Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Sabtu 23 Mei 2026: Tanjungpinang dan Batam Berpotensi Diguyur Hujan Petir Gerobak Bantuan CSR BRK Syariah yang Mengubah Hari-hari Karmila di Desa Mengkait Anambas Dekatkan Diri dengan Warga Pesisir, Polda Riau Hadirkan Program JALUR di Teluk Leok Cap “Cancel Departure” Bongkar Dugaan Haji Nonprosedural, Enam WNI Ditunda Berangkat di Bandara Pekanbaru Jelang Idul Adha 1447 H, PT Timah TBK Distribusikan 268 Ekor Sapi Untuk Empat Provinsi Sinergi Polres Bengkalis dan Desa Kelebuk Wujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Internasional

Krisis BBM Filipina Lumpuhkan Transportasi, Warga Beralih Jalan Kaki

badge-check


					Warga Filipina terpaksa jalan kaki imbas krisis BBM. (Foto: net) Perbesar

Warga Filipina terpaksa jalan kaki imbas krisis BBM. (Foto: net)

RiauKepri.com, MANILA – KRISIS Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Filipina kini tak hanya berdampak pada kenaikan harga energi, tetapi juga melumpuhkan aktivitas transportasi di sejumlah wilayah, terutama di ibu kota Manila.

Fenomena jalanan yang biasanya padat kendaraan kini berubah drastis. Lalu lintas tampak lengang, sementara ribuan warga memilih berjalan kaki menuju tempat kerja akibat sulitnya mendapatkan BBM.

Kondisi ini dipicu oleh terganggunya pasokan energi global, khususnya setelah konflik di Timur Tengah yang berimbas pada penutupan jalur distribusi minyak dunia. Filipina yang selama ini mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya langsung merasakan dampak signifikan.

Pemerintah Filipina bahkan telah menetapkan status darurat energi nasional sejak 24 Maret 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah cadangan bahan bakar dilaporkan berada di level kritis dan harga BBM melonjak tajam hingga dua kali lipat di dalam negeri.

Akibatnya, sektor transportasi menjadi yang paling terpukul. Banyak kendaraan pribadi dan angkutan umum berhenti beroperasi karena keterbatasan pasokan bahan bakar. Situasi ini memaksa masyarakat beradaptasi dengan cara yang tidak biasa, yakni berjalan kaki untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Di sejumlah ruas jalan utama, pemandangan didominasi pejalan kaki, menggantikan hiruk-pikuk kendaraan bermotor. Bahkan, kondisi ini disebut-sebut sebagai perubahan drastis dalam mobilitas masyarakat urban di Filipina.

Selain berdampak pada mobilitas, krisis ini juga menekan sektor ekonomi. Distribusi barang terganggu, biaya logistik meningkat, dan aktivitas bisnis ikut melambat.

Meski demikian, di tengah situasi sulit, muncul fenomena sosial baru. Sebagian pihak menilai kebiasaan berjalan kaki ini berpotensi membawa dampak positif, seperti peningkatan kesehatan masyarakat dan pengurangan emisi kendaraan, meski sifatnya sementara.

Di sisi lain, Filipina tetap berkomitmen menjalankan agenda internasional, termasuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Hal ini menunjukkan upaya pemerintah menjaga stabilitas dan kepercayaan global di tengah krisis energi yang sedang berlangsung.

Krisis BBM Filipina menjadi gambaran nyata betapa rentannya negara yang bergantung pada impor energi terhadap gejolak geopolitik global. Situasi ini sekaligus menjadi peringatan bagi negara lain untuk memperkuat ketahanan energi di masa depan. (RK6/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

GA CAJ 2026 Digelar 27–30 April, Bahas Suksesi Kepemimpinan hingga Era Jurnalisme AI

27 April 2026 - 15:09 WIB

Kronologis, Motif, dan Pelaku Penembakan Gedung Putih

26 April 2026 - 17:02 WIB

Penembak Gedung Putih Dibekuk, Apa Motifnya

26 April 2026 - 11:51 WIB

Diterima di 13 Kampus Luar Negeri, Siswa MAN 2 Pekanbaru Kejar Beasiswa Demi Ringankan Orangtua

7 April 2026 - 21:01 WIB

Irak “Main Dua Kaki”: Restui Milisi Pro-Iran Hadapi AS di Tengah Tekanan Konflik Regional

26 Maret 2026 - 20:25 WIB

Trending di Internasional