia mempelopori terbentuknya koperasi simpan pinjam bernama Koperasi Amanah.
Koperasi Amanah Cerenti dulu menjadi percontohan di Kabupaten Indragiri Hulu. Kini Cerenti sudah menjadi Kabupaten Kuantan Singingi.
Dan, selaku Ketua Koperasi Mustafa secara rutin seluruh pengurus dan anggota koperasi ini setiap Jumat berkumpul untuk peningkatkan usaha koperasi. Dan, koperasi ini dipercaya masyarakat sebagai ujung tombak ekonomi dan suko guru pembangunan di Cerenti.
Bagi masyarakat Cerenti, Mustafa yang meninggal dunia pada 1988, disebut Bapak Koperasi. Namun sekarang entah bagaimana nasib Koperasi Amanah tersebut apakah makin berkembang atau sebaliknya.
Sang anak Herwanto yang tinggal di Tanjungpinang pun tak tahu bagaimana nasib koperasi yang dahulu didirikan ayahnya.
“Mudah-mudahan saja makin berkembang,” ujar Herwanto tersenyum.
Penulis Sahabat Jang Itam:06-09-2025







