DALAM adat Melayu, Wak, ada satu kata yang nampak kecil tapi berat timbangannya yakni patut. Orang sekarang sering sibuk bertanya, “Ini benar atau tidak?” Padahal bagi orang tua-tua Melayu, Wak, ada satu pertanyaan lagi yang lebih halus tapi tajam: “Benar memang benar, tapi patut atau tidak?” Sebab benar belum tentu patut.
Contohnya begini. Seorang lelaki salat pakai kain dan singlet. Dari segi syariah, aurat sudah tertutup. Sah. Tidak ada yang salah. Tapi orang tua Melayu akan garu kepala sambil berbisik pelan, “Betul memang betul, tapi patut ke begitu menghadap Allah?”
Bayangkan saja, Wak. Nak jumpa Pak Camat saja kita pakai kemeja, rambut disisir, kadang minyak wangi pun disembur sampai tiga kali, takut Camat pingsan kalau dekat. Tapi bila menghadap Allah yang menciptakan Camat, bumi, dan seluruh isinya, kita datang pakai singlet yang warnanya sudah tak jelas. Putih tak, kuning pun tidak.
Belakangnya pula koyak dekat tulang pelikat. Kalau rukuk sedikit saja, angin masuk dari segala arah macam rumah panggung tak berdinding. Di situlah orang Melayu berkata, benar, tapi belum tentu patut.
Dalam tunjuk ajar Melayu, kata patut itu bukan sekadar soal pakaian, tapi soal timbang rasa. Almarhum budayawan Melayu Riau, Tenas Effendy pernah berkata, orang patut bukan diukur dari tinggi suaranya, tapi dari tinggi timbangannya.
Maknanya, orang yang patut itu bukan yang paling lantang bercakap. Biasanya yang paling lantang itu justru dia yang paling ringan timbangannya. Macam kaleng kosong jatuh dari rak, bunyi kuat, tapi isinya angin.
Orang patut itu tahu diri. Tahu malu. Tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Orang tua Melayu sudah lama mengajarkan:
Bila ke laut mencari yang patut,
Bila ke tengah mencari yang semenggah,
Bila ke tepi mencari yang berbudi.
Maknanya, wak?
Di manapun kita berada, jangan lupa membawa adab. Jangan sampai jadi orang yang tak semenggah, kadang sampai tak semenggah arah. Bahasa sekarang mungkin disebut “tak tahu tempat”.
Jenis orang begini biasanya muncul di mana-mana. Di rapat serius dia bercanda. Di kenduri orang dia sibuk selfie. Di majelis ilmu dia main ponsel sambil tertawa sendiri, macam dapat pesan dari jin Wi-Fi. Padahal inti dari patut itu sederhana saja, menjadi manusia yang tahu menempatkan diri.
Pemimpin misalnya. Dalam adat Melayu, pemimpin bukan sekadar pandai pidato. Pemimpin itu harus punya perangai yang patut dicontoh, perbuatan yang patut ditiru, dan perkataan yang patut diikuti. Kalau pemimpin hanya pandai bercakap tapi perbuatannya macam nghage bocor, janji terbabas semua, maka orang Melayu akan berkata halus tapi pedih, macam kena silet. “Bunyinya tinggi, timbangannya ringan.”
Dan satu lagi tanda Melayu sejati yang sering diingatkan orang tua: “Apa tanda Melayu jati, jujur di mulut, lurus di hati.” Bukan lurus di pidato saja, tapi bengkok di belakang layar.
Akhirnya, Wak, konsep patut ini sebenarnya sederhana tapi dalam. Ia mengajarkan bahwa hidup ini bukan sekadar soal benar atau salah. Tapi juga soal adab, rasa malu, dan tahu menempatkan diri. Sebab bagi orang Melayu, manusia yang benar tapi tak patut itu kadang lebih memalukan daripada orang yang salah tapi masih tahu malu.
Jadi kalau suatu hari kita hendak salat, Wak, tak salah pakai singlet. Sah. Tapi kalau singletnya sudah kuning, koyak pula di belakang? Barangkali bukan dosa. Cuma, tak patut saja.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








