SYAHDAN, tersebutlah kisah di negeri Melayu yang penuh adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Setelah setahun tanggal keramat 17 Agustus 1945, seorang raja yang arif lagi budiman, yakni Sultan Syarif Kasim II, dengan hati yang lapang seluas Selat Malaka, menyatakan Kerajaan Siak bersatu dengan Republik Indonesia.
Bukan kaleng-kaleng keputusan, Wak. Ini bukan macam orang setuju di grup WhatsApp, tapi esok paginya tarik balik sebab kuota habis.
Maka sebelum bersatu itu, baginda pun bertitah meminta dukungan dari segenap hulubalang dan pemimpin wilayah, termasuklah Onderdistrik Merbau. Di situlah cerita jadi berempah, bersantan, bukan sekadar tanda tangan pakai pena, tapi cap jempol pakai darah!
Darah, Wak! Bukan tinta printer yang kadang macet sebab refill murahan. Kalau kita tengok sekarang, cap jempol itu sudah berpindah rupa. Dulu cap jempol pakai darah tanda setia, sekarang cap jempol pakai layar sentuh tanda setuju syarat dan ketentuan, yang tak pernah dibaca pula tu.
Dulu orang Merbau berani tumpah darah demi negeri, sekarang kita tumpah emosi di kolom komentar sebab sinyal hilang satu garis. Aduhai.
Padahal kalau ditelik-telik, orang Merbau itu bukan main tinggi jiwa patriotismenya. Harta benda dilepas, nyawa pun tak dikira. Kalau lah zaman itu ada istilah “cashback,” barangkali mereka tetap tak ambil, sebab yang mereka kejar bukan untung dunia, tapi marwah bangsa.
Sekarang kita tengok pula di belahan dunia lain. Di negeri jauh, di media sosial dihiasi rakyat Kashmir berbondong-bondong menyumbangkan hartanya demi perjuangan Iran. Yang disumbang bukan saja emas, uang, dan barang berharga lainnya, sampai kuali dan periuk belanga pun mereka sumbang. Alamat tak masak asam pedas lomik orang rumah. Heee…acah saja.
Semangatnya itu, Wak, bukan main berkobar. Walau kadang kita tengok sambil geleng kepala, dalam hati terdetik juga: “Kita ni macam mana pula?”
Ingat…ingat…! Jangan pula kita salah faham. Patriotisme hari ini bukan lagi soal angkat senjata atau cap jempol darah. Zaman sudah berubah. Sekarang ini, siapa yang jujur bekerja, siapa yang tak makan hak orang, itu sudah termasuk pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan kadang lebih susah, sebab godaan bukan datang dari penjajah, tapi dari peluang dan dapur rumah.
Lucunya kampung kita ini, Wak. Orang yang melapor perbuatan korupsi malah dicakap pengkhianat. Padahal kalau ikut logika adat: yang benar ditegakkan, yang salah diperbaiki.
Yang melapor itu, walau mungkin ada udang di balik batu, tetap juga ada sikit lah bara patriotisme dalam dadanya. Sementara yang menyalah guna kuasa, itu jelas-jelas mencoreng arang ke muka negeri.
Dalam tunjuk ajar Melayu, ada disebutkan, “Kalau hendak menjadi orang, tahu malu dan tahu diri lah.” Tapi sekarang, malu itu macam barang antik, ada tapi disimpan, tak dipakai. Yang dipakai malah muka tebal macam bibir tempayan garam.
Intinya Wak, kalau tak mampu jadi patriot macam orang Merbau dulu yang berani cap jempol darah, jangan pula jadi beban negeri. Kalau tak bisa menolong orang sekampung, tolonglah jangan menyusahkan. Kalau tak pandai berkata baik, eloklah diam. Sebab kadang diam itu lebih beradat daripada banyak cakap tapi tak berisi. Sehingga nanti disebut orang kampung: beso kelebo.
Akhir kata, marilah kita belajar dari Merbau, bukan sekadar kisahnya, tapi semangatnya. Jangan sampai nanti anak cucu kita hanya kenal patriotisme dari arsip yang tersusun rapi, sementara kita sibuk jadi komentator tak bergaji di negeri sendiri. Heee…begitulah Wak.
Dulu darah ditumpahkan untuk negeri, sekarang kuota ditumpahkan untuk berdebat. Entah mana lebih panas, medan perang atau kolom komentar.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








