RiauKepri.com, PEKANBARU- Harapan dua bocah yatim di Pekanbaru yang sempat pupus jelang Lebaran, perlahan kembali pulih. Tersangka pelaku penjambretan amplop santunan milik mereka akhirnya berhasil diringkus oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pekanbaru.
Kepala Satreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, Senin (6/4/2026), mengungkapkan pelaku berinisial MT (23) ditangkap pada Kamis (2/4/2026) setelah sempat melarikan diri ke Sumatera Barat.
“Tersangka kami tangkap saat bersembunyi di wilayah Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat,” ujarnya.
Penangkapan itu menjadi titik terang dari peristiwa yang sempat menyisakan duka mendalam bagi Alim (10) dan adiknya Rama (8). Dua bersaudara ini sebelumnya menjadi korban jambret saat berjalan kaki pulang usai menerima santunan di Masjid Al Ikhlas, Kecamatan Bukitraya.
Di tangan mereka saat itu, terselip harapan sederhana, uang santunan Rp1,5 juta yang ingin dibelikan baju Lebaran dan sebagian diberikan kepada sang ibu. Namun harapan itu direnggut seketika.
Tersangka pelaku yang datang dengan sepeda motor sempat menyapa korban, bahkan bertanya asal amplop tersebut. Tak lama, ia berbalik arah dan merampas amplop dari tangan Alim sebelum melarikan diri. Aksi itu terekam kamera CCTV dan memperlihatkan ketidakberdayaan kedua anak tersebut.
Tangis pecah di pinggir jalan, bukan sekadar kehilangan uang, tapi juga impian kecil menyambut Hari Raya.
Berbekal rekaman CCTV dan keterangan korban, polisi akhirnya melacak keberadaan pelaku hingga ke luar provinsi.
Kini, MT telah diamankan di Polresta Pekanbaru dan masih menjalani pemeriksaan untuk mendalami motif aksinya.
Di balik peristiwa pahit itu, muncul pula kepedulian yang menghangatkan. Seorang anggota DPRD Kota Pekanbaru, Zulkardi, tergerak menjemput kedua anak tersebut bersama ibunya.
Ia membawa mereka ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju Lebaran, mengajak berbuka puasa bersama, serta memberikan bantuan sembako. Bahkan, uang yang sempat dirampas pelaku juga diganti.
Bagi Alim dan Rama, luka itu mungkin tak sepenuhnya hilang. Namun, uluran tangan dari banyak pihak menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada kebaikan yang menjaga harapan tetap menyala. (RK1)







