BERE rasenye, Wak. Bukankah dalam adat Melayu, kalau kompang sudah ditabuh dan beras kunyit sudah ditabur, itu tandanye yang datang bukan orang sembarangan. Yang disambut itu orang yang kita muliakan, yang tingkah lakunye patut ditiru, yang jejak langkahnya membawa berkah ke kampung halaman.
Tapi entah kenapa beberape hari lalu, kadang yang datang bukan membawa berkah, malah membawa cerita yang bikin orang kampung mengelus dada. Kenapa aib disambut pakai kompang, Wak?
Padahal, kalau nak tahu kompang itu bukan sekadar bunyi lepuk-lepak untuk memeriahkan suasana. Kompang warisan panjang dari pertemuan budaya Arab dan Melayu sejak zaman Kesultanan Melaka. Dari masjid ke istana, dari pesta nikah ke acara adat, kompang menjadi tanda suka cita dan penghormatan.
Orang Melayu dulu kalau menabuh kompang, bukan asal bunyi, Wak. Ada niat, ada adab, ada makna.
Sementara beras kunyit yang ditabur itu pula bukan sekadar hiasan warna kuning. Ia simbol doa. Lambang keselamatan, kemakmuran, dan penolak bala. Orang tua-tua dulu percaya, beras kunyit itu doa yang jatuh ke bumi supaya yang datang membawa kebaikan bukan pembawa bala negeri..!?
Nah, di sinilah kadang kita jadi bingung, Wak..Kalau yang datang membawa kebaikan, patutlah kompang ditabuh kuat-kuat. Beras kunyit ditabur sampai kuning halaman rumah. Itu tanda hormat.
Tapi kalau yang datang membawa cerita korupsi, membawa aib jabatan, membawa beban malu untuk negeri. Patutkah kompang berbunyi?
Lucunye lagi, Wak. Yang disambut itu pula datang menutup malu. Wajahnya disembunyikan pakai masker hitam, kepala ditutup topi hitam pula. Kalau dilihat sepintas, macam orang hendak pergi mengail malam-malam, bukan orang yang sedang disambut dengan adat penuh kehormatan. Untung pakai rompi oranye. Heee…
Orang kampung pun jadi tertawa dalam hati. Kompang berbunyi kuat, beras kunyit ditabur, tapi yang disambut malah menutup muka rapat-rapat. Jadi orang bertanya dalam hati, ini kompang untuk menyambut tamu, atau untuk menutup rasa malu?
Ini bukan soal benci orangnya, Wak. Tapi soal menjaga marwah adat. Dalam falsafah Melayu, kompang itu melambangkan kebersamaan. Dipukul ramai-ramai supaya bunyinya seirama. Itu tanda masyarakat hidup dalam harmoni.
Kalau yang disambut orang yang tingkah lakunya merusak negeri, rasanya kompang itu seperti ikut menanggung malu.
Ibarat orang kampung cakap, menabuh kompang untuk orang yang salah itu seperti memukul gendang mengiringi aib sendiri.
Lucunye dunia sekarang memang begitu, Wak. Yang berjasa kadang lewat saja di kampung orang tak menoleh. Yang bekerja diam-diam membangun negeri, tak ada kompang, tak ada beras kunyit.
Tapi begitu ada orang besar datang dengan masker hitam dan topi hitam menutup muka, pakai rompi oranye, kompang pula yang berbunyi paling nyaring. Adoi…!
Kadang orang kampung jadi heran. Ini kompang untuk memuliakan orang, atau sekadar memuliakan jabatan?
Di sinilah adat kadang berubah jadi konsumsi politik. Bunyi kompang bukan lagi tanda hormat, tapi tanda protokol.
Padahal orang tua-tua dulu sudah lama mengingatkan. Kalau adat dipakai tanpa akal, ia tinggal bunyi tanpa makna. Sebab itu orang tua Melayu pernah berpesan dengan bahasa yang sederhana tapi dalam maknanya.
Jangan sampai: “Bodoh tak bisa diajo, pintar tak bisa diikut.”
Maka kompang pun terus berbunyi, Wak.
Entah untuk memuliakan
atau sekadar menutup rasa malu.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








